5 Ciri Kepribadian Orang Berhati Dingin Menurut Psikolog

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Minggu, 04 Jan 2026 19:30 WIB
5 Ciri Kepribadian Orang Berhati Dingin Menurut Psikolog
Orang Berhati Dingin/Foto: Freepik

Ciri orang berhati dingin sering kali tidak terlihat jelas di awal perkenalan. Banyak orang tampak tenang, kalem, dan terkontrol, tapi ternyata menyimpan jarak emosional yang cukup tebal. Dalam psikologi, sikap ini bukan sekadar soal kepribadian, melainkan hasil dari pengalaman hidup yang membentuk cara seseorang bertahan.

Psikolog Linda Mealey dan Stuart Kinner menjelaskan bahwa berhati dingin sering dikaitkan dengan rendahnya empati emosional. Namun, bentuknya tidak selalu ekstrem atau kasar. Justru, tanda-tandanya sering muncul secara halus. Karena itu, memahami polanya bisa membantu kamu menjaga batasan sehat, sekaligus tidak mudah terjebak dalam hubungan yang menguras emosi.

Terlihat Pendiam dan Sangat Menjaga Jarak

Terlihat Pendiam dan Sangat Menjaga Jarak/Foto: Freepik

Banyak orang berhati dingin tidak suka berbagi cerita personal. Mereka cenderung pendiam, terkesan datar, dan tidak mudah terbuka. Bahkan ketika suasana mendukung, mereka tetap menjaga jarak. Sikap ini sering disalahartikan sebagai sombong atau tidak ramah.

Psikolog Leon F. Seltzer berpendapat bahwa pola ini berkaitan dengan avoidant attachment style. Pola tersebut biasanya terbentuk akibat orang tua yang emosionalnya tidak hadir. Akibatnya, saat dewasa, mereka belajar menekan kebutuhan emosional agar tidak kecewa. Jadi, jika kamu merasa diabaikan, sering kali itu bukan tentang kamu.

Terlihat Tenang, Namun Sulit Terhubung Secara Emosional

Orang yang Cuek/Foto: Freepik

Secara sekilas, mereka terlihat dewasa dan rasional. Namun, ketika kamu mencoba membangun koneksi emosional, responnya terasa kosong. Mereka jarang mengekspresikan perasaan, baik bahagia maupun sedih. Semua seolah diproses di kepala, bukan di hati.

Psikolog Matthew Boland menjelaskan bahwa emotional detachment bisa sehat dalam kondisi tertentu. Namun, jika muncul terus-menerus, itu menjadi sinyal perlindungan diri berlebihan. Banyak dari mereka hidup dalam mode “waspada”. Akibatnya, keintiman terasa mengancam, bukan menenangkan.

Sangat Mandiri dan Enggan Meminta Bantuan

Perempuan Mandiri/Foto: Freepik

Mereka terbiasa melakukan segalanya sendiri. Saat ditawari bantuan, responnya sering defensif. Bahkan dukungan tulus bisa dianggap mengganggu. Bagi mereka, bergantung pada orang lain terasa berisiko.

Menurut Newport Institute, hiper-independensi adalah keputusan sadar untuk tidak meminta bantuan. Pola ini sering muncul setelah pengalaman dikecewakan. Jadi, Beauties, ketika mereka terlihat dingin, sebenarnya ada ketakutan kehilangan kontrol di baliknya.

Mudah Curiga dan Sulit Mempercayai Orang Lain

Orang Berhati Dingin/Foto: Freepik

Mereka sering membaca makna tersembunyi di balik ucapan orang. Bahkan hal sederhana bisa dianggap sebagai ancaman. Akibatnya, hubungan terasa tegang dan penuh asumsi. Padahal, tidak semua orang berniat buruk.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai hypervigilance. Individu selalu siaga agar tidak terluka lagi. Namun, sikap ini justru menjauhkan mereka dari hubungan sehat. Jika kamu menghadapinya, penting untuk menjaga batas emosional tanpa memaksa kepercayaan.

Terlalu Kritis dan Sering Meremehkan

Orang yang Kaku/Foto: Freepik

Mereka sering mengomentari kesalahan orang lain. Bahkan pencapaian pun bisa dipatahkan dengan kritik. Sikap ini membuat orang di sekitarnya merasa tidak cukup baik. Hubungan pun perlahan terkuras energinya.

Psikolog menjelaskan bahwa kritik berlebihan sering digunakan untuk mempertahankan rasa aman. Dengan merendahkan orang lain, mereka merasa lebih terkendali. Namun, tanpa disadari, pola ini menjaga mereka tetap dalam lingkaran defensif dan kesepian.

Memahami ciri orang yang hatinya dingin bukan untuk memberi label negatif. Justru, ini membantu kamu melihat konteks emosional di balik sikap seseorang. Banyak dari mereka tidak berniat menyakiti, hanya belum selesai dengan luka batinnya sendiri.

Namun, empati tetap perlu dibarengi batasan sehat. Kamu boleh memahami, tanpa harus mengorbankan diri. Dengan kesadaran ini, kamu bisa membangun hubungan yang lebih aman, dewasa, dan emosionalnya seimbang.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.