5 Ciri-ciri Atasan yang Tidak Mendukung dan Kurang Mengapresiasi Timnya

Kyla Putri Nathania | Beautynesia
Senin, 29 Jun 2026 07:30 WIB
Tidak Mengingat Hal-Hal Dasar Tentang Anggota Tim
Perhatian terhadap hal-hal kecil dapat menunjukkan kualitas kepemimpinan seseorang. Atasan yang tidak mengenal timnya sering kali dianggap kurang peduli terhadap kesejahteraan karyawan./ Foto: magnific.com/yanalya

Pekerjaan bukan hanya tentang menyelesaikan tugas selama delapan jam sehari atau menerima gaji setiap bulan. Hubungan antara karyawan dan atasan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, kesehatan mental, hingga produktivitas.

Lingkungan kerja yang positif biasanya ditandai dengan adanya komunikasi yang baik, rasa saling menghargai, dan dukungan dari pemimpin. Sebaliknya, atasan yang tidak peduli terhadap timnya dapat membuat karyawan merasa tidak dihargai, kehilangan motivasi, bahkan mengalami burnout.

Melalui unggahannya di media sosial, influencer karier Whitney Living yang dilansir dari YourTango membagikan sejumlah tanda yang menunjukkan seseorang mungkin sedang bekerja dengan atasan yang hanya memberikan usaha minimal atau low-effort boss. Jika hubungan dengan atasan terasa tidak sehat dalam jangka panjang, penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini agar dapat mengambil langkah yang tepat. Berikut beberapa di antaranya yang perlu diperhatikan.

Tidak Mengakui Kerja Keras dan Kontribusi Tim

Atasan yang baik tidak ragu memberikan apresiasi atas pencapaian timnya. Sebaliknya, atasan yang kurang mendukung sering kali mengabaikan kontribusi karyawan./ Foto: magnific.com/krakenimages.com

Atasan yang baik tidak ragu memberikan apresiasi atas pencapaian timnya. Sebaliknya, atasan yang kurang mendukung sering kali mengabaikan kontribusi karyawan./ Foto: magnific.com/krakenimages.com

Salah satu tanda paling jelas dari atasan yang kurang menghargai tim adalah tidak pernah mengakui kerja keras yang telah dilakukan karyawan. Padahal, apresiasi sederhana seperti ucapan terima kasih atau pengakuan atas pencapaian dapat meningkatkan motivasi kerja secara signifikan. 

Berbagai penelitian tentang manajemen sumber daya manusia menunjukkan bahwa pengakuan terhadap kontribusi karyawan berhubungan erat dengan tingkat keterlibatan (employee engagement) dan kepuasan kerja. Jika atasan hanya muncul ketika ada kesalahan tetapi tidak pernah memberikan apresiasi saat pekerjaan berjalan baik, hal tersebut bisa menjadi sinyal bahwa mereka kurang menghargai timnya.

Meskipun nilai pekerjaan tidak ditentukan oleh pujian atasan, pemimpin yang baik tetap memahami pentingnya memberikan penghargaan ketika memang layak diberikan.

Sering Memberikan Janji yang Tidak Ditepati

Konsistensi merupakan salah satu kualitas penting dalam kepemimpinan. Atasan yang sering mengingkari janji dapat merusak kepercayaan dan semangat kerja tim./ Foto: magnific.com/pch.vector

Konsistensi merupakan salah satu kualitas penting dalam kepemimpinan. Atasan yang sering mengingkari janji dapat merusak kepercayaan dan semangat kerja tim./ Foto: magnific.com/pch.vector

Kepercayaan adalah fondasi utama dalam hubungan profesional. Namun, atasan yang tidak mendukung sering kali mengatakan sesuatu tanpa benar-benar merealisasikannya. Misalnya menjanjikan promosi, pelatihan, kenaikan tanggung jawab, atau perbaikan sistem kerja yang tak kunjung diwujudkan.

Melansir Harvard Business Review, perilaku yang tidak konsisten ini dapat menciptakan ketidakpastian di lingkungan kerja. Karyawan menjadi sulit mempercayai arahan maupun komitmen yang diberikan.

Kurangnya transparansi dan konsistensi juga dapat berdampak pada kesejahteraan psikologis karyawan karena mereka merasa tidak memiliki kepastian mengenai perkembangan karier maupun kondisi kerja mereka.

Tidak Berusaha Membangun Hubungan dengan Tim

Pemimpin yang baik memahami bahwa karyawan adalah individu, bukan sekadar pekerja. Hubungan yang sehat antara atasan dan tim dapat meningkatkan rasa percaya dan loyalitas./ Foto: magnific.com

Pemimpin yang baik memahami bahwa karyawan adalah individu, bukan sekadar pekerja. Hubungan yang sehat antara atasan dan tim dapat meningkatkan rasa percaya dan loyalitas./ Foto: magnific.com

Atasan yang peduli biasanya berusaha mengenal anggota timnya, meskipun hanya melalui percakapan sederhana. Mereka mengetahui minat, tujuan karier, atau setidaknya beberapa hal dasar tentang kehidupan karyawannya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka melihat tim sebagai manusia, bukan sekadar sumber daya untuk menyelesaikan pekerjaan.

Sebaliknya, atasan yang tidak pernah berusaha menjalin hubungan personal sering kali memperlakukan karyawan hanya sebagai alat untuk mencapai target perusahaan. Ketika hubungan kerja terasa terlalu dingin dan transaksional, karyawan dapat merasa kurang dihargai dan kehilangan rasa memiliki terhadap organisasi.

Mengabaikan Masukan dan Keluhan Karyawan

Masukan dari karyawan merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Atasan yang mengabaikan feedback menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap tim./ Foto: magnific.com/DC Studio

Masukan dari karyawan merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Atasan yang mengabaikan feedback menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap tim./ Foto: magnific.com/DC Studio

Dalam organisasi yang sehat, karyawan memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, kritik, maupun kekhawatiran terkait pekerjaan.

Namun, atasan yang kurang mendukung biasanya tidak benar-benar mendengarkan masukan tersebut. Mereka cenderung mengabaikan, meremehkan, atau bahkan menolak setiap kritik tanpa mempertimbangkannya secara objektif.

Menurut psikoterapis Janet Whitney, hubungan kerja yang positif dan memuaskan tidak mungkin terwujud tanpa adanya rasa saling menghormati. Ketika pendapat karyawan terus-menerus diabaikan, mereka akan kehilangan motivasi untuk berkontribusi secara maksimal. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan keterlibatan dan produktivitas kerja.

Tidak Mengingat Hal-Hal Dasar Tentang Anggota Tim

Perhatian terhadap hal-hal kecil dapat menunjukkan kualitas kepemimpinan seseorang. Atasan yang tidak mengenal timnya sering kali dianggap kurang peduli terhadap kesejahteraan karyawan./ Foto: magnific.com/yanalya

Perhatian terhadap hal-hal kecil dapat menunjukkan kualitas kepemimpinan seseorang. Atasan yang tidak mengenal timnya sering kali dianggap kurang peduli terhadap kesejahteraan karyawan./ Foto: magnific.com/yanalya

Seorang atasan memang memiliki banyak tanggung jawab. Namun, pemimpin yang baik biasanya tetap berusaha mengenal anggota timnya.

Mengingat nama anggota keluarga, tujuan karier, masa kerja, atau pencapaian tertentu dapat menjadi bentuk perhatian yang sederhana tetapi bermakna. Menurut executive coach Simone Sloan, kepemimpinan yang efektif berarti bersedia menjadi pendukung dan advokat bagi individu dalam tim.

Sebaliknya, ketika atasan bahkan tidak mengingat informasi dasar tentang anggota timnya, hal tersebut dapat memberikan kesan bahwa keberadaan karyawan hanya dipandang sebatas peran pekerjaan, bukan sebagai individu yang berharga.

Menurutmu, dari lima tanda di atas, mana yang paling sering membuat karyawan merasa tidak dihargai di tempat kerja, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE