5 Advokat Perempuan yang Bantu Membentuk Pendidikan Masa Depan Asia

Retno Anggraini | Beautynesia
Sabtu, 03 Feb 2024 17:00 WIB
5 Advokat Perempuan yang Bantu Membentuk Pendidikan Masa Depan Asia
Deretan advokat perempuan yang bantu membentuk pendidikan masa depan Asia/Foto: Instagram.com/nilatanzil/Dok. The Art Newspaper/Dok. Bankero

Pendidikan memiliki peran penting dalam mencapai perdamaian, kesetaraan, dan kelimpahan.

"Pertahanan terbaik kami adalah pendidikan yang harus menjadi inti dari setiap upaya perdamaian," ucap Audrey Azoulay, selaku Direktur Jenderal UNESCO. "Agar berhasil, kita perlu melatih dan mendukung guru-guru yang berada di garis depan dengan lebih baik dalam mencapai masyarakat yang inklusif, demokratis, dan saling menghormati hak asasi manusia," lanjutnya.

Di Asia sendiri, ada beberapa advokat perempuan yang menyadari bagaimana pendidikan dapat memberdayakan generasi muda. Dilansir dari Tatler Asia, berikut 5 di antaranya.

1. Mariana Zobel de Ayala, Filipina

Deretan advokat perempuan yang bantu membentuk pendidikan masa depan Asia
Mariana Zobel de Ayala/Foto: Dok. Bankero

Di luar peran kepemimpinannya di Ayala Corporation, Mariana Zobel de Ayala adalah seorang advokat pendidikan yang menjabat sebagai dewan direksi U-Go, organisasi internasional yang memberikan beasiswa keuangan kepada perempuan muda yang mencari pendidikan tinggi. 

Pada bulan Oktober 2023, Ayala Foundation, cabang pengembangan sosial dari Ayala Group, memperluas dukungannya kepada U-Go dengan menambahkan 300 cendekiawan ke dalam daftar 120 siswa sehingga totalnya mencapai 420 cendekiawan yang kini bersekolah di seluruh Filipina.

“Masalah kesetaraan pendidikan bagi perempuan adalah tentang pemberdayaan perempuan dan juga tentang membangun perekonomian yang paling mampu bagi Filipina, untuk memastikan kemajuan kolektif kita sebagai sebuah bangsa,” kata Mariana dalam sebuah pernyataan.

U-Go dan Ayala Foundation berupaya untuk memperluas dukungan kepada seribu penerima beasiswa pada tahun 2026, serta membantu lulusannya mendapatkan peluang kerja dan peningkatan keterampilan.

2. Nila Tanzil, Indonesia

Nila Tanzil/Foto: Instagram.com/nilatanzil

Pada tahun 2009, Nila Tanzil yang merupakan aktivis sosial mendirikan Taman Bacaan Pelangi, sebuah organisasi nirlaba yang mempromosikan literasi pada anak-anak dengan membangun perpustakaan di komunitas terpencil di Indonesia Timur.

“Saya merasa bahagia karena saya tahu di kejauhan ada ribuan anak yang matanya berbinar melihat ribuan buku cerita yang bisa mereka baca di perpustakaan baru sekolahnya,” kata Nila dalam postingan Instagram tentang peresmian perpustakaan tersebut di Nagekeo, Flores.

Selain mendirikan lebih dari 200 perpustakaan di Tanah Air, organisasi ini juga mengadakan lokakarya untuk para guru dan relawan lokal, yang meliputi pengelolaan perpustakaan dan kursus literasi dasar, serta kegiatan membaca dan kompetisi mendongeng untuk menanamkan kecintaan terhadap buku pada anak-anak.

3. Yan Du, Hong Kong

Yan Du/Foto: Dok. The Art Newspaper

Pendukung dan kolektor seni ini mendirikan Asymmetry Art Foundation yang berbasis di London untuk membina kurator masa depan, serta memperluas pengetahuan tentang seni kontemporer Asia. Asymmetry tidak hanya menyediakan beasiswa bagi kurator dan mahasiswa seni di seluruh Eropa, tapi juga menyelenggarakan diskusi, misalnya kurasi online atau identitas transnasional.

Pada tahun 2022, yayasan tersebut mengumumkan panggilan terbuka internasional untuk beasiswa penelitian kuratorial di Galeri Chisenhale di London. Jabatan selama 18 bulan ini diberikan kepada kurator karier awal yang mengidentifikasikan diri dengan budaya dan identitas Tiongkok Raya dan Sinofon.

4. Melissa Gomes, Malaysia

Melissa Gomes/Foto: Dok. Tatler Asia

Melalui Edvolution Enterprise, Melissa Gomes menciptakan pemimpin pendidikan transformatif di Malaysia. Program Pemberdayaan Guru untuk Transformasi Sekolah (TEST) dirancang untuk meningkatkan kualitas kepemimpinan dan keterampilan mengajar, yang semuanya mengarah pada peningkatan pembelajaran dan kompetensi siswa.

Dalam artikel yang ditulis untuk organisasi nirlaba tersebut, Melissa yang memiliki pengalaman lebih dari satu dekade di bidang konsultasi manajemen dan pendidikan, juga mengidentifikasi bagaimana guru harus menekankan pembelajaran sosial dan emosional, serta mengadopsi teknologi dalam praktik mereka agar berhasil di masa depan.

5. Pia D Bagamasbad, Filipina

Pia D Bagamasbad/Foto: Dok. Tatler Asia

"Untuk mengatasi kebutuhan besar negara kita dalam membangun sejumlah besar profesional STEM guna mendorong pembangunan sosial dan ekonomi, kita harus membimbing dan mempertahankan talenta Filipina di negara ini,” kata Pia D Bagamasbad, direktur National Institute of Molecular Biology and Biotechnology di Universitas Filipina Diliman (NIMBB).

Ketika Pia memimpin tim dari NIMBB dalam melatih para ahli teknologi medis tentang proses pengujian Covid-19, dia juga membantu negara tersebut meningkatkan respons terhadap pandemi.

Selanjutnya, Pia juga memimpin tim dibalik Kursus Laboratorium Pembelajaran Online Covid-19, yang sekali lagi membantu menjangkau lebih banyak tenaga medis di seluruh negeri. Pia dinobatkan sebagai salah satu The Outstanding Women in the Nation's Service (TOWNS) pada tahun 2022.

Itulah beberapa advokat perempuan yang bantu membentuk pendidikan masa depan Asia. Dengan memperkuat pendidikan, para advokat di atas membina pemimpin yang akan membentuk masa depan yang lebih baik.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)