sign up SIGN UP

3 Mitos yang Marak Beredar Soal Sunat Perempuan, Benarkah Bisa Mengendalikan Nafsu Seksual?

Risma Oktaviani | Jumat, 26 Nov 2021 15:00 WIB
3 Mitos yang Marak Beredar Soal Sunat Perempuan, Benarkah Bisa Mengendalikan Nafsu Seksual?
Mitos Soal Sunat Perempuan/Foto: Freepik.com/wayhomestudio

Seperti yang kita ketahui, sunat adalah suatu praktik atau prosedur medis yang dianjurkan untuk setiap laki-laki. Namun, selain dipraktikkan pada kaum laki-laki, ternyata praktik sunat ini juga marak dilakukan pada kaum perempuan.

Dilansir dari laman Asosiasi Kesehatan Dunia atau WHO, praktik sunat perempuan atau dikenal juga dengan pemotongan/perlukaan genitalia perempuan (P2GP) atau female genital mutilation (FGM) adalah suatu praktik pengangkatan sebagian atau seluruhnya alat kelamin perempuan bagian luar, atau menyebabkan luka pada organ intim perempuan untuk alasan non-medis. FGM ini dipraktekkan di seluruh dunia dan telah memengaruhi lebih dari 200 juta perempuan maupun anak perempuan yang hidup saat ini. 

P2GP ini melanggar hak anak yang dijamin berbagai konvensi dan UU Perlindungan Anak. Selain itu, FMG telah secara internasional diakui sebagai pelanggaran hak asasi perempuan. Meskipun demikian, sejumlah mitos dan kesalahpahaman tentang FGM tetap ada, yang menyebabkan praktik FMG ini nggak benar-benar hilang. 

1. Alasan Kesehatan

Masalah kesehatan organ intim
Masalah kesehatan organ intim / freepik.com / rawpixels

Mitos pertama yang tersebar di negara-negara di mana FGM lazim yang mendorong pelestarian tradisi ini adalah untuk alasan kesehatan perempuan itu sendiri. Konon, jika perempuan nggak melakukan sunat, klitorisnya akan tumbuh, organ intim akan berbau, dan bahkan nggak bisa mempunyai anak.

Namun, ini semua nggak benar dan nggak terbukti secara ilmiah. Faktanya, risiko implikasi kesehatan fisik dan mental jangka panjang jauh lebih tinggi bagi mereka yang telah menjalani prosedur tersebut.

Termasuk ketidaknyamanan berhubungan seks, meningkatnya komplikasi persalinan, infeksi, belum lagi adanya trauma psikologis yang ditimbulkan yang dapat mengakibatkan rasa sakit seumur hidup, hingga menyebabkan kematian.

2. Alasan Agama

alasan agama
alasan agama / freepik.com / rawpixels

Keyakinan bahwa sunat perempuan bermanfaat bagi kesehatan perempuan bermula dari keyakinan agama, bahwa alat kelamin perempuan itu “kotor”, dan untuk menjadi perempuan yang utuh dan bersih, organ genital anak perempuan harus dipotong. Meskipun sering dianggap sebagai praktik keagamaan, nyatanya FGM nggak memiliki dasar agama.

KH Faqihuddin Abdul Kodir dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengatakan, hampir semua fatwa ulama di dunia telah mengharamkan praktik sunat perempuan. Selain itu, pada dasarnya nggak ada teks dalam kitab manapun yang menyatakan sunat diwajibkan bagi perempuan.

3. Menundukkan Syahwat Perempuan

kekerasan perempuan
kekerasan perempuan / freepik.com / drobotdean

P2GP dilakukan dengan memotong bagian klitoris pada organ intim perempuan. Sebab, mitos yang paling mengakar pada praktik sunat perempuan adalah kepercayaan bahwa FGM dapat menundukkan syahwat atau mengurangi dan mengendalikan nafsu seksual perempuan. Sehingga, perempuan dapat menjaga kehormatannya sampai menikah.

Namun, dunia medis dan pegiat HAM sepakat sunat perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia. WHO bahkan mendeklarasikan sunat perempuan sebagai salah satu bentuk "diskriminasi gender yang ekstrem”. Praktik membuang klitoris dianggap sebagai membuang bagian ‘maskulin’ dari tubuh dan untuk mempercantik bentuk genitalia perempuan. FGM tentunya merefleksikan ketidaksetaraan gender, kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan, dan merepresentasikan kondisi sosial budaya yang patriarki di masyarakat.

_______________

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)

Our Sister Site

mommyasia.id