5 Cara Menghadapi Rekan Kerja "Beracun" di Kantor, Jangan Buru-buru Resign!

Aqida Widya Kusmutiarani | Beautynesia
Rabu, 01 Jul 2026 09:15 WIB
5 Cara Menghadapi Rekan Kerja
5 Cara Menghadapi Rekan Kerja

Pernah merasa ingin resign gara-gara rekan kerja yang bikin emosi? Mulai dari rekan kerja yang suka cari drama, atasan yang terlalu micromanaging, hingga rekan satu tim yang diam-diam menjatuhkan. Tenang, kamu nggak sendirian.

Menghadapi orang yang "beracun" di tempat kerja memang bisa menguras energi, mengganggu fokus, bahkan memengaruhi performa kerja. Namun, sebelum buru-buru mencari pekerjaan baru, ada beberapa cara yang bisa dicoba untuk menghadapi mereka dengan lebih tenang dan profesional. Simak tipsnya berikut ini!

Jadikan Ini Kesempatan untuk Mengenali Trigger Kamu

Cara menghadapi difficult person
Difficult person/Foto: pexels.com/Mikhail Nilov

Meskipun menyebalkan, menghadapi orang yang bikin kesal di kantor sebenarnya bisa jadi kesempatan untuk lebih mengenal diri sendiri. Coba perhatikan, perilaku apa yang paling bikin kamu terpancing secara emosional. Apakah saat dikritik, diabaikan, diremehkan, atau diberi silent treatment?

Misalnya, ada rekan kerja yang tiba-tiba mendiamkan kamu. Kamu jadi sedih, overthinking, bahkan merasa tertekan. Nah, perilaku silent treatment itu bisa jadi adalah trigger kamu. Coba tanyakan ke diri sendiri, "Kenapa ya respons emosionalku sekuat ini?"

Lalu coba flashback ke masa lalu. Apakah dulu kamu pernah mengalami situasi serupa? Mungkin pernah merasa diabaikan oleh teman, pasangan, bahkan keluarga. Dengan mengenali asal-usul trigger tersebut, kamu jadi lebih paham dengan diri sendiri dan nggak mudah terbawa emosi saat menghadapi orang yang sulit di tempat kerja.

Jangan Langsung Kabur, Bisa Jadi Ini PR yang Perlu Kamu Selesaikan

Saat menghadapi difficult person di kantor, rasanya memang ingin cepat-cepat resign/Foto: pexels.com/Alireza Hajialiasghar

Saat menghadapi rekan kerja toksik di kantor, rasanya memang ingin cepat-cepat resign dan mencari lingkungan baru. Padahal, belum tentu masalahnya selesai begitu saja.

Coba lihat situasi ini sebagai kesempatan untuk belajar sesuatu yang selama ini mungkin masih menjadi PR dalam diri kamu. Bisa jadi kamu sedang belajar untuk lebih tegas, berhenti jadi people pleaser, berani mengungkapkan pendapat, atau memasang batasan yang sehat dengan orang lain.

Kalau setiap kali ada konflik kamu memilih pergi tanpa pernah mencoba menghadapinya, ada kemungkinan pola yang sama akan muncul lagi di tempat kerja berikutnya. Mungkin orangnya berbeda, jabatannya berbeda, tapi tantangan yang diberikan kurang lebih sama.

Sebelum memutuskan resign, tanyakan dulu pada diri sendiri "Apa yang sebenarnya sedang diajarkan situasi ini ke aku?" Siapa tahu, orang yang paling membuat kamu kesal justru sedang memaksa kamu mengembangkan kemampuan yang selama ini belum terasah.

Coba Lihat dari Sudut Pandang Mereka

Saat menghadapi orang yang sulit di kantor, biasanya pikiran yang langsung muncul adalah mereka memang menyebalkan/Foto: pexels.com/www.kaboompics.com

Saat menghadapi orang yang sulit di kantor, biasanya pikiran yang langsung muncul adalah mereka memang menyebalkan. Padahal, bisa jadi mereka punya alasan atau masalah sendiri yang membuat mereka bersikap seperti itu.

Daripada terus kesal, coba tanyakan ke diri sendiri, "Kenapa ya dia bertindak seperti ini?" atau "Apa yang sebenarnya sedang dia hadapi?"

Bukan berarti kamu harus memaklumi semua perilakunya, tapi dengan mencoba memahami sudut pandangnya, kamu bisa melihat situasi dengan lebih jernih dan nggak mudah terbawa emosi.

Fokus pada Polanya, Bukan Satu Kejadian

Saat kesal dengan seseorang di kantor, fokus pada polanya/Foto: pexels.com/Gustavo Fring

Saat kesal dengan seseorang di kantor, kita sering kali terpaku pada kejadian yang baru saja terjadi. Padahal, yang perlu diperhatikan sebenarnya adalah polanya.

Misalnya, bukan cuma sekali dia mengabaikan pendapatmu dalam rapat, tetapi hal itu sudah berulang kali terjadi selama beberapa bulan terakhir. Dengan melihat polanya, kamu bisa lebih memahami akar masalahnya dan menjelaskan keluhanmu dengan lebih jelas.

Kalau memang perlu dibicarakan, fokuslah pada perilaku yang terus berulang, bukan satu kejadian tertentu. Dengan begitu, percakapan akan terasa lebih objektif dan tidak terkesan seperti sekadar meluapkan emosi sesaat.

Ajak Bicara dengan Tenang dan Jelas

Kalau masalahnya terus berulang, jangan hanya memendam rasa kesal/Foto: pexels.com/AI25.Studio Studio

Kalau masalahnya terus berulang, jangan hanya memendam rasa kesal. Cobalah ajak orang tersebut berbicara secara baik-baik.

Saat memulai percakapan, fokuslah pada perilaku yang terjadi dan dampaknya terhadap pekerjaan, bukan menyerang kepribadiannya. Mulailah percakapan dengan niat untuk mencari solusi, bukan mencari siapa yang salah. Dengan begitu, lawan bicara nggak akan merasa diserang dan peluang untuk menemukan jalan keluar pun jadi lebih besar.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE