Duh! Brand Ini Bikin Fashion Show Pakai AI di Paris Couture Week 2026, Tuai Kontroversi

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Selasa, 03 Feb 2026 15:30 WIB
Picu Kontroversi
Alexis Mabille Couture SS26/ Foto: instagram.com/justfashionworld

Paris Haute Couture Week 2026 tak sekadar menampilkan adibusana label mewah yang terkurasi ketat oleh Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM), tapi juga merupakan perayaan craftsmanship, tradisi, dan seni. Pakaian handmade atau pengerjaan tangan yang memakan waktu hingga ratusan jam kerap dijumpai dalam pekan mode ini, Beauties. Oleh karena itu, ketika salah satu brand yang terdaftar dalam jadwal resmi Paris Haute Couture Week 2026 menggunakan artificial intelligence (AI), tak sedikit kritik yang ditujukan terhadapnya.

Alexis Mabille Haute Couture Spring/Summer 2026 yang dipresentasikan pekan lalu menghadirkan peragaan busana secara virtual buatan AI. Para tamu undangan yang hadir duduk berhadapan dengan layar raksasa di mana peragaan busana ditayangkan. Mulai dari model yang memperagakan sampai koleksi busana itu sendiri sepenuhnya ditampilkan dalam bentuk dua dimensi.

Peragaan Busana Haute Couture Buatan AI

Alexis Mabille Couture SS26

Alexis Mabille Couture SS26/ Foto: instagram.com/justfashionworld

Mabille menjelaskan melalui Instagram pribadinya bahwa ia melakukan pendekatan terhadap teknologi dan inovasi untuk mengkreasikan koleksi adibusananya kali ini, Beauties. Dengan memanfaatkan teknologi, timnya berhasil membuka teritori kreativitas baru.

Mabille turut menjelaskan semua proses berawal dari intuisi yang kemudian dituangkan dalam sketsa yang digambarnya sendiri. Proses manual tersebut dilanjutkan dalam medium virtual. “Saya membuat sketsa siluet, lalu siluet itu terbentuk, dimodelkan, seperti halnya di atelier, di mana tangan membentuk dan menampakkan material, di mana volume menemukan keseimbangannya dan ketelitian menjadi emosi,” tulisnya. Pemelihan material juga berdasarkan ketersediaan di dunia nyata, seperti crepe, organza, silk, sampai ostritch feathers.

[Gambas:Instagram]

Melansir dari laman Fashion Network, proses untuk membentuk peragaan busana virtual ini membutuhkan waktu sekitar 5 bulan. Beberapa looks melalui 300 tes untuk mendapatkan bentuk dan efek yang tepat sesuai gambaran sang desainer. “Idenya adalah untuk melawan arus dengan AI dan menunjukkan bahwa unsur manusia tetap penting di baliknya. Untuk menunjukkan bahwa, pada kenyataannya, tanpa kita, tanpa ide-ide kita, tanpa tangan para teknisi yang melakukan perhitungan tanpa henti untuk setiap siluet, tidak banyak yang terjadi—selain hasil yang merusak," ujar Mabille.

Pakaian-pakaian virtual tersebut memungkinkan klien untuk melihat setiap desain dalam ukuran mereka atau bahkan dengan fitur wajah mereka sendiri. Menurut Mabille, virtualisasi ini justru membuka cara baru bagi konsumen di mana mereka bisa melihat pakaian secara virtual lalu pakaian dibuat berdasarkan pesanan, sekaligus membuka cara baru untuk bekerja di dunia adibusana. Namun walaupun efisien dari segi proses, apakah sesuai dengan nilai couture itu sendiri?

Picu Kontroversi

Alexis Mabille Couture SS26

Alexis Mabille Couture SS26/ Foto: instagram.com/justfashionworld

Bagi Mabille, cara ini memudahkannya untuk mengeksplorasi berbagai gaya dan material. Dibandingkan dengan tema koleksi, dia fokus pada eksperimen bahan, diolah menjadi karya dengan emosi yang bisa diterima secara umum. "Akan mudah untuk menyimpang ke arah yang unik dan tidak masuk akal. Tetapi ini adalah koleksi yang terkendali dan terstruktur yang menunjukkan bahwa kamu dapat berkreasi melalui pendekatan yang berbeda, yang lebih mekanis," sambungnya.

Di sisi lain, banyak perdebatan yang mengikuti penggunaan AI dalam koleksi adibusana, Beauties. Sebab, haute couture merupakan wadah di mana level tertinggi proses pembuatan pakaian tersaji. Melibatkan AI dan penyajian sepenuhnya virtual menjadi tanda tanya besar akan apa yang menjadikan karya tersebut layak disebut couture.

Publik mengharapkan karya istimewa yang berwujud nyata ketika membicarakan couture. Lebih dari itu, di tengah maraknya pekerjaan yang kini diambil alih oleh teknologi AI, peragaan busana sepenuhnya AI membawa distopia lebih dekat ke industri fashion di mana model pun tidak dibutuhkan untuk mempresentasikan busana.

Perdebatan pun mengisi kolom komentar unggahan Instagram @alexismabille. Peragaan busana yang provokatif ini menuai beragam respon. “Haute couture, menurut definisinya, adalah puncak dari pembuatan pakaian: sebuah bentuk seni yang berakar pada keahlian luar biasa, pengerjaan tangan yang teliti, dan penguasaan kolektif para pengrajin, pembuat pakaian, penyulam, dan atelier yang keterampilannya diasah selama beberapa dekade. Ini bukan sekadar pakaian, tetapi pameran hidup dari keunggulan dan keahlian manusia. Oleh karena itu, koleksi yang dihasilkan AI ini menimbulkan pertanyaan yang provokatif dan penting: dapatkah sesuatu benar-benar disebut couture jika tidak ada pengrajin dengan keterampilan tertinggi yang terlibat dalam penciptaannya, jika tidak ada tangan yang membentuk, menjahit, dan menghidupkannya?” tulis akun @_cea****.

“Aku tak pernah menyangka akan menyaksikan hari di mana Haute Couture dipresentasikan menggunakan AI. Untuk fast fashion, itu bisa dimengerti, tetapi untuk couture, rasanya tidak tepat. Set dalam gambar lain terlihat indah, aku heran mengapa mereka memutuskan untuk menampilkannya menggunakan AI,” tulis akun @ban*********.

Kalau menurut kamu, bagaimana, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiwa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE