5 Kalimat Diucap Orang dengan Kecerdasan Emosional Tinggi saat Bertengkar Menurut Ilmu Psikologi

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Rabu, 01 Apr 2026 15:30 WIB
3. “Aku kecewa dan aku mau memperbaiki ini”
Kalimat “Aku kecewa dan aku mau memperbaiki ini”. Kalimat ini menunjukkan upaya untuk mengenali perasaan dan keinginan untuk mempertahankan hubungan/ Foto: Pexels.com/Samson Katt

Beauties, apa yang biasa kamu lakukan ketika kamu sedang bertengkar dengan keluarga, sahabat, atau mungkin pasangan? Ketika orang lain bicara kepada kita dengan nada tinggi, rasanya kita ingin mengimbanginya. Namun, emosi yang dibalas dengan emosi tidak akan menyelesaikan masalah dengan cepat.

Orang dengan kecerdasan emosional tinggi tahu cara menghadapi situasi yang "panas" seperti ini. Mereka tidak ikut meledak, tapi justru tetap tenang dalam kondisi yang menekan. Ada beberapa kalimat yang diucap mereka, seperti saat sedang bertengkar, supaya suasana tetap tenang dan hubungan dapat berangsur membaik.

1. “Aku mau dengar dari sudut pandang kamu”

Kalimat “Aku mau dengar dari sudut pandang kamu”. Orang yang cerdas emosional berusaha untuk mendengarkan dan memahami

Kalimat “Aku mau dengar dari sudut pandang kamu”. Orang yang cerdas emosional berusaha untuk mendengarkan dan memahami/ Foto: Pexels.com/Ivan S

Komunikasi sangat penting ketika kamu sedang bertengkar dengan orang lain. Saat marah, rasanya mudah untuk memaksakan sudut pandang pribadi dan mengabaikan perspektif orang lain. Namun orang dengan kecerdasan emosional tinggi akan berusaha untuk tetap mendengarkan. Mereka akan bertanya bagaimana perasaan orang lain, cerita dari sisi mereka, dan menunjukkan empati. Dengan begitu, mereka bisa menemukan titik kompromi.

2. “Bantu aku mengerti maksud kamu”

Kalimat “Bantu aku mengerti maksud kamu”. Kalimat ini membantu memperjelas maksud

Kalimat “Bantu aku mengerti maksud kamu”. Kalimat ini membantu memperjelas maksud/ Foto: pexels.com/MikhailNilov

Bukan cuma mendengarkan, orang dengan kecerdasan emosional tinggi tahu terkadang terjadi miskomunikasi walaupun kita sudah mendengar. Mereka akan bertanya pertanyaan lanjutan, meminta penjelasan lebih detail untuk memahami situasi seutuhnya. Maka dari itu, melansir dari Bolde, kalimat seperti “Bantu aku mengerti maksud kamu” diucapkan untuk membantu klarifikasi.

3. “Aku kecewa dan aku mau memperbaiki ini”

Kalimat “Aku kecewa dan aku mau memperbaiki ini”. Kalimat ini menunjukkan upaya untuk mengenali perasaan dan keinginan untuk mempertahankan hubungan

Kalimat “Aku kecewa dan aku mau memperbaiki ini”. Kalimat ini menunjukkan upaya untuk mengenali perasaan dan keinginan untuk mempertahankan hubungan/ Foto: Pexels.com/Samson Katt

Jika ingin mempertahankan hubungan, orang dengan kecerdasan emosional tinggi akan fokus pada solusi. Lebih dari keinginan untuk menang, mereka akan berusaha untuk memperbaiki keadaan. Mengutip dari Cottonwood Psychology, mereka akan menamakan emosi yang mereka rasakan dan mengungkapkan tujuan. Kejujuran yang diungkapkan ini akan membantu lawan bicara untuk memahami apa maksudmu, keinginanmu, dan apa yang kamu rasakan. Jadi, mereka tidak perlu salah menduga.

4. “Tenang, napas dulu. Kita bisa bahas 10 menit lagi”

Kalimat “Tenang, napas dulu. Kita bisa bahas 10 menit lagi”. Berikan waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum kembali diskusi

Kalimat “Tenang, napas dulu. Kita bisa bahas 10 menit lagi”. Berikan waktu sejenak untuk menenangkan diri sebelum kembali diskusi/ Foto: Pexels.com/Min An

Memberikan waktu sejenak dari pertengkaran sangat penting, Beauties. Berdasarkan peneliti dari American Psychological Association, mengambil jeda singkat saat konflik dan memastikan kapan percakapan akan berlanjut, secara signifikan mengurangi lonjakan emosi. Saat kalian kembali berdiskusi, ada ketenangan yang muncul dan kalian bisa bicara dengan kepala jernih.

5. “Aku tadi bersikap defensif. Beri aku kesempatan lagi.”

Kalimat “Aku tadi bersikap defensif. Beri aku kesempatan lagi.” Kalimat ini menunjukkan pengakuan kesalahan dan upaya memperbaiki.

Kalimat “Aku tadi bersikap defensif. Beri aku kesempatan lagi.” Kalimat ini menunjukkan pengakuan kesalahan dan upaya memperbaiki./ Foto: Pexels.com/Alena Darmel

Peneliti dari Greater Good Science Center, University of California, Berkeley, berpendapat bahwa orang yang menyadari dirinya bertindak defensif dalam sebuah konflik, dapat meredakan konflik lebih efektif karena mereka menunjukkan kesadaran diri. Setelah menyadari sikap yang ditunjukkan merupakan sikap defensif, orang tersebut menyadari kesalahannya dan akan mencoba berbuat lebih baik.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE