sign up SIGN UP

LIFE

'Toxic Positivity' Membahayakan Kesehatan Mental, Kenapa?

Intan Dwi | Kamis, 19 Nov 2020 21:00 WIB
'Toxic Positivity' Membahayakan Kesehatan Mental, Kenapa?
caption

Kalimat “Semua pasti akan baik-baik saja, ada banyak orang yang memiliki masalah lebih berat. Lihat sisi baiknya,” merupakan pernyataan hyper-positif yang berfungsi untuk mengabaikan rasa sakit. Meskipun pernyataan itu memiliki maksud yang baik, tapi tanpa disadari itu bisa membahayakan kesehatan mental seseorang.

Dilansir Vogue Singapore, Mathew Baker, co-founder of The Depression Project, mendeskripsikan toxic positivity sebagai, “generalisasi berlebihan yang tidak tepat dari keadaan bahagia atau gembira pada situasi yang menyusahkan dan menyakitkan.” Misalnya, memberi tahu seseorang yang baru saja bercerai untuk ‘tetap semangat’ atau saat seseorang keguguran anak keduanya dan mengatakan “bersyukur, setidaknya sudah punya anak pertama.”

Jika kamu secara perlahan menyadari fakta bahwa kamu telah mendikte orang lain untuk melihat sisi baiknya dan memaksakan pandangan kita untuk tidak memiliki perasaan negatif kepada orang lain. Maka kamu harus pertimbangkan apakah itu langkah yang yang tepat untuk dilakukan? Karena jika seseorang menerima ‘toxic positivity’ sama saja kita sedang menghukum orang lain.

Apa yang Dimaksud ‘Toxic Positivity’?

Toxic positivity merupakan ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan perilaku menjaga optimisme, harapan dan vibe yang baik, meski berada dalam situasu negatif atau stres.
Apa yang Dimaksud ‘Toxic Positivity’?/unsplash.com

Toxic positivity merupakan ungkapan yang digunakan untuk menggambarkan perilaku menjaga optimisme, harapan dan vibe yang baik, meski berada dalam situasi negatif atau stres. Kondisi yang memaksa diri sendiri untuk tetap cerah dan bahagia selama masa-masa sulit juga dapat menimbulkan dampak emosional. Bahkan bisa dibilang, sekarang kebiasaan ini menjadi populer mengingat fakta tahun 2020 sangat sulit dijalani bagi sebagian orang.

Ketika hanya membiarkan pikiran bahagia yang masuk itu akan menekan emosi negatif, seperti, kekhawatiran, kesedihan dan kecemasan. Memendam emosi itu juga tidak membuatnya hilang justru hanya menunda untuk menghadapi kebenaran. Kamu juga akan merasa sulit saat berada di sekitar orang-orang yang selalu positif, bahkan dapat merusak persahabatan kalau kamu tidak mengizinkan orang lain untuk mengungkapkan apapun kecuali hal positif.

Mengapa ‘Toxic Positivity’ Berbahaya?

Tetapi toxic positivity dengan santai akan memberikan luka atas rasa sakit yang sebenarnya, seperti meremehkan patah hati, kesedihan yang luar biasa, ketakutan, kegagalan atau kekecewaan.
Mengapa ‘Toxic Positivity’ Berbahaya?/pexels.com

Seperti yang kita tahu bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk menyakiti ataupun menyembuhkan. Tetapi toxic positivity dengan santai akan memberikan luka atas rasa sakit yang sebenarnya, seperti meremehkan patah hati, kesedihan yang luar biasa, ketakutan, kegagalan atau kekecewaan. Meskipun mungkin memiliki niat baik, api hal itu akan membuat orang lain trauma karena kurangnya empati dan perasaan dihakimi.

Memaksakan pandangan positif terhadap rasa sakit berarti mendorong seseorang untuk tetap diam tentang perjuangan mereka. Karena sebagian besar dari mereka enggak ingin dilihat sebagai penghambat, karena itu dia akan diam dan berpura-pura semuanya berjalan lancar. Dengan kata lain mereka diam, bersembunyi dan merahasiakan, mereka malu untuk mengungkapkan apa yang dirasakan. Kata-kata hyper-positif juga akan membuat seseorang merasa malu dengan kesehatan mental mereka karena menurut sebagian orang itu merupakan sikap meremehkan.

Toxic positivity juga akan membuat emosi menjadi tertekan, karena beberapa studi psikologis menunjukkan bahwa menyembunyikan atau menyangkal perasaan akan menyebabkan lebih banyak stres. Membuat mereka kesulitan untuk menghindari pikiran dan perasaan yang akhirnya membuat stres.

Toxic positivity menyulitkan seseorang untuk mengembangkan kemampuan pengaturan emosi yang baik. Kemudian hal ini berkontribusi dalam kondisi kesehatan mental seseorang, seperti gangguan kecemasan atau depresi klinis.

Bagaimana Cara Memberikan Support?

 
Memberikan kekuatan positif untuk membantu seseorang menunjukkan kesedaan kamu untuk mendengarkan mereka tanpa bersikap menghakimi.
Bagaimana Cara Memberikan Support?/pexels.com

Dari pada menyenangkan atau menutupi emosi kita, lebih baik bersikap jujur dan apa adanya saat menghadapi hari-hari baik atau buruk. Berikan ruang kepada orang-orang, hal itu untuk membiarkan diri mereka terlihat.

Memberikan kekuatan positif untuk membantu seseorang menunjukkan kesediaan kamu untuk mendengarkan mereka tanpa bersikap menghakimi. Kamu bisa mendengarkan dengan penuh empati sehingga dapat memahami dengan tepat apa yang mereka alami.

(kik/kik)

Our Sister Site

mommyasia.id