sign up SIGN UP

LIFE

9 Tradisi Lebaran dari Berbagai Daerah

Hani Arifah | Senin, 03 May 2021 21:30 WIB
9 Tradisi Lebaran dari Berbagai Daerah
caption
Jakarta -

Lebaran menjadi sebuah momen yang paling ditunggu-tunggu. Momen ini sekaligus menjadi sarana berkumpul bersama keluarga besar dari berbagai kota atau daerah. Pada umumnya, lebaran atau idul fitri memiliki arti penting, yaitu kembali ke fitrah.

Namun, pada kenyataannya, setiap daerah memiliki cara atau tradisi tersendiri untuk merayakan momen ini. Tentu saja setiap tradisi memiliki makna yang berbeda-beda. Yuk, intip apa saja tradisi lebaran dari berbagai daerah!

Bedulang (Bangka Belitung)

Foto:belanga.id/Mariska Sebayang
Tradisi Bedulang di Bangka Belitung

Tradisi bedulang datang dari masyarakat Bangka di Bangka Belitung. Bedulang sendiri berasal dari kata dulang yang artinya nampan bulat berisi makanan yang ditutup dengan tudung saji. Makanan ini dimakan bersama-sama setelah bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Saat menjalankan tradisi ini, semua orang makan langsung menggunakan tangan. Sebelum makan, semua mencuci tangan dahulu diawali dari yang paling tua ke yang paling muda

Ngejot (Bali)

Foto:milenialis.id
Tradisi Ngejot di Bali

Jika masyarakat Hindu di Bali memiliki tradisi Gulungan, masyarakat Islam di Bali juga memiliki tradisi khusus yang dilakukan saat lebaran, yaitu Ngejot. Tradisi ini dilakukan dengan cara membagikan makanan ke masyarakat-masyarakat sekitar tanpa memandang agama. Bagi masyarakat Bali, tradisi ini merupakan simbol kerukunan antar warga.

Tellasan Topak (Madura)

Foto:kayou.id/istimewa
Tradisi Tellasan Topak di Madura

Tellasan Topak atau yang biasa di sebut lebaran ketupat merupakan tradisi masyarakat Madura saat lebaran. Tradisi ini dilakukan setelah melaksanakan puasa sunnah 6 hari terhitung dari hari lebaran. Tellasan Topak dilakukan dengan cara pawai dokar hias. Hal ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa syukur setelah puasa sunnah.

Grebek Syawal (Keraton Yogyakarta dan Surakarta)

Ilustrasi acara Grebek Syawal/menpan.go.id
Tradisi Grebek Syawal Surakarta dan Yogyakarta

Grebek Syawal merupakan tradisi yang dilakukan oleh Masyarakat Yogyakarta dan Surakarta. Dinamakan Grebek Syawal karena tradisi ini dilakukan di tanggal 1 Syawal. Grebek Syawal dilakukan dengan cara mengarak berbagai gunungan atau susunan makanan berbentuk kerucut dari hasil bumi masyarakat Yogyakarta dan Surakarta (Buah dan sayur). Gunungan ini sebelumnya telah didoakan oleh keraton dan dibagikan dengan cara rebutan.

Ronjok Sayak (Bengkulu)

Foto:liburmulu.com
Tradisi Tonjok Sayak di Bengkulu

Suku Serawi di Bengkulu memiliki tradisi unik saat lebaran yang disebut dengan Ronjok Sayak atau Bakar Gunung Api. Tradisi ini dilakukan saat malam takbir dengan cara menyusun batok kelapa hingga tinggi kemudian dibakar di halaman rumah masing-masing. Api dipercaya oleh Suku Serawi dapat menghubungkan mereka dengan para leluhur.

Baku Pukul Manyapu (Maluku)

Foto:sinarharapan.com
Tradisi Baku Pukul Manyapu di Madura

Masyarakat desa Malama dan Morella di Maluku memiki tradisi Baku Pukul Manyapu yang dilaksanakan pada hari ke tujuh lebaran atau 7 syawal. Sedikit berbeda dengan tradisi di daerah lainnya, Baku Pukul Manyapu (Pukul Sapu) dilakukan dengan cara saling memukul satu sama lain dengan lidi pohon enau. Kegiatan ini dilakukan oleh para pria dari perwakilan tiap desa selama 30 menit. Tradisi ini dimaksudkan untuk mengenang perjuangan melawan sejarah.

Binarundak (Sulawesi Utara)

Foto:budaya.indonesia.org
Tradisi Binarundak di Sulawesi Selatan

Berbeda dengan masyarakat Maluku yang memiliki tradisi pukul saat lebaran, masyarakat Motoboi Besar di Sulawesi utara memiliki tradisi Binarundak saat lebaran. Binarundak merupakan tradisi di mana masyarakat berkumpul untuk membuat dan memakan Nasi Haja bersama-sama di hari ketiga lebaran. Nasi Haja terbuat dari beras ketan, jahe, dan santan dibungkus dengan daun pisang dan bambu yang kemudian dibakar. Tradisi ini dilakukan sebagai wujud syukur masyarakat Sulawesi Utara.

Perang Topat (Lombok)

Foto:dok. Pemkab. Lombok Barat
Tradisi Perang Topat di Lombok

6 hari setelah lebaran, masyarakat Lombok melaksanakan tradisi unik yang disebut dengan Perang Topat. Tradisi ini dilakukan dengan cara mengarak makanan dari hasil bumi mereka yang dilanjutkan dengan acara saling melempar ketupat di Pura Lingsar. Bagi masyarakat Lombok, tradisi ini melambangkan rasa syukur dan rukun dalam beragama.

Tumbilotohe (Gorontalo)

Foto:ANTARA/Debby Mano
Tradisi Tumbilotohe di Gorontalo

Tumbilotohe merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo saat lebaran tiba. Tumbilotohe berasal dari kata Tumbilo yang dalam bahasa Gorontalo berarti memasang, dan Lotohe yang berarti lampu. Tradisi Tumbilotohe atau yang biasa disebut dengan festival Tumbilotohe ini dilakukan dengan cara menyalakan lambu yang terbuat dari minyak tanah di sepanjang jalan. Biasanya, festival ini dilengkapi dengan tabuhan gedug dan meriam bambu.

Itu tadi beberapa tradisi lebaran dari berbagai daerah? Bagaimana tradisi lebaran di daerahmu? 

 

(mel/mel)

Our Sister Site

mommyasia.id