sign up SIGN UP

LIFE

Mengenal Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 yang Mengancam Nyawa

Munjidah Hamsa | Rabu, 09 Sep 2020 12:00 WIB
Mengenal Happy Hypoxia, Gejala COVID-19 yang Mengancam Nyawa
caption
Jakarta -

Beberapa gejala yang muncul pada pasien COVID-19 umumnya adalah adanya gangguan pernapasan yang berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Gangguan pernapasan yang dialami ini juga dibarengi dengan berkurangnya saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam darah yang kurang.

Kurangnya kadar oksigen dalam tubuh ini sangat berbahaya jika terjadi dalam waktu yang lama dan tidak segera ditangani. Kurangnya kadar oksigen dalam darah akan menyebabkan kerusakan organ hingga berhenti bekerja dan mengancam keberlangsungan hidup pasien.

gejala umum COVID-19 ditandai dengan sesak napas dan hypoxia.
Gejala COVID-19/ sumber: freepik.com

Kekurangan kadar oksigen dalam darah atau yang disebut dengan hypoxia memiliki gejala tertentu. Tanda-tanda kamu mengalami hypoxia sebagai indikasi adanya gangguan pernapasan yang bisa diakibatkan oleh adanya COVID-19 dalam tubuhmu adalah sebagai berikut:


  • Takipnea atau peningkatan laju pernapasan
  • Sesak napas (shortness of breath / SOB)
  • Bunyi napas terdengar menjadi bising, mengi, atau berderak
  • Menjadi gelisah atau cemas
  • Menurunnya tingkat saturasi oksigen menjadi di bawah batas normal 92%
  • Kesulitan bicara dalam kalimat panjang atau lengkap dan perlu mengambil napas di antara kalimat
  • Warna kulit menjadi kebiruan atau abu-abu karena hypoxia yang telah berlangsung lama
  • Kehilangan kesadaran jika hypoxia telah memburuk
Gejala happy hypoxia rawan tidak terdeteksi dan lebih berisiko mengancam nyawa pasien.
Gejala happy hypoxia mengancam/ sumber: freepik.com

Namun, sekarang ini telah terdeteksi gejala baru yang dialami oleh beberapa pasien COVID-19 yaitu happy hypoxia. Gejala ini menyebabkan kadar oksigen dalam darah turun drastis di bawah kadar normal yaitu 92%. Akan tetapi, pasien dengan gejala happy hypoxia tidak mengalami sesak napas, mengi, atau gejala lain yang umum ditemukan pada hypoxia biasa. Pasien dengan gejala happy hypoxia tetap bisa berkegiatan seperti biasa namun dengan kadar oksigen tubuh yang sangat rendah.

Gejala happy hypoxia sangatlah berbahaya karena dengan rendahnya kadar oksigen tubuh, akan ada risiko kerusakan organ yang bisa mengancam keberlangsungan hidup pasien. Jika kerusakan organ telah berlangsung, maka pemulihan dari COVID-19 akan berlangsung dengan risiko lebih tinggi. Bahkan jika happy hypoxia telat terdeteksi, pasien COVID-19 bisa saja langsung kolaps tanpa ada gejala apapun sebelumnya.

Deteksi hypoxia pada tubuh bisa dengan menggunakan pulse oxymeter atau oximeter.
Pulse oxymeter atau oximeter/ sumber: freepik.com

Oleh karena itu, untuk langkah pencegahan dan tahu bahwa saturasi oksigen atau kadar oksigen dalam tubuhmu masih dalam batas aman, yaitu 98%-hingga 92%, kamu bisa lakukan deteksi dengan alat bernama Pulse Oxymeter atau Oximeter yang bisa dengan mudah kamu temukan di toko alat kesehatan dan e-commerce. Ketika menggunakan oximeter dan ternyata hasil saturasi oksigen pada tubuhmu ada di bawah 92%, segeralah untuk memeriksakan diri ke tenaga medis terdekat.

Tetap terapkan protokol kesehatan dan lakukan social distancing atau physical distancing di tempat umum.
Social distancing dan physical distancing/ sumber: freepik.com

Pastikan kamu, keluarga atau orang terdekatmu untuk selalu menjaga kebersihan dan sebisa mungkin tetaplah di dalam rumah. Pastikan juga untuk menerapkan protokol kesehatan sesuai saran WHO, dan melakukan social distancing dan physical distancing ketika harus keluar rumah. Dengan lebih cermat menjaga diri sendiri, kamu juga melindungi orang sekitarmu dari paparan COVID-19 yang sangat cepat dan berisiko tinggi penyebarannya. Stay safe, stay home, and stay healthy, Ladies!

(arm2/arm2)

Our Sister Site

mommyasia.id