Waspada! 6 Tren Kesehatan Populer Ini Bisa Berbahaya bagi Tubuh Perempuan

Retno Anggraini | Beautynesia
Senin, 09 Feb 2026 07:00 WIB
2. Kardio Berlebihan
Kardio berlebih bisa memicu stres pada tubuh perempuan/Foto: Freepik.com/senivpetro

Hampir setiap hari kita melihat tren kesehatan baru muncul di media sosial, menjanjikan proses detoks yang cepat atau penurunan berat badan yang kilat. Namun, tidak semua tren kesehatan tersebut cocok untuk tubuh perempuan karena tubuh kita membutuhkan perlakuan yang berbeda.

Dari kardio berlebih hingga konsumsi cuka apel tanpa aturan, beberapa tren kesehatan populer ini justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan jangka panjang. Melansir Your Tango, berikut 6 tren kesehatan yang sebaiknya ditinggalkan demi menjaga keseimbangan hormon dan sistem metabolisme tubuh.

1. Puasa Intermiten

Puasa intermiten yang tidak disesuaikan dengan kebutuhan tubuh perempuan dapat mengganggu keseimbangan hormon dan lelah berkepanjangan.
Puasa intermiten dan dampaknya pada hormon perempuan/Foto: Freepik.com/Freepik

Puasa intermiten sering dipromosikan sebagai cara cepat untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki metabolisme. Banyak perempuan mencoba pola makan ini dengan harapan hasil instan tanpa mempertimbangkan kondisi tubuh masing-masing.

Puasa intermiten yang dilakukan terlalu ketat dapat memicu peningkatan hormon stres, gangguan siklus menstruasi, serta rasa lelah berkepanjangan. Alih-alih memaksakan jendela puasa tertentu, tubuh kita justru membutuhkan pola makan yang lebih stabil dan konsisten agar keseimbangan hormon tetap terjaga.

2. Kardio Berlebihan

Kardio berlebih bisa memicu stres pada tubuh perempuan/Foto: Freepik.com/senivpetro

Kardio kerap dianggap sebagai latihan wajib bagi perempuan yang ingin menurunkan berat badan. Tidak jarang, kita merasa harus berlari, bersepeda, atau mengikuti kelas kardio intens hampir setiap hari.

Kardio ekstrem dapat meningkatkan kadar hormon stres dan memperlambat proses pembakaran energi dalam jangka panjang. Tanpa diimbangi latihan kekuatan dan waktu istirahat yang cukup, tubuh justru lebih mudah lelah dan rentan mengalami gangguan metabolisme.

3. Menghitung Kalori

Terlalu fokus menghitung kalori dapat membuat perempuan mengabaikan kualitas nutrisi dan sinyal alami tubuh.
Menghitung kalori dapat membuat perempuan mengabaikan kualitas nutrisi/Foto: Freepik.com/rawpixel.com

Menghitung kalori sering dijadikan tolok ukur utama dalam menjalani pola hidup sehat. Kita jadi sibuk mengejar angka tertentu tanpa benar-benar memahami kebutuhan nutrisi tubuh. Akibatnya, makanan dinilai hanya dari jumlah kalorinya, bukan dari manfaat gizinya.

Secara biologis, perempuan memiliki persentase lemak tubuh yang lebih tinggi. Artinya, tubuh kita membutuhkan lebih banyak energi untuk melawan stres. Ketika kita memangkas kalori secara drastis tanpa menggantinya dengan asupan yang lebih sehat dan bersih, ini bisa mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan membuat tubuh terjebak dalam mode kelaparan.

4. Menghilangkan Grup Makanan Tertentu

Menghilangkan grup makanan tertentu seperti karbohidrat dapat berdampak serius pada energi, hormon, dan metabolisme tubuh perempuan.
Menghilangkan grup makanan tertentu membuat tubuh kekurangan nutrisi/Foto: Freepik.com/chandlervid85

Dalam upaya hidup lebih sehat atau menurunkan berat badan, tidak sedikit perempuan yang sengaja menghilangkan satu grup makanan tertentu. Karbohidrat, misalnya, dipangkas habis karena dicap sebagai penyebab kenaikan berat badan. Padahal, setiap grup makanan memiliki fungsi penting bagi tubuh.

Kebiasaan menghilangkan grup makanan tertentu justru berisiko membuat tubuh kekurangan nutrisi esensial. Menghilangkan salah satu di antaranya tanpa panduan ahli hanya akan membuat tubuh kekurangan nutrisi dan merasa lelah berkepanjangan.

5. Detoks Ekstrem

Detoks ekstrem berisiko menyebabkan kekurangan nutrisi/Foto: Freepik.com/Freepik

Banyak yang mengira melakukan detoks ekstrem adalah cara instan untuk hidup sehat. Faktanya, tren kesehatan ini justru memangkas kalori dan nutrisi esensial yang sangat dibutuhkan tubuh. Alih-alih merasa segar, melakukan detoks ekstrem dalam jangka panjang justru berisiko menyebabkan penyusutan massa otot, rasa lelah yang ekstrem, hingga gangguan keseimbangan hormon.

Tubuh kita sudah punya sistem detoks alami yang sangat canggih melalui hati dan ginjal. Melakukan detoks ekstrem tidak membantu proses tersebut, melainkan justru memberikan tekanan ekstra bagi tubuh.

6. Penggunaan Cuka Apel Berlebih

Konsumsi cuka apel secara berlebihan dapat mengganggu pencernaan dan kesehatan gigi perempuan.
Penggunaan cuka apel berlebih bisa memicu masalah pencernaan//Foto: Freepik.com/rawpixel.com

Cuka apel sering dianggap sebagai solusi alami untuk menurunkan berat badan dan menyeimbangkan gula darah. Banyak perempuan mengonsumsinya setiap hari dalam jumlah besar, bahkan tanpa pengenceran yang tepat karena tergiur klaim manfaat instan.

Meski punya segudang manfaat, mengonsumsi cuka apel dalam kondisi murni atau tanpa dilarutkan ternyata menyimpan risiko yang tidak bisa disepelekan. Sifat asamnya yang sangat tinggi berpotensi mengikis lapisan enamel gigi dan menyebabkan iritasi pada kerongkongan, hingga memicu masalah pencernaan.

Tren kesehatan yang populer di media sosial tidak selalu aman untuk semua orang, terutama untuk tubuh perempuan. Setiap tubuh memiliki kebutuhan yang berbeda dan tidak bisa disamaratakan. Jadi, yuk mulai lebih kritis dan bijak dalam memilih pola hidup sehat!

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE