sign up SIGN UP

5 Alasan Utama Mengapa Banyak Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh Kekerasan

Cynthia Claudia | Jumat, 12 Nov 2021 21:30 WIB
5 Alasan Utama Mengapa Banyak Perempuan Bertahan di Rumah Tangga yang Penuh Kekerasan
caption

Tidak dapat dipungkiri bahwa kasus kekerasan perempuan merupakan salah satu kasus sering terjadi di Indonesia.

Melansir dari Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, terjadi peningkatan pada Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT) selama masa pandemi Covid-19. Bentuk KDRTnya pun beragam, mulai dari kekerasan fisik, seksual, psikis, hingga ekonomi. 

Salah satu alasan mengapa kasus ini masih sering terjadi adalah karena para perempuan dihantui keraguan untuk membuka suara. Mengapa mereka ragu melakukan hal itu?

Simak 5 alasan utama mengapa para perempuan bertahan di rumah tangga yang penuh kekerasan di bawah ini, Beauties!

1. Takut Ditinggal Sebatang Kara

kekerasan
kekerasan/ Foto: Pexels.com/ engin aykurt

Alasan perempuan bertahan yang pertama adalah takut ditinggal sendirian. Perempuan yang takut ditinggalkan rela melakukan apa pun demi bersama pendampingnya, meskipun mereka merupakan pelaku kekerasan. 

Meskipun perempuan takut ditinggalkan, namun ini tidak sepatutnya dijadikan sebuah alasan untuk bertahan dengan kekerasan yang dilakukan dalam rumah tangga!

2. Memprioritaskan Kepentingan Anak

kekerasan
kekerasan/ Foto: Pexels.com/august de ricelieu

Alasan perempuan bertahan pada kekerasan lainnya adalah demi kepentingan anak. Merupakan hal yang wajar ketika mereka mengorbankan diri sendiri untuk memprioritaskan kepentingan anak.

Ketika sebagai pasutri mereka harus berpisah, maka ini menunjukkan bahwa anaknya akan kehilangan sosok seorang ayah. Maka, para perempuan pun berusaha menghindari kemungkinan ini sehingga mereka terpaksa bertahan di rumah tangga yang penuh kekerasan. 

3. Yakin Bahwa Pasangannya Bisa Berubah

kekerasan
kekerasan/ Foto: Pexels.com/nathan cowley

Tidak dapat dipungkiri bahwa para perempuan selalu menaruh harapan pada pasangannya bahwa mereka dapat berubah. Karena pelaku kekerasan pada dasarnya sering meminta maaf dan mengaku akan berubah, namun yang sesungguhnya ini tidak terjadi. 

Mereka kerap memanipulasi korbannya hingga mereka bisa memaafkan dirinya selaku yang melakukan kekerasan. Berhati-hatilah jika kalian menyadari perilaku pasangan kalian yang seperti ini, Beauties!

4. Takut Terhadap Pandangan Orang Lain

kekerasan
kekerasan/ Foto: Pexels.com/ just name

Perempuan yang merupakan korban kekerasan dihantui ketakutan atas penghakiman orang lain terhadap dirinya. Ia pastinya akan menerima banyak komentar, kritikan, dan pertanyaan dari orang-orang di sekelilingnya terkait kondisi rumah tangganya, terutama dari keluarga dan teman terdekat. 

Maka, untuk menghindari sederetan komentar, kritikan, dan pertanyaan tersebut, maka para perempuan pun terpaksa bertahan di lingkungan rumah tangga mereka yang penuh dengan kekerasan. Apa yang sebaiknya harus mereka lakukan?

5. Berpikir Bahwa Perlakuannya Wajar

kekerasan
kekerasan/ Foto: Pexels.com

Alasan perempuan bertahan yang terakhir adalah mereka kerap merasa bahwa kekerasan yang diterima merupakan hal yang wajar karena kesalahan yang telah dilakukan. Para perempuan juga cenderung berpikir bahwa suami mempunyai hak untuk memukul istrinya ketika istrinya melakukan kesalahan. Namun, penting untuk menyadari bahwa kekerasan yang dilakukan juga ada batasnya, Beauties. 

_______________

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)

Our Sister Site

mommyasia.id