sign up SIGN UP

RELATIONSHIP

5 Tanda Kamu Mengalami Pre-Marriage Syndrom, Rawan Bikin Gagal Nikah

Dian Aprilia | Jumat, 28 May 2021 13:30 WIB
5 Tanda Kamu Mengalami Pre-Marriage Syndrom, Rawan Bikin Gagal Nikah
Pre-Marriage Syndrom/ pexels.com

Pre-Marriage Syndrome adalah kondisi tekanan psikologis yang dialami pasangan yang akan menginjak momen pernikahan. Sebagian menyebut hal ini sebagai ujian sebuah pernikahan. Meski berawal dari hal-hal kecil dan sepele, tapi masalah ini bisa berdampak besar jika tidak disikapi dengan tepat.

Oleh sebab itu, kamu harus segera menyadarinya jika mengalami kondisi Pre-Marriage Syndrome. Setelah sadar, segera diskusikan dengan pasangan untuk menghadapinya. Berikut 4 tanda yang bisa menjadi indikasi jika kamu mengalami pre-marriage syndrome agar tidak gagal nikah:

Ketakutan Saat Hendak Menjalani Kehidupan Baru

Ketakutan saat menjalani pernikahan
Ketakutan saat menjalani pernikahan/pexels.com

Kehidupan pernikahan tentu menjadi sebuah kehidupan baru yang tentu berbeda jauh dengan hidup sebelumnya. Jika saat belum menikah, kamu mungkin bisa hidup cuek dan masih tetap mendapat perhatian dari orang tua. Namun setelah menikah, kamu harus menjalankan kewajiban dan peranmu sebagai istri.

Kewajiban dan peran sebagai seorang istri ini tentunya berbeda-beda antara setiap pasangan. Tapi hal ini tidak boleh dianggap sepele, sebab tanggung jawab itu harus dilakukan. Jika tidak bisa menimbulkan konflik dan permasalahan rumah tangga. Bayangan-bayangan ini bisa menimbulkan ketakutan tersendiri saat hendak menjalani kehidupan pernikahan.

Kecemasan Perbedaan Sifat Pasangan

Kecemasan perbedaan sifat pasangan
Kecemasan perbedaan sifat pasangan/pexels.com

Selanjutnya, muncul perasaan khawatir mengenai perbedaan sifat pasangan. Misalnya pasangan yang mudah marah, sensitif, pemalas, tidak cerdas, kurang relijius atau berbagai sifat buruk lainnya. Hal ini biasanya mulai diketahui setelah menjalin hubungan pacaran.

Selain itu bisa muncul juga ketakutan, sikap buruk tersebut akan semakin memuncak saat menjalin hubungan pernikahan. Hal ini bisa membuat salah satu pihak ragu-ragu untuk meneruskan hubungan, karena khawatir tak sanggup menghadapi sifat buruk pasangan.  

Ketakutan Jauh dari Orang Tua

Ketakutan jauh dari orang tua
Ketakutan jauh dari orang tua/pexels.com

Hal ini biasa dihadapi oleh anak bungsu atau anak yang sangat dekat dengan orang tua. Bagi yang pernah merantau, entah untuk bekerja atau sekolah, biasanya akan bisa mengatasi hal ini. Namun bagi yang belum pernah, mereka akan merasa ketakutan saat jauh dari orang tua.

Sebab ia merasa kehilangan sosok pelindung, sosok yang menyayangi dengan tulus, dan sosok yang akan mendampingi dan mendukung sepanjang hayat. Apabila ketakutan ini tidak didukung dengan rasa pengertian dari pasangan, bisa rentan membuat salah satu pihak tidak ingin melanjutkan pernikahan.

Keraguan terhadap Pasanganmu

Keraguan terhadap pasangan
Keraguan terhadap pasangan/pexels.com

Terakhir, keraguan terhadap pasangan dan kekhawatiran atas pertanyaan “apakah benar dia jodohku” adalah salah satu hal yang sangat sering dialami menjelang pernikahan. Apalagi jika diikuti munculnya orang-orang atau mantan di masa lalu saat momen pernikahan tiba.

Tak jarang menimbulkan kebingungan dan kegelisahan mengenai pasangan yang akan dinikahinya. Jika kedua belah pihak mengalami hal serupa dan masih ragu dengan pasangan, maka kondisi tersebut bisa membuat pernikahan gagal.

Kecemasan Menghadapi Malam Pertama

Kecemasan menghadapi malam pertama
Kecemasan menghadapi malam pertama/pexels.com

Hal yang tidak dipungkiri bisa terjadi saat mengalami pre-marriage syndrome adalah cemas saat akan menghadapi malam pertama. Hal ini biasa ditandai dengan rasa canggung, takut dan membayangkan hal yang tidak-tidak. Usahakan untuk tidak meminta saran pada sembarang orang, sebab bisa berdampak salah informasi dan bikin kamu semakin takut untuk menjalaninya.

Itulah tanda-tanda kamu sedang mengalami pre-marriage syndrome. Usahakan sadari sedini mungkin dan diskusikan dengan pasangan, agar masalah tersebut tidak berlarut-larut dan berpotensi menggagalkan pernikahan. Kamu juga bisa mengajak diskusi orang-orang yang dekat, seperti keluarga, sahabat, atau meminta bantuan ahli yakni psikolog pernikahan.

(arm2/arm2)

Our Sister Site

mommyasia.id