sign up SIGN UP

Belajar dari Film Paranoia, Ini 5 Cara Menyikapi Kekerasan dalam Rumah Tangga

Riswinanti Permatasari | Jumat, 19 Nov 2021 22:00 WIB
Belajar dari Film Paranoia, Ini 5 Cara Menyikapi Kekerasan dalam Rumah Tangga
Poster Film Paranoia/Foto: Instagram.com/milesfilms

Dikenal ahli dalam menggarap film drama romantis, baru-baru ini Riri Riza dan Mira Lesmana menyuguhkan sebuah karya baru, film Paranoia. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka menggarap genre thriller yang menunjukkan sisi kelam akibat tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris ternama, di antaranya Nirina Zubir (Dina), Lukman Sardi (Gion), dan Nicholas Saputra (Raka). Dina adalah sosok perempuan yang terlihat cerita di luar, namun menyimpan perasaan paranoid karena tindakan KDRT suaminya, Gion. Dia sampai melarikan diri bersama anaknya, Laura (diperankan oleh Caitlin North Lewis) dan hidup nomaden demi menghindari jangkaian sang suami.

Film ini memang menghadirkan nuansa seru dan menegangkan, walau tetap ada bumbu romantisme. Namun terlepas dari kisahnya, film Paranoia menunjukkan betapa kelam dampak dari KDRT yang sangat sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu jika berhadapan dengan situasi ini, apa yang sebaiknya dilakukan? Yuk, cari tahu cara menyikapinya di sini!

Memahami Situasi

Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/Alex Green
Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/Alex Green

Sudah sering terdengar berita mengerikan tentang pertengkaran keluarga yang berujung pada pembunuhan. Ini adalah dampak paling parah dari tindakan kekerasan dalam rumah tangga. Parahnya, dalam banyak kasus, tidak semua orang menyadari bahwa mereka sedang berada di situasi KDRT. Banyak yang menganggap pertengkaran atau cekcok adalah bumbu rumah tangga yang bisa dimaklumi.

Langkah pertama yang bisa dilakukan ialah menjadi lebih peka. Bahkan kata-kata kasar yang dilontarkan saat emosi juga bisa masuk kategori kekerasan verbal, lho! Pasalnya, hal ini bisa melukai mental sehingga menimbulkan rasa tidak percaya diri, bahkan bisa berujung depresi. Pada akhirnya, kondisi mental yang tidak sehat bisa memicu berbagai hal buruk, misalnya pembunuhan atau bunuh diri.

Coba Bicarakan Baik-Baik

Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/Anete Lusina
Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/Anete Lusina

Komunikasi memang masih jadi hal terpenting dalam hubungan, tak terkecuali rumah tangga. Jika kamu mendapati diri berada dalam situasi KDRT, maka kamu perlu menyampaikan hal ini.

Bicarakan bahwa kamu tidak nyaman dengan perilaku tersebut dan menuntut permohonan maaf. Kamu harus melakukan hal tegas agar pasangan menyadari bahwa kekerasan baik verbal maupun fisik bukan hal yang bisa diterima dalam hubungan.

Meminta Bantuan

Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/ SHVETS production
Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/ SHVETS production

Faktanya, tidak semua orang bisa menyelesaikan masalah dengan kepala sehat. Jika komunikasi gagal, maka kamu harus mencegah hal ini terjadi berulang. Kamu bisa meminta bantuan dari orang-orang terdekat yang kamu percayai, mulai dari keluarga atau sahabat. Namun jika hal ini tidak membantu, kamu bisa meminta perlindungan Komnas Perempuan atau pihak berwajib.

Tindak Keselamatan

Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/ SHVETS production
Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/ SHVETS production

Jika kamu mengalami tindak kekerasan, jangan hanya diam dan menunggu. Kamu harus segera meminta perlindungan, Beauties!

Rekam semua bukti kekerasan, lakukan visum, dan laporkan pada pihak berwajib. Kamu harus meminta perlindungan hukum dan mengajukan restaining order, yakni perintah agar pelaku kekerasan menjauhkan diri dari korban. Hal ini sangat penting agar kamu bisa terhindar dari dampak buruk tindak kekerasan.

Mulailah Hidup Baru

Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/ Julian Jagtenberg
Ilustrasi Kekerasan dalam Rumah Tangga/Foto: Pexels.com/ Julian Jagtenberg

Faktanya, tidak semua orang bisa begitu saja melepaskan diri dari jeratan KDT. Selain kejaran pelaku, hal yang paling menakutkan justru kondisi mental korban yang masih menganggap bahwa pasangan adalah segalanya. Karenanya, tidak mudah untuk move on dan meninggalkan pasangan, walau berada dalam kondisi toxic relationship.

Jika ada orang dekat, atau mungkin kamu sendiri sedang berada dalam situasi seperti ini, maka bantuan sangat diperlukan. Namun memulihkan kondisi mental mungkin tidak akan mudah karena trauma yang dialami. Butuh waktu bagi korban untuk menerima kenyataan dan mulai menjalani hidup baru.

Karenanya, jangan pernah menganggap tindak kekerasan dalam rumah tangga sebagai hal sepele. Sebagaimana yang tergambar dalam film Paranoia, KDRT bisa menyebabkan orang lain hidup dalam ketakutan sepanjang hidup. Memulihkannya pun juga tidak semudah membalikkan telapak tangan.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id