sign up SIGN UP

5 Fashion Show Paling Kontroversial di Milan Fashion Week! Dari yang Dianggap Terlalu Vulgar Sampai Rasis

Rayoga Firdaus | Selasa, 21 Sep 2021 20:30 WIB
5 Fashion Show Paling Kontroversial di Milan Fashion Week! Dari yang Dianggap Terlalu Vulgar Sampai Rasis
caption
Jakarta -

Salah satu tujuan dari sebuah fashion show adalah untuk meningkatkan publisitas label bersangkutan, namun bagaimana jika malah berujung kontroversi? Hal tersebut juga ternyata cukup sering terjadi di Milan Fashion Week.

Beberapa rumah mode kenamaan yang berbasis di kota tersebut pernah dikritik habis-habisan karena tema koleksi dan peragaannya yang kelewat sensitif. Dari mulai dinilai terlalu vulgar hingga rasisme. Kreativitas tanpa batas acapkali menjadi pembelaan, namun tak sedikit pula yang akhirnya meminta maaf atas sikap ketidak pekaannya. Berikut sejumlah fashion show di Milan Fashion Week yang sempat menjadi kontroversi.

Versace Fall 1992

Versace Fall 1992Versace Fall 1992/ Foto: Conde Nast Archive/Vogue


Seksi selalu menjadi kata yang digunakan publik kala mendeskripsikan karakter busana dari rumah mode Versace. Sang pendiri, mendiang Gianni Versace memang berhasil mendulang sukses sekaligus memberi warna baru pada dunia fashion berkat gaun berpotongan seductive dengan detail mewah. Namun kontroversi terjadi ketika ia mempresentasikan koleksi musim gugur tahun 1992. Ia mendaulat koleksi tersebut sebagai 'Miss S&M' (sadism & masochism).

Publik terkejut bagaimana mungkin sebuah rumah mode bisa membuat koleksi terinspirasi sesuatu yang vulgar dan kelewat tabu untuk dibicarakan. Pada koleksi tersebut selain menawarkan setelan rok yang chic, Versace juga menghadirkan rangkaian gaun hitam detail harness dan embellishment. Suzy Menkes, salah satu jurnalis fashion paling disegani, mengkritik Versace menjadikan perempuan sebagai objek seksual semata.

Dolce & Gabbana Spring/Summer 2013

Dolce & Gabbana Spring/Summer 2013Dolce & Gabbana Spring/Summer 2013/ Foto: livingly.com/IMAXtree


Kontroversi telah identik dengan Dolce & Gabbana. Selain karena ulah perkataan salah satu desainernya Stefano Gabbana, dan konsep video promosi fashion show mereka di China. Alasan lain datang dari peragaan koleksi musim semi dan panas 2013. Pada rancangan yang dipenuhi pulasan motif tersebut, Dolce & Gabbana menampilkan aksesori yang sarat akan rasisme lewat anting yang dengan desain wajah ras kulit hitam.

Gucci Fall/Winter 2018

Gucci Fall/Winter 2018Gucci Fall/Winter 2018/ Foto: livingly.com/IMAXtree


Aksi teatrikal rumah mode Gucci pada fashion show koleksi fall/winter 2018 berujung kontroversi. Penyebabnya adalah dua dari desain aksesorinya yang bersinggungan dengan sejarah rasisme dan budaya. Pertama adalah sebuah penutup kepala dengan pulasan warna hitam dan bibir merah yang dinilai mereferensikan blackface. Dan kedua adalah turban di mana Gucci mendapat kecaman dari para pemeluk Sikh karena dianggap mengeksploitasi aksesori yang menjadi identitas budaya mereka.

Gucci Fall/Winter 2018Gucci Fall/Winter 2018/ Foto: livingly.com/IMAXtree

Philipp Plein Fall/Winter 2020

Philipp Plein Fall/Winter 2020Philipp Plein Fall/Winter 2020/ Foto: livingly.com/IMAXtree


Desainer Philipp Plein mendapat kecaman keras atas konsep fashion show koleksi musim gugur dan dingin tahun 2020 yang diadakannya. Pada peragaan yang diadakan bulan Februari 2020, tersebut Plein mendedikasikan acaranya pada mendiang atlet basket Kobe Bryant yang meninggal sebulan sebelumnya. Satu hal yang mengundang kontroversi adalah keputusan Plein untuk memajang sebuah helikopter di runway. Ini tentu mengundang reaksi keras. Karena sang atlet meninggal dalam kecelakaan helikopter bersama salah seorang putrinya, Gianna. Plein dituduh memanfaatkan momen duka keluarga untuk menaikkan publisitasnya. Plein membela diri bahwa konsep tersebut telah ia rancang dari November 2019.

Gucci Spring/Summer 2020

Gucci Spring/Summer 2020Gucci Spring/Summer 2020/ Foto: Dezeen


Protes mewarnai fashion show Gucci spring/summer 2020. Adalah Ayesha Tan Jones, salah satu model yang berpartisipasi, menyuarakan aspirasinya atas tema dari rancangan rumah mode pimpinan Alessandro Michele tersebut. Ketika para model berdiri di atas conveyor memakai busana berupa straitjacket, Ayesha mengangkat tangannya di hadapan fotografer di mana tertulis "Mental health is not fashion". Ia mengkritik bahwa sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan mental seseorang tidak perlu dikomersialisasikan. Gucci dalam show notes yang ditulis pada unggahannya di Instagram, menuliskan bahwa straitjacket tersebut hadir sebagai sebuah simbol ekstrem akan bagaimana masyarakat memiliki kontrol penuh terhadap sebuah busana.

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(raf/raf)

Our Sister Site

mommyasia.id