sign up SIGN UP

Sejumlah Benda Fashion Ini Menjadi Simbol Perlawanan Perempuan Terhadap Kekerasan dan Ketimpangan Sosial

Rayoga Firdaus | Rabu, 10 Nov 2021 12:00 WIB
Sejumlah Benda Fashion Ini Menjadi Simbol Perlawanan Perempuan Terhadap Kekerasan dan Ketimpangan Sosial
caption
Jakarta -

Fashion dalam perkembangannya bukan hanya menjadi gaya hidup tapi juga menjadi salah satu instrumen bagi perempuan.dalam menyuarakan pendapat. Pakaian dan aksesori dapat menjadi alat politik yang tepat dalam menyampaikan aspirasi, termasuk ketika perempuan bersuara atas ketidakadilan dan kekerasan yang mereka alami. Selain efektif, fashion juga terbilang efisien karena mudah di dapat. Berikut sejumlah kreasi fashion yang pernah jadi alat protes sekaligus menyuarakan aspirasi perempuan.

Gaun Putih di Gerakan Suffragettes

aksi protes Suffragettesaksi protes Suffragettes/ Foto: Museum of London


Kehidupan perempuan di awal era 1900 an di negara Inggris amatlah dibatasi. Jangankan untuk menentukan pilihan karier, perempuan kala itu bahkan tak punya hak pilih. Di tahun 1903, Emmeline Pankhurst mendirikan organisasi Women's Social and Political Union yang mengkampanyekan agar perempuan diberi hak pilih lewat gerakan bernama Women's suffrage in the United Kingdom. Media menjuluki mereka sebagai Suffragettes.
Pada tahun 1908, mereka melakukan aksi turun ke jalan dengan kompak memakai busana warna putih. Sebenarnya ada tiga warna yang menjadi simbol gerakan ini yakni ungu, putih dan kuning.
Dilansir dari Teen Vogue, Einav Rabinovitch-Fox, PhD dari Case Western Reserve University mengatakan para perempuan memilih gaun putih karena mudah didapat dan harganya lebih murah sehingga siapapun dapat bergabung. Menjadi simbol kemurnian dan kesucian, untuk para pejuang perempuan kulit hitam yang bergabung pakaian putih ini juga merepresentasikan bahwa mereka juga setara dan layak untuk mendapatkan kedudukan yang lebih baik di masyarakat. Tak hanya di Inggris, gerakan ini juga berlanjut di Amerika Serikat.

Topi Pink 'Pussyhat'

Women's marchWomen's march/ Foto: Grazia Daily


Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat pada tahun 2016 memicu reaksi keras dari perempuan Amerika. Apalagi Trump kedapatan sering melontarkan pernyataan yang merendahkan perempuan. Sebagai bentuk aksi protes lahirlah gerakan Women's March dan menjadikan topi rajut warna pink sebagai pendukung dari aksi mereka. Adalah Krista Suh dan Jayna Zweiman yang menggagasnya. Dilansir dari lama Wikipedia tentang topi ini, keduanya memilih warna pink karena dianggap merepresentasikan spirit feminin, kepedulian, kasih sayang dan cinta. Topi pink ini bahkan turut ditampilkan label fashion Missoni pada peragaan koleksinya di tahun 2017.

Gaun Hitam di Golden Globe 2018

Golden Globe 2018Golden Globe 2018/ Foto: Getty Images/HarpersBazaar


Terkuaknya kasus pelecehan dan pemerkosaan yang dilakukan oleh produser film Hollywood Harvey Weinstein menjadi momen kebangkitan perlawanan para pekerja perempuan di industri film Amerika. Tak hanya berbuntut dituntutnya para pelaku kekerasan dan pelecehan lainnya, sejumlah isu ketidaksetaraan seperti minimnya kesempatan kerja, ketimpangan upah, hingga rasisme mulai disorot. Pada Golden Globes 2018, para aktris yang hadir di acara tersebut kompak untuk memakai gaun hitam sebagai bentuk solidaritas sekaligus dukungan pada gerakan #Metoo dan Time's Up.

Pemakaian fashion sebagai alat protes memang tidak langsung membuat masalah serta merta selesai. Namun dapat memberikan visual yang kuat dan menjadi katalis untuk membuat perubahan.

---

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(raf/raf)

Our Sister Site

mommyasia.id