3 Mitos soal People Pleaser yang Harus Berhenti Dipercaya Menurut Psikoterapis

Nadya Quamila | Beautynesia
Rabu, 02 Sep 2026 16:30 WIB
People Pleaser adalah Ciri Kepribadian
Mitos soal People Pleaser yang Harus Berhenti Dipercaya Menurut Psikoterapis/Foto: Pexels.com

Istilah people pleaser beberapa tahun belakangan ini sering memenuhi media sosial. People pleaser adalah seseorang yang selalu ingin menyenangkan orang lain, bahkan ketika mereka harus mengorbankan diri sendiri.

Jika dibiarkan, sifat people pleaser ini bisa membuat seseorang memendam emosi, mengalami gangguan kecemasan, hingga merasa tertekan dan tidak bahagia.

Menurut psikoterapis Meg Josephson, LCSW, ada beberapa mitos terkait people pleaser yang harus berhenti dipercaya. Mitos ini berkaitan dengan cara kita memandang kebiasaan selalu ingin menyenangkan orang lain. Yuk, simak penjelasannya dilansir dari Parade.

Bentuk Sabotase Diri yang Memalukan

mitos terbesar dari people pleaser adalah anggapan bahwa perilaku ini merupakan bentuk sabotase diri dan sesuatu yang patut kita sesali atau sesuatu yang memalukan.

Mitos soal People Pleaser yang Harus Berhenti Dipercaya Menurut Psikoterapis/Foto: Pexels/Liza Summer

Menurut Josephson, mitos terbesar dari people pleaser adalah anggapan bahwa perilaku ini merupakan bentuk sabotase diri dan sesuatu yang patut kita sesali atau sesuatu yang memalukan.

Cara kita memandang diri sendiri sangatlah penting. Bagi banyak orang yang melabeli diri mereka sebagai people pleaser, konotasi negatif dari label tersebut sering kali jauh lebih dominan daripada kenyataan yang sebenarnya.

"Bagi banyak orang, perilaku menyenangkan orang lain adalah strategi bertahan hidup; ini adalah perilaku yang kita pelajari sejak dini sebagai cara untuk merasa aman dan diterima," ujar Josephson.

"Mengingat banyak people pleaser yang sudah memendam rasa malu yang mendalam serta perasaan bahwa ada sesuatu yang 'salah' pada diri mereka, menambah beban rasa malu pada pola perilaku ini tidaklah membantu ataupun menyembuhkan," tambahnya.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan? Menurut Josephson, memadang perilaku people pleaser dan fawn (respons untuk menyenangkan orang lain demi keamanan) sebagai sesuatu yang telah melindungi kita bisa menjadi awal dari proses penyembuhan dimulai.

"Bagian dari diri kita yang gemar menyenangkan orang lain itu sebenarnya merasa takut dan ingin memastikan bahwa kita aman. Terkadang, kita memang perlu melakukan respons fawn tersebut. Namun, ketika hal itu menjadi pola perilaku otomatis, kita akhirnya terus-menerus melakukannya bahkan saat kita sebenarnya sudah aman.

Penyembuhan sesungguhnya adalah tentang mengakui bagaimana perilaku menyenangkan orang lain telah melindungi kita secara tidak sadar, serta mulai menyadarinya tanpa menambah beban rasa malu. Dengan begitu, kita bisa mengenali kapan perilaku itu muncul dan bertanya pada diri sendiri: 'Apakah saat ini saya perlu menyenangkan orang lain?'" tutur Josephson.

People Pleaser adalah Ciri Kepribadian

Banyak yang menganggap bahwa people pleaser adalah sebuah ciri kepribadian. Namun, people pleaser adalah sebuah pola dan seseorang bisa berubah dari pola tersebut.

Mitos soal People Pleaser yang Harus Berhenti Dipercaya Menurut Psikoterapis/Foto: Pexels.com

Banyak yang menganggap bahwa people pleaser adalah sebuah ciri kepribadian. Namun, Josephson membantahnya. People pleaser adalah sebuah pola dan seseorang bisa berubah dari pola tersebut.

"Butuh waktu untuk pulih. Karena respons fawn biasanya muncul akibat trauma relasional yang kompleks (yaitu trauma yang terjadi dalam jangka waktu lama, dalam momen-momen 'kecil' saat kita tidak merasa aman, didengar, dan dicintai dalam hubungan kita), dibutuhkan waktu untuk memulihkan pola tersebut; kita melakukannya dengan menjalin hubungan yang terasa aman. Luka itu terbentuk dalam hubungan, dan luka itu pun akan pulih dalam hubungan," paparnya.

Berani Angkat Bicara Berarti Kamu Tidak Bersikap Baik

Orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain beranggapan bahwa jika mereka bersuara dan berani berbicara, itu artinya mereka tidak bersikap baik. Sikap ini muncul dari keinginan untuk melindungi diri sendiri agar dipandang sebagai sosok yang baik dan sempurna.

Mitos soal People Pleaser yang Harus Berhenti Dipercaya Menurut Psikoterapis/Foto: Pexels.com

Orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain beranggapan bahwa jika mereka bersuara dan berani berbicara, itu artinya mereka tidak bersikap baik. Sikap ini muncul dari keinginan untuk melindungi diri sendiri agar dipandang sebagai sosok yang baik dan sempurna.

Josephson membedakan antara sikap baik dan sikap welas asih. Bersikap baik sering kali hanya soal citra; kita mungkin melakukan sesuatu yang tampak manis di luar, tapi di dalam hati kita memendam rasa kesal dan marah.

Sementara itu, sikap welas asih lahir dari ketulusan. Apa yang kita lakukan selaras dengan apa yang kita raasakan.

“Terkadang, bersikap penuh welas asih berarti berani berkata tidak atau bersikap tegas,” lanjutnya. “Bersikap ‘baik’ bertujuan meredam ketidaknyamanan sesaat dan menjaga keharmonisan jangka pendek; sementara itu, welas asih mungkin menimbulkan ketidaknyamanan saat ini, namun pada akhirnya justru menciptakan keharmonisan yang lebih langgeng.”

Beauties, itulah mitos-mitos seputar people pleaser. Bagaimana menurutmu?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE