STATIC BANNER
160x600
STATIC BANNER
160x600
BILLBOARD
970x250

Jarang Terungkap, Ini 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Menjadi Fashion Stylist! Langsung dari Ahlinya

Rayoga Firdaus | Beautynesia
Selasa, 25 Jan 2022 15:30 WIB
Jarang Terungkap, Ini 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui Jika Ingin Menjadi Fashion Stylist! Langsung dari Ahlinya

Berbicara pilihan profesi di industri fashion, mungkin sebagian besar masyarakat lebih familiar dengan model dan desainer. Padahal ada banyak profesi terkait di industri ini salah satunya adalah fashion stylist atau penata busana.

Secara sederhana tugas seorang fashion stylist adalah mendandani model atau selebriti berdasarkan suatu konsep yang jelas. Konsep di sini berupa inspirasi gaya atau tema acara maupun pemotretan.

Kini fashion stylist juga telah menjadi salah satu pekerjaan yang bisa dilakoni secara lepas atau freelance. Selain bekerja dengan selebriti, stylist juga kini banyak direkrut untuk menangani proyek foto dan video iklan komersial.

Beautynesia menemui tiga orang fashion stylist Indonesia yang membagikan sejumlah hal yang perlu diketahui dan dipersiapkan jika ingin menjalani profesi ini.

Harus Dimulai Darimana?

Erlangga S. NegoroErlangga S. Negoro/ Foto: Instagram Erlangga_Sn

Untuk mulai menekuni profesi fashion stylist bisa dengan bekerja di media, menjadi asisten stylist, atau berlatih menangani proyek dalam skala kecil.

Kiko Kim (27) seorang fashion stylist yang menangani Denada dan Eka Gustiwana mengawali kariernya dengan bekerja di salah satu stasiun televisi swasta dan menjadi asisten stylist.

Sementara Erlangga S. Negoro (37) stylist yang juga mendirikan Esano Project sebuah perusahaan creative consultant, mulai terjun saat masih kuliah dengan menangani proyek bersama desainer gaun pernikahan di Surabaya. Selepas lulus kuliah ia bekerja untuk majalah spesialis wedding sebagai asisten dan akhirnya pindah ke salah satu majalah fashion kenamaan.

Erlangga menuturkan bahwa ketika bergabung dengan majalah fashion dan menjadi junior stylist kala itu, kemampuannya dalam hal padu padan dan membuat konsep diasah.

"Setelah jadi asisten di majalah wedding saya jadi junior stylist di majalah fashion dan sebagai junior memang belum memegang halaman editorial yang besar seperti fashion spread atau cover. Saya bertugas menangani rubrik yang bajunya masih mass brand seperti H&M atau Zara. Waktu itu saya semacam dites seberapa besar kemampuan styling dengan baju-baju dari label tersebut untuk bisa menciptakan gaya yang berbeda. Baru setelah itu saya pun mulai diberi kesempatan untuk memakai busana high end dan juga dipercaya menangani majalah lain milik perusahaan,".

Vannie Astecat (35) yang sudah 16 tahun malang melintang menjadi stylist dan menangani sejumlah selebriti kenamaan seperti BCL, Rossa dan Afgan, awalnya justru menjadi desainer sepatu. Namun ketika bertemu seorang produser yang sedang membutuhkan stylist untuk sebuah proyek iklan ia pun tertarik mencoba. Semenjak itu ia pun mulai serius menekuni profesi ini.

Pentingnya Networking

Kiko KimKiko Kim/ Foto: Instagram xrzkix

Kunci keberhasilan dan kelanggengan karier sebagai freelance fashion stylist adalah memiliki jaringan relasi yang kuat. Karena kebanyakan stylist mendapat pekerjaan dari jaringan pertemanan atau profesional.

Selain menangani selebriti, Kiko juga kerap terlibat dalam proyek iklan yang berujung membawanya terlibat dalam sebuah film. "Karena aku juga bekerja sebagai staf marketing communication di salah satu klinik kecantikan, ketika ada tamu seleb kadang aku suka cerita mengenai kesibukan sebagai stylist. Sekalian memperluas koneksi," ujarnya yang telah 5 tahun menekuni pekerjaan sebagai stylist.

Bagi Erlangga 7 tahun bekerja di media juga menjadi keuntungan tersendiri karena turut membantu dalam hal menjaring klien untuk Esano Project. Sejumlah perusahaan besar di bidang fashion dan kecantikan sudah masuk ke dalam portfolio seperti diantaranya Paragon Corp (pemilik Wardah, Make Over dan Emina), Iwan Tirta, Tempo Scan untuk label Ultima II, serta kampanye Asian Games dan Wonderful Indonesia bersama Dinas Pariwisata.

Bisa Menempatkan Diri & Kemampuan Berkomunikasi

Vannie Astecat dan BCLVannie Astecat dan BCL/ Foto: Muthiarys/instagram Astecat

Membangun dan menjaga relasi profesional bukanlah perkara mudah. Seakrab apapun dengan klien, selalu bisa menempatkan diri dengan baik adalah hal lain yang selalu diterapkan oleh Astecat.

"Alhamdulilah klienku banyak yang kerja samanya panjang. Bahkan ada yang sampai belasan tahun. Yang paling utama adalah bisa menempatkan diri ketika bekerja dan kapan menjadi teman. Awalnya mungkin memang hanya sebagai klien tapi lama-kelamaan karena keseringan bareng kan jadi teman juga.

Tetapi penting juga kita harus bisa set boundaries. Ketika aku di klien A pasti cara aku treat dia beda ketika dengan klien B. Cara bercanda si A pasti beda sama si B. Jadi kita juga harus bisa membaca karakter orang juga. Komunikasi juga nggak kalah penting. Karena kalau kita nggak komunikasi dan mengambil langkah sendiri itu bisa jadi boomerang karier dan diri sendiri juga," cerita Astecat.

Selain masalah keterbukaan, komunikasi dalam hal negosiasi menjadi skill yang perlu diasah. Seperti ditekankan oleh Kiko.

"Skill komunikasi itu wajib! Itu membantu cara kita dealing sama klien dan desainer. Kita juga bisa setidaknya ngelobi mereka ketika mereka kurang menyukai konsep kita. Bagaimana pun caranya kita harus bisa mencari jalan agar visi kita dengan klien bisa 'kawin'."

Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE