5 Hal yang Kerap Dilakukan Introvert saat Marah dan Merasa Kesal

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Selasa, 13 Jan 2026 15:30 WIB
1. Melampiaskan Amarah Mereka pada Benda Mati
Melampiaskan Amarah Mereka pada Benda Mati/Foto: Freepik.com/ Benzoix

Marah biasanya muncul ketika ada batasan yang dilanggar, harapan yang tidak terpenuhi, atau perasaan tidak dihargai. Emosi ini sebenarnya berfungsi sebagai sinyal. Ia memberi tahu bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan perlu diperhatikan. Masalahnya bukan pada rasa marah itu sendiri, melainkan pada cara kita menekan, mengabaikan, atau mengekspresikannya dengan cara yang melukai diri sendiri maupun orang lain.

Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam mengekspresikan kemarahan. Begitu pun dengan kepribadian seorang introvert. Introvert sering dikenal sebagai sosok yang tenang, pendiam, dan jarang menunjukkan emosi secara terbuka. Karena citra inilah, banyak orang mengira introvert hampir tidak pernah marah.

Padahal kenyataannya, introvert juga bisa marah, bahkan sangat marah. Bedanya, cara mereka mengekspresikan emosi ini cenderung lebih sunyi dan tidak selalu terlihat jelas. Untuk kamu seorang introvert, memahami sisi ini bisa membantu kita lebih jujur pada diri sendiri dan lebih peka pada orang lain.

Berikut ini adalah beberapa hal yang kerap dilakukan introvert ketika mereka sedang marah, seperti yang dilansir dari True You Journal.

1. Melampiaskan Amarah Mereka pada Benda Mati

Melampiaskan Amarah Mereka pada Benda Mati/Foto: Freepik.com/ Benzoix

Ketika marah, introvert jarang langsung mengekspresikan emosinya kepada orang lain. Mereka cenderung menahan diri karena tidak ingin memicu konflik, takut menyakiti perasaan orang lain, atau belum siap mengungkapkan apa yang dirasakan. Akibatnya, emosi yang menumpuk mencari jalan keluar yang lebih aman. Di sinilah benda mati sering menjadi sasaran pelampiasan.

Melampiaskan marah pada benda mati bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang meremas bantal, membanting pintu dengan keras, memukul meja, merobek kertas, atau membersihkan rumah dengan tenaga ekstra. Bagi introvert, ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan cara untuk melepaskan tekanan tanpa harus melibatkan orang lain. Mereka merasa lebih aman menyalurkan amarah ke benda yang tidak akan tersakiti secara emosional.

2. Pesimis

Pesimis/Foto: Freepik.com/ krakenimages.com

Saat introvert marah, pikirannya biasanya langsung bekerja terlalu aktif. Mereka menganalisis situasi berulang kali, memikirkan apa yang salah, siapa yang bersalah, dan apa dampaknya ke depan. Dalam kondisi emosi yang belum stabil, proses berpikir ini sering berubah menjadi overthinking. Dari sinilah pesimisme perlahan muncul. Hal-hal kecil bisa terasa besar, dan masa depan terlihat lebih suram dari kenyataannya.

Introvert cenderung memendam emosi daripada langsung meluapkannya. Ketika marah tidak tersalurkan dengan sehat, emosi tersebut berputar di dalam diri. Akibatnya, introvert mulai menyalahkan diri sendiri, meragukan keputusan, atau merasa semuanya tidak akan membaik. Pesimisme ini bukan karena introvert lemah, melainkan karena mereka merasakan segalanya dengan lebih dalam.

3. Bereaksi Berlebihan saat Mengalami Kemunduran

Bereaksi Berlebihan saat Mengalami Kemunduran/Foto: Freepik.com/ Freepik

Saat introvert mengalami kemunduran, emosi yang muncul jarang berdiri sendiri. Ada rasa kecewa, sedih, lelah, dan marah yang bercampur menjadi satu. Karena introvert terbiasa memproses segalanya secara internal, kemunduran sering terasa sangat personal. Bukan sekadar gagal, tetapi dianggap sebagai bukti bahwa diri mereka kurang mampu atau tidak cukup baik. Dari sinilah reaksi berlebihan mulai muncul.

Beraksi berlebihan bagi introvert tidak selalu berarti marah-marah atau drama. Justru, bentuknya sering sunyi tapi intens. Mereka bisa langsung menarik diri, menyalahkan diri sendiri secara ekstrem, atau merasa seluruh usaha sebelumnya sia-sia. Satu kemunduran kecil bisa membuat introvert mempertanyakan seluruh perjalanan hidupnya. Pikiran mereka berlari jauh, melampaui situasi yang sebenarnya.

4. Mereka Menarik Diri

Mereka Menarik Diri/Foto: Pexels.com/ Liza Summer

Saat marah, menarik diri adalah mekanisme perlindungan bagi introvert. Mereka butuh jarak untuk menenangkan pikiran dan emosi. Bukan karena tidak peduli atau ingin menghindar selamanya, tetapi karena berbicara dalam kondisi emosi yang belum stabil terasa terlalu berisiko. Introvert takut mengatakan hal-hal yang akan disesali atau justru memperkeruh keadaan.

Menarik diri bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada yang memilih diam, membalas pesan seperlunya, mengurangi interaksi, atau menghabiskan waktu sendirian lebih lama dari biasanya. Dari luar, sikap ini sering disalahartikan sebagai dingin, cuek, atau tidak mau menyelesaikan masalah. Padahal, di dalam diri introvert, proses emosional sedang berjalan sangat intens.

Introvert cenderung memproses marah secara internal. Mereka menganalisis kejadian, memikirkan kata-kata yang terucap, dan mencoba memahami perasaan sendiri maupun orang lain. Proses ini membutuhkan waktu dan ruang. Ketika dipaksa bicara terlalu cepat, introvert justru bisa semakin tertutup atau merasa tidak aman secara emosional.

5. Menjadi Terlalu Mandiri

Menjadi Terlalu Mandiri/Foto: Pexels.com/ Tima Miroshnichenko

Saat emosi memuncak, introvert cenderung menarik energi ke dalam. Mereka berhenti bercerita, enggan meminta bantuan, dan memilih menyelesaikan semuanya sendirian. Bukan karena tidak percaya pada orang lain, tetapi karena rasa kecewa atau marah membuat mereka merasa lebih aman jika tidak bergantung pada siapa pun. Dalam kondisi ini, kemandirian menjadi tameng emosional.

Menjadi terlalu mandiri saat marah sering kali berawal dari perasaan tidak dipahami. Introvert yang sudah berusaha menjelaskan perasaannya, tetapi merasa diabaikan atau disalahpahami, akan memilih diam dan mengurus semuanya sendiri.

Apa yang dilakukan introvert saat marah bukanlah bentuk kelemahan. Itu adalah cara mereka melindungi diri dan menjaga emosi tetap terkendali. Dengan pemahaman dan komunikasi yang tepat, kemarahan tidak harus merusak hubungan, justru bisa menjadi jalan untuk saling memahami lebih dalam.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE