Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli

Adira P | Beautynesia
Selasa, 03 Feb 2026 16:30 WIB
Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli
Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli/Foto: Freepik/freepik

Beauties, pernahkah kamu mendengar istilah "conscious unbossing"? Istilah ini merujuk pada fenomena di mana pekerja muda, khususnya Gen Z, sengaja menolak promosi ke posisi manajerial. Bukan soal kurang ambisi, tapi lebih pada redefinisi kesuksesan karier menurut generasi ini.

Menurut studi dari perusahaan solusi talenta global Robert Walters, lebih dari separuh (sekitar 52%) profesional Gen Z di Inggris tidak ingin menjadi manajer tingkat menengah. Bahkan, hampir tiga perempat (sekitar 72%) lebih memilih jalur karier individual daripada harus "mengelola" orang lain.

Apa sebenarnya yang membuat Gen Z ogah menjadi bos di tempat kerja? Yuk, simak ulasannya berikut ini!

Stres Tinggi, Imbalan Rendah

Alasan utama Gen Z menghindari posisi manajer adalah persepsi bahwa peran tersebut memiliki tingkat stres yang tinggi tetapi imbalan yang tidak sebanding. Menurut survei Robert Walters, 69% profesional Gen Z menyatakan bahwa posisi manajer tingkat menengah adalah "stres tinggi, imbalan rendah," dikutip dari CTO Magazine.

Lucy Bisset, Director of Robert Walters North, menjelaskan bahwa mereka yang baru memasuki manajemen tingkat menengah mengalami lonjakan beban kerja yang drastis. Ekspektasi untuk "selalu tersedia" bagi tim yang mereka kelola, ditambah tekanan untuk mencapai target pribadi mereka sendiri, membuat peran ini terasa sangat melelahkan.

Survei dari Capterra menemukan bahwa 75% manajer tingkat menengah mengakui merasa kewalahan, stres, hingga burnout. Tidak mengherankan jika Gen Z yang menyaksikan realitas ini memilih untuk tidak mengambil jalur karier tersebut.

Menyaksikan Orang Tua Mengalami Burnout

Ilustrasi stres

Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli/Foto: Freepik/DCStudio

Gen Z tumbuh dengan menyaksikan orang tua atau kakak mereka berjuang di posisi manajemen. Mereka melihat secara langsung bagaimana loyalitas bertahun-tahun terhadap perusahaan tidak selalu menghasilkan kesejahteraan yang sepadan.

"Mereka melihat orang tua mereka naik ke posisi manajemen lalu mengalami burnout," ujar Flo Falayi, associate client partner di Korn Ferry, firma konsultansi manajemen dan organisasi global.

Sejak memasuki dunia kerja di saat pandemi COVID-19, pekerja Gen Z juga menyaksikan manajer mereka sendiri dipaksa beradaptasi dengan supervisi jarak jauh. Tak hanya itu, mereka juga dibebani tugas menjaga keterlibatan karyawan selama perubahan kebijakan bekerja dari kantor yang berulang kali berubah.

Gen Z melihat tanggung jawabnya, tapi bukan imbalannya. Jadi, mereka berpikir: mengapa harus naik jabatan?

Prioritas pada Kesehatan Mental

Me time adalah bentuk self reward sederhana yang memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Dengan menikmati waktu tenang secara sadar, kesehatan mental terjaga dan keuangan tetap aman.

Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli/Foto: Freepik.com/Lifestylememory

Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z menempatkan kesehatan mental sebagai prioritas utama, bahkan di atas ambisi karier. Penelitian menunjukkan bahwa Gen Z secara umum mengalami tingkat kecemasan serta tantangan kesehatan mental yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lain.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Walton Family Foundation, 42% Gen Z berjuang melawan depresi serta perasaan putus asa. Sementara itu, Harmony Healthcare IT merilis laporan yang menyatakan bahwa kecemasan di Gen Z telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, dengan 61% telah didiagnosis secara medis dengan kondisi kecemasan, dikutip dari CTO Magazine.

Hampir sembilan dari sepuluh mahasiswa Gen Z menganggap kesehatan mental sebagai hal yang tidak bisa ditawar-tawar, dikutip dari WorkTango. Survei Deloitte 2025 tentang Gen Z serta milenial mendukung hal ini, menunjukkan bahwa kesejahteraan adalah prioritas utama, bahkan jika itu berarti menolak promosi.

Beauties, dengan begitu banyak masalah kesehatan yang sudah ada, wajar jika Gen Z tidak ingin menambah stres dalam hidup mereka dengan mengambil posisi manajerial yang menuntut lebih banyak.

Menginginkan Fleksibilitas dan Work-Life Balance

Kamu paham bahwa bentuk rezeki bukan hanya soal uang, tapi juga lingkungan kantor yang menyenangkan, pekerjaan yang kamu sukai, atau work life balance yang realistis.

Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli/Foto: Pexels/Kindel Media

Bagi Gen Z, fleksibilitas tempat kerja serta keseimbangan hidup dan kerja bukanlah privilese, melainkan ekspektasi. Menurut laporan Randstad, 46% Gen Z memprioritaskan fleksibilitas tempat kerja, sementara 51% lebih memilih jam kerja yang fleksibel saat mencari pekerjaan berikutnya. Bahkan, 48% menggambarkan kemampuan bekerja dari rumah sebagai hal yang tidak bisa ditawar-tawar, dikutip dari CTO Magazine.

Posisi kepemimpinan tradisional sering dipandang sebagai kebalikan dari fleksibilitas ini: rapat berturut-turut, keharusan hadir secara fisik, serta waktu yang lebih sedikit untuk proyek pribadi. Bagi generasi yang menghargai otonomi, alur kreatif, hingga pekerjaan sampingan, peran manajerial tradisional terasa seperti jebakan.

Dikutip dari laman Success, Harrison Tang, CEO serta co-founder Spokeo, menjelaskan bahwa Gen Z ingin mengkultivasi kebahagiaan, kesejahteraan, dan pertumbuhan pribadi saat ini, bukan di masa depan yang jauh. Jika mereka harus mengalami stres, mereka lebih memilih untuk usaha mereka sendiri daripada bisnis orang lain.

Lebih Memilih Pertumbuhan Individual daripada Mengelola Orang Lain

Orang cerdas menyukai momen sendiri. Mereka akan menggunakannya untuk melakukan hobi atau refleksi.

Studi Ungkap 52% Gen Z Ogah Jadi Manajer di Tempat Kerja, Ini Alasannya Menurut Ahli/Foto: Pexels.com/Armin Rimoldi

Gen Z dikenal dengan pola pikir kewirausahaan mereka. Mereka lebih suka membawa "diri mereka sepenuhnya" ke dalam proyek serta meluangkan waktu untuk mengembangkan brand pribadi mereka sendiri, daripada menghabiskan waktu mengelola orang lain.

Menurut survei Robert Walters, 72% Gen Z akan memilih jalur individual untuk memajukan karier mereka, yang berfokus pada pertumbuhan pribadi serta akumulasi keterampilan, daripada mengambil peran manajerial.

Alih-alih menjadi bos, pekerja Gen Z lebih sering memilih memainkan peran penting dalam tim, bekerja dari belakang layar, berkontribusi pada proyek yang bermakna, tanpa perlu berada di pusat perhatian.

Beauties, itulah 5 alasan utama mengapa Gen Z menghindari posisi manajer di tempat kerja. Bukan tentang menghindari tanggung jawab, tetapi lebih pada redefinisi apa arti kepemimpinan serta kesuksesan di dunia modern. Gen Z tidak anti-pertumbuhan, mereka hanya ingin maju dengan cara mereka sendiri dan memperdalam keahlian mereka daripada mengelola orang. Apa pendapat kamu tentang fenomena ini?

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE