4 Kalimat Pura-Pura Berempati, padahal Sebenarnya Tidak!

Belinda Safitri | Beautynesia
Selasa, 24 Feb 2026 10:30 WIB
2. “Setidaknya...”
Ilustrasi orang pura-pura berempati/ Foto: Freepik.com/freepik

Beauties, tidak semua kalimat yang terdengar menenangkan benar-benar membuat seseorang merasa dipahami. Dalam percakapan sehari-hari, ada banyak ungkapan yang sering digunakan untuk menunjukkan empati, tetapi justru meninggalkan kesan sebaliknya. 

Hal ini biasanya terjadi bukan karena niat buruk, melainkan karena kebiasaan berbicara yang kurang peka terhadap kondisi emosional orang lain. Bukannya membuat hati lebih lega, sejumlah respons akhirnya justru bisa terasa datar, menjauhkan, atau bahkan menyakitkan. Dilansir dari The Vessel, berikut beberapa contoh kalimat pura-pura berempati padahal sebenarnya tidak! 

1. “Aku Tahu Persis Bagaimana Perasaanmu”

Ilustrasi orang pura-pura berempati/ Foto: Freepik.com/freepik

Sekilas, kalimat ini terdengar hangat dan penuh pengertian. Namun pada kenyataannya, tidak ada orang yang benar-benar bisa merasakan emosi orang lain secara persis, meskipun pernah mengalami situasi yang mirip. Setiap pengalaman dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari latar belakang, hubungan, hingga kondisi mental yang berbeda-beda.

Ketika seseorang berkata, “Aku tahu persis bagaimana perasaanmu” percakapan sering berubah arah. Fokus yang seharusnya berada pada orang yang sedang bercerita justru beralih ke pengalaman orang yang merespons.

Akibatnya, ruang untuk mengekspresikan perasaan menjadi lebih sempit, dan orang yang sedang butuh didengarkan bisa merasa tidak benar-benar dipahami.

 

2. “Setidaknya...”

Ilustrasi orang pura-pura berempati/ Foto: Freepik.com/freepik

“Setidaknya tidak lebih buruk”

“Setidaknya kamu masih punya pekerjaan”

“Setidaknya kamu masih sehat”

Kalimat-kalimat seperti ini sering terdengar logis dan positif ya, Beauties? Namun, dalam banyak situasi, ungkapan tersebut justru membuat seseorang merasa tidak dipahami. Ketika seseorang sedang bercerita tentang kesulitannya, yang mereka butuhkan biasanya adalah pengakuan atas perasaan mereka, bukan perbandingan dengan situasi yang dianggap lebih buruk.

Seperti yang dikemukakan oleh penulis psikologi Guy Winch dalam Emotional First Aid, meremehkan rasa sakit seseorang dengan pernyataan “setidaknya” dapat membuat mereka merasa tidak dipahami dan terisolasi. Alih-alih menghadirkan ketenangan, kalimat tersebut justru bisa terdengar seperti penyangkalan halus atas emosi yang sedang dirasakan.

Niat untuk memberikan perspektif positif memang wajar. Namun ketika hal itu dilakukan sebelum benar-benar mendengarkan dan mengakui perasaan lawan bicara, dampaknya bisa berbalik arah. Orang yang sedang terluka bisa merasa emosinya dianggap berlebihan, bahkan merasa bersalah karena merasakan sesuatu yang sebenarnya valid.

3. “Beri Tahu Saya Jika Kamu Membutuhkan Sesuatu”

Ilustrasi orang pura-pura berempati/ Foto: Freepik.com/tirachardz

Ungkapan ini biasanya disampaikan dengan niat baik. Namun dalam kenyataannya, kalimat tersebut sering mengalihkan tanggung jawab kepada orang yang sedang berjuang. Ketika seseorang sedang stres atau tertekan, mereka belum tentu tahu apa yang mereka butuhkan, apalagi memiliki energi untuk memintanya.

Orang-orang yang benar-benar memiliki empati biasanya menunjukkan bantuan secara konkret. Mereka mengirim pesan singkat, menawarkan bantuan spesifik, atau datang membawa sesuatu tanpa diminta. Penelitian tentang dukungan sosial juga menunjukkan bahwa bantuan proaktif membuat penerima merasa lebih didukung dibandingkan sekadar tawaran bantuan yang masih bersifat umum dan menunggu permintaan terlebih dahulu.

4. “Jangan Khawatir Soal Itu”

Ilustrasi orang pura-pura berempati/ Foto: Freepik.com/tirachardz

Sekilas, kalimat ini terdengar seperti bentuk jaminan atau penghiburan. Akan tetapi dalam banyak kondisi, ungkapan “Jangan khawatir soal itu” justru menjadi cara halus untuk menghindari pembicaraan yang tidak nyaman. Ketika seseorang menyampaikan kekhawatiran, respons seperti ini bisa membuat mereka merasa tidak didengarkan.

Kalimat tersebut juga kerap muncul saat seseorang ingin menghindari tanggung jawab atau konflik. Alih-alih membahas masalah, percakapan langsung ditutup dengan kata-kata yang terdengar lembut.

“Kualitas hubungan kita menentukan kualitas hidup kita," kata Psikoterapis Esther Perel. Hubungan yang berkualitas juga membutuhkan kedalaman, dan kedalaman tidak akan tercapai jika percakapan sulit selalu dihindari. 

Jadi, itulah sejumlah kalimat pura-pura berempati padahal sebenarnya tidak. Memilih kata yang tepat saat seseorang sedang berjuang memang tidak selalu mudah. Namun empati tidak selalu tentang memberikan solusi atau kata-kata yang terdengar positif. Terkadang, cukup dengan mendengarkan, mengakui perasaan, dan hadir sepenuhnya dalam percakapan sudah lebih dari cukup.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE