5 Ciri Kepribadian Orang yang Suka Oversharing Menurut Ilmu Psikologi

Sierra Ayuningtyas Muktisari | Beautynesia
Selasa, 24 Feb 2026 21:00 WIB
1. Menginginkan Koneksi Secara Intens
Menginginkan koneksi secara intens/ Foto: Freepik

Beauties, pernah bertemu dengan orang yang sering berbagi informasi mengenai banyak hal, bahkan mengenai hal pribadi sekalipun? Atau ternyata, kamu merupakan tipe orang tersebut? Bisa jadi kamu merupakan orang yang suka  oversharing,  Beauties.

Melansir dari Better Up, oversharing adalah berbagi informasi pribadi lebih banyak daripada yang diperlukan untuk hubungan atau situasi tertentu. Baik saat kamu berbicara dengan teman, rekan kerja, atau orang asing, setiap hubungan memiliki tingkat keterbukaan emosional yang berbeda.

Oversharing yang berlebihan terjadi ketika kita melampaui batasan-batasan tersebut dan berbagi mengenai kehidupan pribadi terlalu cepat, bahkan kepada orang yang baru kita kenal secara langsung atau melalui media sosial, Beauties.

Menurut ilmu psikologi sendiri, ada beberapa ciri kepribadian dari orang yang suka oversharing. Simak penjelasannya berikut ini!

1. Menginginkan Koneksi Secara Intens

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi tahu bagaimana menjadi pendengar yang baik. Bagi mereka, mendengarkan bukan hanya sekadar untuk merespon, namun juga menjadi wadah untuk memahami dan belajar.

Menginginkan koneksi secara intens/ Foto: Freepik

Ciri kepribadian pertama dari orang yang suka oversharing yakni sering menginginkan koneksi atau kedekatan dengan orang lain secara intens.

Saat merasa kesepian, banyak orang merasakan ‘haus’ koneksi secara emosional, sehingga bersikap oversharing atau berbagi informasi mengenai hal pribadi menjadi ‘jalan pintas’ yang kerap dipilih.

Namun, perlu diketahui bahwa koneksi atau kedekatan yang nyata perlu dibangun secara perlahan-lahan dan tidak bisa melalui proses instan, Beauties.

2. Merasa Kesepian

Ciri lain yang menunjukkan kesepian adalah mereka “aktif” di dunia maya lewat like dan DM, namun sering gagal membangun hubungan emosional di dunia nyata. Hubungan nyata terasa kosong dan mereka merasa kurang terhubung secara emosional.

Merasa kesepian/ Foto: freepik.com

Orang-orang yang merasa kesepian diam-diam menginginkan koneksi atau hubungan. Mereka yang suka oversharing menjadikan hal tersebut sebagai upaya untuk tetap terhubung dengan orang lain, serta dengan harapan bahwa orang lain akan membalas dengan komentar atau tombol suka di media sosial.

Melalui hal ini, mereka ingin berinteraksi dengan orang lain seperti di media sosial dengan cara yang mungkin tidak dapat dilakukan di dunia nyata, Beauties.

3. Punya Tingkat Kecemasan yang Tinggi

Orang yang berjuang tidur sendiri memiliki kepribadian suka overthinking. Waktu malam yang sunyi, sepi, dan gelap membuatnya cemas dan banyak berpikir.

Punya tingkat kecemasan yang tinggi/ Foto: freepik.com

Beauties, orang-orang yang suka oversharing kemungkinan punya tingkat kecemasan yang tinggi. Melansir dari GE Editing, rasa cemas membuat pikiran berpacu cepat, bahkan membuat ‘keheningan’ terasa mengancam.

Ketika seseorang merasa cemas saat menghadapi situasi sosial baru, mereka menggunakan sikap oversharing sebagai ‘pelepasan’ dari rasa cemas tersebut. Dengan berbicara, mereka bisa mencegah kecanggungan, menenangkan saraf, dan mengisi ruang interaksi.

Psikolog menyebut ini "pengungkapan diri untuk regulasi emosional”, atau menggunakan kata-kata untuk meredakan ketidaknyamanan.

4. Kurang Memiliki Batasan

Terlalu oversharing/Foto:freepik.com/pressfoto

Kurang memiliki batasan/ Foto: freepik.com

Orang-orang yang suka oversharing berlebihan terkadang kurang memiliki batasan pribadi, Beauties. Melansir dari Psychology Today, hal ini karena mereka tidak menyadari bahwa ada beberapa hal yang ‘kurang pantas’ untuk diceritakan kepada orang lain, misalnya mengungkapkan masalah hubungan pribadi atau masalah keuangan kepada orang asing.

Di sisi lain, seseorang yang kurang memiliki batasan atau boundaries terkadang kurang memiliki hubungan yang dekat, hal ini kemungkinan besar karena mereka telah membuat orang-orang di sekitarnya menjauh, Beauties.

Akibatnya, orang-orang seperti ini sering kekurangan orang kepercayaan yang tertarik untuk mendengarkan masalah pribadi mereka.

5. Egois

Orang egois cenderung menguasai percakapan dan selalu mengarahkan pembahasan kembali ke dirinya sendiri tanpa memberi ruang pada orang lain.

Egois/ Foto: freepik.com

Beberapa orang kerap bersikap egois dan berpikir bahwa setiap hal yang mereka lakukan sangat penting bagi orang lain. Melansir dari Huff Post, setiap orang secara alami memiliki sisi egois masing-masing, sehingga mudah melupakan bahwa dunia tidak berputar pada diri sendiri, Beauties.

Sifat ini juga biasanya dikaitkan dengan kepribadian narsistik yang membuat seseorang percaya bahwa dirinya adalah pusat dunia.

---

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE