Sudah Pakai Kontrasepsi Tapi Masih 'Kebobolan', Dokter Spesialis Kebidanan Katakan Hal Ini...

Rini Apriliani | Beautynesia
Minggu, 26 Sep 2021 15:30 WIB
Foto: Hari Kontrasepsi Sedunia/Freepik.com/wayhomestudio

Kontrasepsi menjadi metode atau alat terbaik untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan. Penggunaan kontrasepsi ini akan mencegah sel telur dan sel sperma yang menjadi penyebab kehamilan untuk bertemu dan bergabung.

Bagi pasangan yang belum berencana memiliki buah hati atau sudah tidak ingin menambah anak, penggunaan kontrasepsi ini baik untuk dilakukan. Namun terkadang, walau sudah terencana dengan penggunaan kontrasepsi, kebobolan atau kehamilan yang tidak direncanakan masih sering saja terjadi. 

Hari Kontrasepsi Sedunia/ Foto: Freepik.com/wayhomestudio

Dokter Spesialis Kebidanan Kandungan, dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, FFAG mengungkapkan mengapa kehamilan yang tidak direncanakan masih sering terjadi.

Dalam bincang bersama Tim Beautynesia, ia mengatakan jika masih ada angka kegagalan sekitar 1% atau kurang dalam penggunaan kontrasepsi yang kini beredar di masyarakat.

"Segala sesuatu itu pasti ada angka kegagalan. Meskipun sekecil-kecilnya angka kegagalan itu 1% atau kurang dari 1% pada kontrasepsi mantap atau sterilisasi, tapi tetap kita tidak bisa mengklaim ataupun yang kita buat, buatan manusia itu 100% guarantee. Kita nggak bisa, pasti ada angka kegagalan itu," ujar dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG, FFAG, Jumat (24/9).

Ia pun menambahkan, dari apapun metode kontrasepsi yang dilakukan, hal tersebut pasti saja akan menyumbang angka kegagalan dan menyebabkan terjadinya kehamilan.

"Dari setiap metode kontrasepsi, baik itu hormon atau non hormonal, pasti menyumbang angka kegagalan setidaknya 1% dan yang sekecil-kecilnya kurang dari 1% atau 0.5%. Tapi kalau misalnya kita melihat suatu data penelitian, angka itu sangat kecil. Jadi kemungkinan kecil terjadinya kegagalan itu tinggi apabila complain atau kepatuhan dari penggunanya itu baik," katanya.

Kehamilan/ Foto: Freepik.com/tirachardz

Di akhir perbincangan, dr. Dinda pun kembali menyinggung soal kepatuhan penggunanya. Jika pengguna kontrasepsi tersebut tidak patuh pada aturan yang telah ditetapkan sebelumnya, maka kemungkinan terjadinya kehamilan sangat besar.

"Seperti contohnya pada pengguna pil, pengguna suntik kontrasepsi, itukan harus patuh ya. Tiap hari harus minum atau suntik tuh harus datang ke dokter per tiga bulan gitu. Itu harus patuh, kamu misalkan tidak patuh ya angka kegagalannya akan lebih dari yang ditetapkan. Lebih dari 1% atau lebih tinggi pastinya. Apalagi kalau tidak pakai kondom, itu sudah acak-acakan," tutupnya.

_______________

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Loading ...