5 Fakta Unik Sumpah Pemuda

Florence Febriani Susanto | Beautynesia
Rabu, 28 Oct 2026 08:30 WIB
Mohammad Yamin Merumuskan Naskah Ikrar dalam Secarik Kertas
Dirumuskan dalam Secarik Kertas/Foto: Wikipedia

Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda sebagai salah satu momen penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ikrar tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa ini menjadi simbol semangat persatuan di tengah keberagaman.

Namun, Beauties, tahukah kamu bahwa ada banyak cerita menarik di balik peristiwa bersejarah tersebut? Beberapa fakta unik Sumpah Pemuda bahkan mungkin belum pernah kamu dengar sebelumnya. Yuk, kenali lima di antaranya!

Ikrarnya Belum Langsung Disebut Sumpah Pemuda

Tak Langsung Bernama Sumpah Pemuda/Foto: Wikipedia

Saat Kongres Pemuda II berlangsung pada 27–28 Oktober 1928, rumusan ikrar yang dibacakan belum memiliki judul khusus berupa Sumpah Pemuda. Para peserta berkumpul untuk membahas gagasan persatuan, tetapi rumusan tersebut belum langsung dikenal dengan nama yang kita gunakan sekarang.

Penyebutan Sumpah Pemuda baru muncul setelah kongres berlangsung selama beberapa hari. Meski namanya belum digunakan saat ikrar dibacakan, tanggal 28 Oktober tetap menjadi tonggak penting yang diperingati setiap tahun.

Mohammad Yamin Merumuskan Naskah Ikrar dalam Secarik Kertas

Dirumuskan dalam Secarik Kertas/Foto: Wikipedia

Fakta unik Sumpah Pemuda berikutnya berkaitan dengan Mohammad Yamin, sekretaris Kongres Pemuda II yang berperan dalam merumuskan ikrar. Ia merapikan gagasan hasil diskusi menjadi rumusan yang lebih terstruktur.

Menurut kisah yang tercatat dalam buku Bisa Sejarah Indonesia untuk SMA, Yamin menuliskan rumusan tersebut pada secarik kertas. Ia kemudian menyerahkannya kepada Soegondo Djojopoespito ketika Mr. Sunario sedang berpidato pada sesi akhir kongres.

Soegondo membacakan ikrar tersebut, kemudian Yamin menjelaskannya lebih lanjut. Menarik, ya, Beauties? Naskah yang menjadi simbol persatuan bangsa itu lahir dari rangkaian diskusi para pemuda.

Kongres Pemuda II Berlangsung di Rumah Milik Sie Kok Liong

Berlangsung di Rumah Sie Kok Liong/Foto: Wikipedia

Menurut buku Politik Kebangsaan karya Joko Siswanto, ikrar Sumpah Pemuda dibacakan di Gedung Indonesische Clubgebouw, Weltevreden, yang kini dikenal sebagai Gedung Sumpah Pemuda.

Bangunan tersebut merupakan milik Sie Kok Liong, seorang warga keturunan Tionghoa. Selain itu, sejumlah perwakilan pemuda peranakan Tionghoa juga hadir dalam Kongres Pemuda II dan turut mengikrarkan Sumpah Pemuda.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa semangat persatuan Indonesia tumbuh di tengah masyarakat yang beragam. Perjuangan membangun identitas bangsa tidak terlepas dari keterlibatan berbagai kelompok.

Ada Enam Perempuan yang Tercatat Mengikuti Kongres

Ada Perempuan yang Mengikuti Kongres/Foto: Wikipedia

Ketika membahas sejarah Sumpah Pemuda, kita mungkin lebih sering mendengar nama-nama tokoh pria. Padahal, perempuan juga hadir dan mengambil bagian dalam Kongres Pemuda II.

Dari 82 peserta yang tercatat resmi dalam kongres tersebut, terdapat enam perempuan. Jumlahnya memang tidak banyak, tetapi kehadiran mereka menunjukkan bahwa perempuan turut menjadi bagian dari gerakan pemuda pada masa itu.

Keterlibatan mereka juga mengingatkan kita bahwa perjuangan membangun bangsa bukan hanya dilakukan oleh satu kelompok. Peran perempuan dalam berbagai peristiwa sejarah Indonesia patut mendapat perhatian yang sama.

Pesertanya Berasal dari Wilayah Barat hingga Timur Indonesia

Peserta Berasal dari Barat hingga Timur/Foto: Wikipedia

Kongres Pemuda II mempertemukan perwakilan organisasi pemuda dari berbagai wilayah Nusantara. Mereka membawa latar belakang budaya dan daerah yang berbeda, tetapi memiliki tujuan untuk memperkuat persatuan Indonesia.

Salah satu contohnya adalah Mohammad Yamin yang berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat. Ada pula Johannes Leimena yang berasal dari Ambon, Maluku, wilayah Indonesia bagian timur.

Pertemuan berbagai perwakilan daerah tersebut memperlihatkan bahwa persatuan tidak mengharuskan semua orang memiliki latar belakang yang sama. Justru, perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika setiap orang memiliki tujuan bersama.

Nah, Beauties, lima fakta unik Sumpah Pemuda tadi menunjukkan bahwa peristiwa 28 Oktober 1928 memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar pembacaan ikrar. Semangat Sumpah Pemuda juga tetap relevan hingga sekarang. Di tengah perbedaan suku, budaya, dan pandangan, kita bisa terus belajar untuk saling menghargai dan menjaga persatuan Indonesia. Selamat Hari Sumpah Pemuda, Beauties!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.