5 Kalimat Ini Sering Diucap Teman yang Menyimpan Rasa Iri

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Jumat, 13 Feb 2026 09:00 WIB
4. “Aku Nggak Menyangka Kamu Bisa Sehebat Ini.”
Ilustrasi pura/pura baik/Freepik: Azerbaijan_stockers

Beauties, kalau kita berbicara tentang hubungan pertemanan, tidak jarang kita menemukan momen ketika pujian atau komentar yang terdengar positif sebenarnya menyimpan makna lain di baliknya. Dalam banyak kasus, orang yang merasa iri sering kali tidak secara langsung mengungkapkan kecemburuannya.

Rasa iri tersebut bisa tersamarkan melalui kalimat-kalimat yang tampak seperti dukungan atau kekaguman. Ini adalah fenomena umum dalam psikologi sosial dan perilaku interpersonal.

Lalu, apa saja contoh kalimat yang sering diucap teman yang merasa iri? Check it out!

1. “Kalau Aku Sepintar/Seberuntung Kamu, Pasti Aku juga Bisa.”

Kalimat ini menunjukkan perbandingan sosial yang menyiratkan rasa iri karena pencapaianmu dianggap sekadar hasil keberuntungan, bukan usaha.

Ilustrasi iri/Foto: Freepik.com/freepik

Kalimat seperti ini terdengar seperti dukungan pada awalnya, tetapi komentar ini sering kali menunjukkan perbandingan sosial yang tidak diinginkan. Menurut LifeStance Health, pernyataan yang dimulai dengan frase “kalau aku…” sering kali mencerminkan kekurangan kepercayaan diri orang tersebut terhadap kemampuannya sendiri. Selain itu, ia cenderung melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman.

Dalam konteks psikologi sosial, perbandingan sosial adalah salah satu motif utama munculnya rasa iri. Ketika seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap lebih sukses atau lebih beruntung, frasa-frasa semacam itu dapat muncul sebagai bentuk ekspresi rasa tidak aman yang dibungkam dengan nuansa “dukungan”.

2. “Koneksinya Banyak, Jadi Gampang.”

Ilustrasi dengki/Freepik: yanalya

Komentar ini tampak netral, namun dalam perilaku interpersonal sering kali mencerminkan kecenderungan untuk merendahkan usaha atau kerja keras yang sebenarnya dilakukan oleh orang lain. Menurut laman Parade, orang yang iri sering menggunakan narasi seperti ini untuk mencoba menegaskan bahwa pencapaian itu bukan hasil kemampuan atau kualitas asli, tetapi karena faktor lain yang dianggap tidak adil atau berlebihan.

Ungkapan tersebut bisa menjadi bentuk backhanded compliment yang menyiratkan bahwa keberhasilan atau kemudahan yang dirasakan orang lain adalah hasil dari privilege, bukan kompetensi personal. Ini menunjukkan bahwa pembicara sebenarnya merasa tidak nyaman dengan pencapaian orang lain dan berusaha mencari cara untuk merasionalisasi atau mereduksi keberhasilan tersebut.

3. “Bagus sih, Tapi... (diikuti kritik menjatuhkan).”

Ilustrasi mengkritik/Freepik: freepik

Kalimat ini sering terdengar seolah-olah dimulai dengan pujian, tetapi berakhir dengan komentar yang justru menjatuhkan. Saat seseorang berkata “bagus sih, tapi…”, fokus pembicaraan biasanya langsung bergeser dari apresiasi ke kekurangan. Kebiasaan ini biasanya berakar dari rasa tidak percaya diri dan kebutuhan untuk menurunkan pencapaian orang lain agar diri mereka sendiri tidak merasa tertinggal.

Pola bicara seperti ini sering muncul dari orang yang merasa tidak nyaman melihat keberhasilan orang lain. Mereka ingin terlihat mendukung, tetapi pada saat yang sama tidak sanggup sepenuhnya mengakui pencapaian tersebut.

4. “Aku Nggak Menyangka Kamu Bisa Sehebat Ini.”

Ilustrasi pura/pura baik/Freepik: Azerbaijan_stockers

Sekilas, kalimat ini tampak seperti pujian. Namun, para psikolog perilaku menjelaskan bahwa frase “aku tidak menyangka…” sering kali menunjukkan bahwa ekspektasi pembicara terhadap kemampuan orang lain lebih rendah, dan bahwa keberhasilan tersebut mungkin mengejutkan mereka sendiri karena mereka melihat diri mereka sendiri sebagai lebih unggul.

Dalam konteks ini, komentar itu menjadi semacam pengakuan terselubung bahwa pembicara merasa terancam atau tidak siap menerima bahwa orang lain memiliki kualitas unggul. Ini bisa menjadi salah satu indikator bahwa mereka sedang berjuang dengan perasaan kurang dihargai dalam hubungan interpersonal.

5. “Wah, Keren/Hebat Kamu Sekarang, Tumben.”

Ilustrasi kurang antusias mengobrol/Freepik: freepik

Kalimat ini sering terdengar seperti pujian, tetapi kata “tumben” justru mengubah maknanya. Ucapan tersebut seolah menyiratkan bahwa sebelumnya kamu dianggap tidak pintar atau tidak mampu, sehingga keberhasilanmu saat ini dianggap sesuatu yang jarang terjadi. Alih-alih mengapresiasi usaha dan perkembangan yang kamu capai, kalimat ini lebih menyoroti rasa kaget pembicara karena ekspektasi mereka terhadapmu ternyata salah.

Dalam hubungan pertemanan, komentar seperti ini bisa muncul dari rasa tidak nyaman atau iri ketika seseorang melihat perubahan positif pada orang lain. Daripada mengakui pencapaian secara tulus, mereka memilih menyelipkan sindiran halus agar tetap merasa “di atas” atau setidaknya setara. Akibatnya, pujian yang seharusnya membangun justru terasa menjatuhkan dan membuat pencapaianmu seolah tidak sepenuhnya layak dirayakan.

6. “Pasti Menyenangkan Ya Selalu Jadi …”

Ilustrasi teman pura-pura baik/Freepik: freepik

Kalimat ini biasanya diucapkan saat seseorang membandingkan hidupnya dengan hidupmu. Di permukaan, ucapan ini terdengar seperti kekaguman, tetapi sebenarnya menyiratkan anggapan bahwa hidupmu lebih mudah, lebih nyaman, atau lebih menyenangkan. Pembicara sering kali hanya melihat hasil akhirnya, tanpa benar-benar memahami proses, usaha, dan tekanan yang mungkin kamu alami untuk berada di posisi tersebut.

Ucapan seperti ini kerap muncul dari rasa iri yang halus, terutama ketika seseorang merasa tidak puas dengan kondisinya sendiri. Dengan mengatakan “pasti menyenangkan”, mereka secara tidak langsung menempatkan diri sebagai pihak yang kurang beruntung, sambil meremehkan perjuangan yang kamu jalani. Dalam jangka panjang, komentar semacam ini bisa membuat pencapaian terasa diremehkan dan hubungan pertemanan menjadi kurang sehat jika terus dibiarkan.

Beauties, sekarang kamu sudah mengerti bahwa tidak semua komentar yang terdengar seperti pujian benar-benar tulus, beberapa mungkin merupakan bentuk tersembunyi dari rasa iri, ketidakamanan dan perbandingan sosial yang tidak sehat. Mengetahui ini membantu kamu mengenali dinamika sosial dengan lebih jelas, menjaga batas emosional, serta membangun hubungan yang lebih sehat dengan teman.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE