3 Ciri Kepribadian Orang yang Impulsif saat Flash Sale

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Minggu, 12 Apr 2026 15:00 WIB
3 Ciri Kepribadian Orang yang Impulsif saat Flash Sale
Perilaku impulsif belanja menjadi lebih jelas saat seseorang menghadapi flash sale dengan batas waktu singkat/Foto: Freepik/tirachardz

Flash sale sering kali terasa begitu menggoda karena menawarkan diskon besar. Namun, dalam waktu yang sangat terbatas, hal ini cenderung memicu rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO). Dalam situasi seperti ini, keputusan membeli kerap diambil tanpa banyak pertimbangan.

Memang tidak semua orang akan merespons momen flash sale dengan cara belanja tanpa pikir panjang karena ada juga orang yang mampu menahan diri. Namun, jika kamu cenderung menunjukkan perilaku impulsif saat dihadapkan pada tekanan waktu dan penawaran menarik saat flash sale, kamu perlu tahu bahwa hal ini sering kali berkaitan dengan ciri kepribadian tertentu yang memengaruhi caramu mengambil keputusan. Kenali kecenderungan dirimu lewat artikel yang dilansir dari Career Contessa ini agar bisa lebih bijak dalam menyikapi godaan flash sale!

Mudah Tergoda oleh Perasaan Senang Sesaat

Belanja tanpa pikir panjang sering berakar pada keinginan untuk merasakan kesenangan instan dari proses membeli. Setiap tahap, mulai dari checkout hingga paket diterima, memberikan dorongan emosi yang singkat namun kuat. Hal ini membuat pengalaman belanja terasa lebih menarik daripada fungsi barang itu sendiri.
Belanja tanpa pikir panjang sering berakar pada keinginan untuk merasakan kesenangan instan dari proses membeli/Foto: Freepik/stockking

Kamu yang cenderung memiliki perilaku impulsif belanja saat flash sale biasanya sangat mudah tergoda oleh sensasi menyenangkan instan yang muncul tidak hanya dari barang yang dibeli, tetapi juga dari proses berbelanja itu sendiri. Ada semacam “alur emosi” yang memang terasa menekan saat melakukan hal ini, mulai dari momen menekan tombol beli, menerima notifikasi pesanan, hingga akhirnya paket tiba di rumah. Setiap tahap ini memberi dorongan rasa senang yang instan, meskipun sifatnya sementara.

Bagi sebagian orang sepertimu, pengalaman ini bahkan lebih menarik daripada kebutuhan akan produk yang dibeli. Sensasi menyenangkan yang kamu rasakan itu bekerja seperti “hadiah kecil” untuk otak sehingga memicu keinginan untuk mengulanginya lagi dan lagi. Akhirnya, keputusan membeli sesuatu tidak lagi didasarkan pada kebutuhan atau pertimbangan rasional, tetapi pada keinginan untuk merasakan euforia singkat tersebut.

Dalam momen flash sale, kondisi ini jadi makin parah. Batas waktu yang singkat dan tekanan untuk “jangan sampai kehabisan” mempercepat proses pengambilan keputusan.

Belanja untuk Memperbaiki Suasana Hati

Perilaku impulsif belanja sering kali berkaitan dengan upaya memperbaiki suasana hati secara instan/Foto: Freepik/benzoix

Salah satu ciri kepribadian paling umum dari kamu yang menunjukkan perilaku impulsif belanja saat flash sale belanja adalah berbelanja untuk pelarian dari emosi yang tidak nyaman. Ketika sedang stres, lelah, atau mengalami hari yang buruk, membeli sesuatu sering terasa seperti solusi cepat yang langsung memberi rasa lega bagimu. Dalam hitungan detik, suasana hatimu bisa berubah dari yang tadinya lesu jadi lebih bersemangat hanya karena berhasil checkout barang yang diinginkan.

Hal ini terjadi karena proses belanja memicu respons emosional di otak. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, melihat barang yang menarik, menambahkan ke keranjang, lalu menekan tombol beli, semuanya itu memberikan sensasi menyenangkan. Tidak heran jika banyak orang merasa suasana hatinya membaik setelah melakukan pembelian impulsif, meskipun sebenarnya masalah utamanya belum benar-benar terselesaikan.

Masalahnya, efek “senang” ini biasanya hanya bersifat sementara. Setelah euforia mereda, perasaan seperti penyesalan atau bahkan stres finansial bisa muncul, terutama jika pengeluaran jadi tidak terkontrol. Namun, karena otak terus mengasosiasikan belanja dengan rasa nyaman, hal inilah yang membuat emotional spending bisa menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.

Identitas Diri Dipengaruhi Oleh Konsumsi

Perilaku impulsif belanja sering kali berkaitan dengan cara seseorang membentuk dan menampilkan identitas diri/Foto: Freepik

Bagi kamu yang punya kecenderungan belanja impulsif saat flash sale, keputusan membeli tidak hanya soal kebutuhan, tetapi juga tentang bagaimana kamu ingin dilihat. Barang yang kamu pilih, mulai dari pakaian, aksesori, hingga gawai, sering kali menjadi representasi diri. Dengan kata lain, apa yang kamu pakai dan miliki terasa seperti cara untuk menunjukkan identitas, selera, bahkan status sosial.

Keinginan untuk selalu terlihat up-to-date mendorongmu membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu kamu butuhkan. Selama barang tersebut bisa membuatmu merasa lebih percaya diri, lebih relevan, atau lebih diterima dalam lingkungan sosialmu, keputusan membeli jadi terasa masuk akal.

Di era media sosial seperti sekarang, dorongan ini makin kuat. Paparan gaya hidup orang lain, influencer, dan tren yang terus berganti membuat standar “ideal” terasa selalu berubah. Akibatnya, muncul tekanan tak kasat mata untuk terus mengikuti arus agar tidak merasa tertinggal.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE