5 Cara Mengenali Orang yang Menyimpan Luka Batin dari Ucapannya

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Selasa, 09 Jun 2026 16:30 WIB
Terlalu Bangga Menyelesaikan Semua Masalah Sendirian
Bangga Menyelesaikan Masalah Sendiri/Foto: Magnific

Pernah nggak kamu bertemu seseorang yang selalu terlihat kuat, tenang, dan seolah tidak punya masalah? Namun, ketika diperhatikan lebih jauh, ada banyak hal yang terasa ditahan. Menariknya, cara mengenali orang yang menyimpan luka batin sering kali bukan dari ekspresi wajahnya, melainkan dari kalimat-kalimat yang mereka ucapkan setiap hari.

Di balik jawaban sederhana seperti "aku baik-baik saja" atau "nggak usah dipikirin", terkadang tersimpan emosi yang jauh lebih kompleks. Bahkan menurut para psikolog, banyak orang yang memendam luka emosional tanpa sadar membangun pola komunikasi tertentu sebagai bentuk perlindungan diri. 

Jadi, apakah ada tanda-tanda yang bisa kita kenali dari ucapan mereka? Yuk kita simak berbagai cara mengenali orang yang menyimpan luka batin dilansir dari Parade!

Selalu Mengatakan

Berkata Baik-Baik Saja/Foto: Magnific

Pernah nggak kamu bertanya kepada seseorang tentang kondisinya, lalu langsung dijawab singkat, "aku baik-baik saja"? Padahal dari raut wajah atau nada bicaranya, terlihat jelas ada sesuatu yang sedang mengganggunya.

Menurut psikolog klinis Dr. Nicole Lipkin, banyak orang memilih jawaban tersebut karena merasa mengakui kekesalan atau kesedihan akan membuka pintu menuju pertengkaran. Karena itulah kalimat "aku baik-baik saja" sering dijadikan tameng untuk melindungi diri dari situasi yang dianggap tidak nyaman.

Dr. Golee Abrishami, psikolog klinis lainnya, juga menjelaskan bahwa sebagian orang merasa bersalah ketika harus membicarakan perasaannya secara jujur. Mereka khawatir dianggap merepotkan atau membuat suasana menjadi canggung. Akibatnya, mereka memilih diam meski sebenarnya sedang terluka.

Terlihat Sangat Perfeksionis dan Sulit Mengakui Kesalahan

Terlihat Sangat Perfeksionis/Foto: Magnific

Di kehidupan sehari-hari, mungkin kamu pernah bertemu seseorang yang selalu ingin terlihat baik, kuat, dan tidak pernah salah. Sekilas hal ini memang terlihat positif, tetapi terkadang ada alasan emosional yang tersembunyi di baliknya.

Menurut Dr. Lipkin, ketika identitas seseorang terlalu melekat pada kesempurnaan, mengakui bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja bisa terasa seperti sebuah kegagalan besar. Ia menjelaskan bahwa bagi sebagian orang, mengatakan "aku tidak baik-baik saja" terasa sangat menakutkan karena dapat merusak citra yang selama ini mereka bangun.

Karena itulah mereka terus tersenyum, terus bekerja keras, dan terus meyakinkan orang lain bahwa semuanya baik-baik saja. Padahal, di balik sikap tersebut, bisa saja ada luka yang belum pernah benar-benar diproses.

Terlalu Waspada dan Sulit Membuka Diri

Sulit Membuka Diri/Foto: Magnific

Apakah kamu punya teman yang selalu ramah tetapi sangat tertutup ketika pembicaraan mulai menyentuh hal-hal pribadi? Mereka mungkin bisa bercerita banyak tentang pekerjaan atau aktivitas sehari-hari, tetapi langsung mengalihkan topik ketika ditanya soal perasaannya.

Menurut psikolog klinis, Dr. Abrishami, kalimat "aku baik-baik saja" sering digunakan untuk menghentikan percakapan sebelum menjadi terlalu personal. Dengan cara ini, mereka tidak perlu membahas pengalaman atau emosi yang masih sulit dihadapi.

Biasanya, sikap waspada tersebut muncul karena pengalaman masa lalu yang membuat mereka takut dihakimi atau kembali disakiti. Karena itu, mereka membangun jarak emosional sebagai bentuk perlindungan diri.

Terlalu Bangga Menyelesaikan Semua Masalah Sendirian

Bangga Menyelesaikan Masalah Sendiri/Foto: Magnific

Kemandirian memang merupakan kualitas yang baik. Namun, ketika seseorang selalu menolak bantuan dan bersikeras mengatasi semuanya sendiri, ada kemungkinan terdapat luka emosional yang belum terselesaikan.

Dr. Abrishami menjelaskan bahwa beberapa orang merasa bangga karena mampu menangani semua masalah tanpa bantuan siapa pun. Mereka menganggap meminta dukungan sebagai sesuatu yang tidak perlu dilakukan.

Pernah mendengar kalimat seperti, "Tenang aja, aku bisa sendiri"? Kalimat tersebut memang terdengar kuat. Namun dalam beberapa kasus, itu juga bisa menjadi cara untuk menyembunyikan kebutuhan emosional yang sebenarnya sangat mereka butuhkan.

Terbiasa Menekan dan Mengabaikan Emosinya Sendiri

Mengabaikan Emosi Sendiri/Foto: Magnific

Tidak semua orang tumbuh di lingkungan yang mengajarkan cara mengekspresikan perasaan dengan sehat. Sebagian justru belajar bahwa menangis, sedih, atau menunjukkan kekecewaan adalah sesuatu yang harus disembunyikan.

Menurut Dr. Lipkin, pengalaman seperti ini membuat seseorang terbiasa mengesampingkan emosinya sendiri. Seiring waktu, mereka merasa memendam perasaan jauh lebih aman daripada mengambil risiko untuk terlihat rentan di depan orang lain.

Akibatnya, mereka menjadi sangat jarang membicarakan apa yang dirasakan. Bahkan ketika sedang terluka, mereka tetap terlihat tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa.

Luka batin tidak selalu terlihat dari tangisan atau curahan perasaan yang panjang. Justru dalam banyak kasus, rasa sakit itu bersembunyi di balik kalimat-kalimat sederhana yang terdengar biasa saja.

Karena itu, memahami cara mengenali orang yang menyimpan luka batin dapat membantu kita lebih peka terhadap diri sendiri maupun orang-orang terdekat. Siapa tahu, di balik kalimat "aku baik-baik saja" yang sering terdengar, sebenarnya ada seseorang yang sedang berharap dipahami tanpa harus menjelaskan semuanya.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.