sign up SIGN UP

Seberapa Ampuh Vaksin Sinovac Lawan Delta, Varian Virus Corona Paling Berbahaya? Ini Kata Ahli

Fina Prichilia | Jumat, 17 Sep 2021 18:00 WIB
Seberapa Ampuh Vaksin Sinovac Lawan Delta, Varian Virus Corona Paling Berbahaya? Ini Kata Ahli
caption
Jakarta -

Varian baru Corona bermunculan dan yang terbaru adalah varian Mu dan varian C.1.2. Varian ini tengah diwaspadai di berbagai negara, pasalnya konon dikhawatirkan bisa kebal terhadap vaksin covid-19, Beauties.

Sampai saat ini yang disebut paling berbahaya adalah varian Delta. Varian ini juga diketahui mendominasi di dunia, juga Indonesia.

Tapi, benarkah adanya mutasi virus ini bisa menurunkan kemanjuran atau efikasi vaksin?

Tampilan SARS-CoV-2Tampilan SARS-CoV-2/ Foto: Tangkapan layar tampilan SARS-CoV-2

Menurut Prof Tjandra Yoga Aditama, eks Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Asia Tenggara, efikasi vaksin memang bisa menurun sebab ada mutasi atau varian baru, Beauties. Tetapi bukan berarti masyarakat jadi abai untuk divaksin.

"Pada dasarnya, efikasi vaksin memang turun karena ada mutasi atau varian baru. Tetapi, sejauh ini, walaupun turun masih bisa dipakai untuk menangani varian-varian yang ada sampai saat ini," jelas Prof Tjandra dalam webinar yang dikutip dari ANTARA, Kamis (16/9), via detikHealth.

"Terutama mencegah penyakit berat dan kematian," lanjutnya.

Ya Beauties, dengan divaksin akan melindungi diri dari dampak berat suatu penyakit. Dengan divaksin, dinilai membuat tubuh lebih menunjukkan gejala ringan dan cepat sembuh saat terpapar penyakit.

Vaksin Sinovac Masih Mampu Atasi Varian Delta

Antusiasme warga untuk mendapatkan vaksin COVID-19 di Trans Studio Mall Cibubur, Depok, Jawa Barat, terpantau sangat tinggi. Beginilah potret saat dari proses antre hingga vaksinasi.Antusiasme warga untuk mendapatkan vaksin COVID-19 di Trans Studio Mall Cibubur, Depok, Jawa Barat, terpantau sangat tinggi. Beginilah potret saat dari proses antre hingga vaksinasi./ Foto: Agung Pambudhy

Prof Tjandra mengungkap bahwa dua dosis vaksin Sinovac, punya efikasi 59 persen terhadap varian Delta, 70,2 persen kasus covid-19 sedang dan 100 persen untuk kasus parah.

Data tersebut diperoleh dari studi di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Guangzhou.

Jika nanti efikasi dari vaksin corona turun lagi, menurut Prof Tjandra bisa dilakukan modifikasi vaksin, alias bukan membuat vaksin baru lagi. Pasalnya, kalau membuat vaksin baru lagi maka memakan waktu yang sangat panjang.

"Kalau nanti turun lagi, maka bisa dilakukan modifikasi. Jadi tidak perlu bikin vaksin baru lagi. Untuk sekarang masih belum (turun)."

"Jangan berpikir nanti kalau turun lagi kita harus memulai lagi, prosesnya menunggu setahun lagi baru ada vaksin. Modifikasi, cukup cepat enam sampai delapan pekan," sambungnya.


Our Sister Site

mommyasia.id