sign up SIGN UP

LIFE

Mengenal Toxic Positivity, Ucapan Penyemangat yang Malah Menjadi Racun

Ade Suryani | Senin, 10 Feb 2020 13:45 WIB
Mengenal Toxic Positivity, Ucapan Penyemangat yang Malah Menjadi Racun
caption
Pernahkah kamu mendengar istilah toxic positivity? Hal ini bisa berupa sebuah ucapan positif yang beradu dengan emosi negatif, sehingga menjadi racun bagi orang yang menerimanya. Agar bisa mengetahui toxic positivity lebih dalam, yuk simak artikel di bawah ini.

Mengenal Toxic Positivity Lebih Dalam


Foto: Istimewa

Setiap orang tentunya pasti pernah mengalami suatu masalah yang membuat perasaannya menjadi begitu sedih dan rapuh. Beberapa orang ada yang memilih bercerita kepada orang yang ia percayai sebagai salah satu cara untuk membuat perasaannya menjadi lebih lega.

Hal ini bisa saja ketika temanmu sedang mengalami kesedihan karena telah gagal dua kali dalam tes mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Karena menurutmu kegagalan adalah sesuatu yang lumrah dalam kehidupan, kamu pun berusaha membuat perasaannya lebih baik dengan berkata, "Udah deh, nggak usah sedih terus. Kamu kan bisa ikut sekali lagi tahun depan. Orang lain ada yang udah berkali-kali lho ikut tes beginian dan dia tetap punya semangat yang tinggi."
 


Foto: Istimewa

Sekilas ucapan positif ini terlihat baik-baik saja, namun boleh jadi ucapan yang cenderung positif ini malah berseberangan dengan apa yang sedang dirasakan oleh seseorang. Karena bagi beberapa orang yang sedang menghadapi masalah, mereka cenderung ingin dimengerti mengenai posisinya. Selain itu, terkadang mereka juga hanya ingin didengarkan saja curhatannya tanpa ingin diberi saran.

Jadi, dalam hal ini bisa dikatakan bahwa toxic positivity adalah perilaku seseorang yang kerap memaksa orang lain yang sedang mendapat masalah agar tetap berpikir positif, tanpa memberikan empati atau kesempatan orang tersebut untuk mengekspresikan perasaannya tentang masalah yang dialami.
 


Foto: Istimewa

Hal ini bisa saja menyebabkan bagi orang yang sedang mengalami masalah tersebut menjadi semakin tertekan dalam menghadapi masalahnya. Sedangkan bagi orang yang mengalami depresi, toxic positivity ini bisa menjadi lebih buruk bagi mereka.

Karena toxic positivity ini hanya memicu orang yang tertimpa masalah semakin menutupi perasaan sesungguhnya. Pada kenyataannya ia malah mengalami perasaan emosional dan rasa sakit hati.
 



Cara agar Tidak Menjadi Toxic Positivity bagi Orang Lain


Foto: Istimewa

Ada masanya saat kita berhadapan dengan berbagai masalah. Namun ada juga saatnya ketika kita menjadi pendengar bagi orang sekitar yang sedang mengalami masalah. Tanpa disadari terkadang apa yang kita utarakan sebagai saran atau nasihat malah menjadi toxic positivity bagi orang lain.

Ketika ada seorang teman yang sedang bercerita kepadamu tentang masalahnya, mungkin pada awalnya kamu bingung harus menghiburnya dengan cara bagaimana, tapi cobalah bayangkan saat kamu berada pada posisinya. Kamu bisa memulainya dengan cara berempati terlebih dahulu agar ia merasa lebih dimengerti.
 


Foto: Istimewa

Kamu bisa menyampaikan kata-kata yang penuh empati terhadap perasaan yang sedang mereka alami. Seperti halnya mengenai contoh seorang teman yang mengalami dua kali gagal tes untuk mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. "Aku bisa mengerti perasaanmu saat ini. Dan aku juga ikut sedih karena kamu gagal untuk tes kali ini. Tapi kamu harus tahu, kamu sudah banyak melakukan berbagai usaha untuk ini. Aku salut."

Menyatakan pernyataan semacam ini terlebih dahulu tentunya akan lebih membuat seseorang merasa dihargai dan dimengerti. Harus dipahami bahwa untuk kasus tertentu, kalimat yang positif memang terkadang bisa menjadi toxic positivity bagi orang lain. Oleh karena itu, mulailah untuk berempati terlebih dahulu tentang masalah yang sedang dihadapi oleh orang lain.
 


(ags/ags)

Our Sister Site

mommyasia.id