5 Kalimat yang Diucap Orang Bijaksana saat Hidupnya Sedang Sulit Menurut Ahli

Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Jumat, 06 Feb 2026 14:00 WIB
“Apa yang bisa dipelajari dari ini?”
“Apa yang bisa dipelajari dari ini?”. Orang bijaksana merefleksikan diri dan berusaha mencari keseimbangan./ Foto: Pexels.com/Pavel Danilyuk

Dalam kondisi penuh tekanan saat menghadapi banyak masalah, rasanya sulit untuk tenang dan bertindak dengan bijak. Padahal, ketenangan sangat penting untuk membuat keputusan yang bijaksana di momen-momen berat dalam hidup. Saat kita tenang, pikiran kita lebih jernih sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih baik.

Oleh karena itu, Beauties, ada beberapa kalimat yang nggak jarang diucapkan orang bijaksana saat menghadapi tantangan dalam hidupnya. Ucapan tersebut tidak hanya disampaikan untuk orang lain, tapi juga untuk diri sendiri sebagai pengingat. Mulai dari kalimat untuk mengingatkan bahwa masa sulit itu akan berlalu sampai mempertanyakan apa yang bisa dipelajari, ini dia beberapa kalimat yang diucap orang bijaksana itu.

“Tidak ada yang permanen dalam hidup”

“Tidak ada yang permanen dalam hidup”. Kalimat ini untuk meyakinkan diri bahwa semua masalah akan berlalu.

“Tidak ada yang permanen dalam hidup”. Kalimat ini untuk meyakinkan diri bahwa semua masalah akan berlalu./ Foto: Unsplash.com/taopaodao

Hidup bersifat sementara dan orang yang bijaksana memahaminya. Apa pun masalah yang terjadi tidak akan selamanya dihadapi. Dengan mengingat masalah ini akan berlalu dan pada akhirnya bisa diatasi, serta emosi yang bersifat sementara, orang bijak akan mengubah hidupnya sendiri melalui perspektif, sebagaimana dijelaskan dalam YourTango. Perilakunya itu senada dengan penjelasan dalam Psychology Today bahwa orang yang bijaksana mampu meregulasi dirinya sendiri, Beauties.

“Aku tidak tahu. Kalau menurutmu, bagaimana?"

“Aku tidak tahu. Kalau menurutmu, bagaimana?

“Aku tidak tahu. Kalau menurutmu, bagaimana?". Kalimat ini diucap untuk mendapatkan pandangan baru dari orang lain./ Foto: Unsplash.com/tommao wang

Orang bijaksana merasa nyaman mengakui dirinya tidak tahu semua hal. Inilah yang menjadi kekuatan mereka. Bahkan dalam menghadapi masalahnya sendiri, dia akan bertanya pendapat orang lain. Hal serupa dijelaskan dalam Harvard Business Review yang mengungkap manajer yang pura-pura tahu semua justru akan menghambat kolaborasi dalam tim. Dengan bertanya, orang bijaksana bisa mendapatkan jawaban yang mungkin belum terpikirkannya selama ini.

“Apa yang bisa dipelajari dari ini?”

“Apa yang bisa dipelajari dari ini?”. Orang bijaksana merefleksikan diri dan berusaha mencari keseimbangan.

“Apa yang bisa dipelajari dari ini?”. Orang bijaksana merefleksikan diri dan berusaha mencari keseimbangan./ Foto: Pexels.com/Pavel Danilyuk

Masih berkaitan dengan regulasi diri, Robert Sternberg selaku psikolog dari Cornell University mengungkap pada BBC, bahwa kebijaksanaan adalah tentang keseimbangan. Mereka mampu menyeimbangkan berbagai hal dalam pikiran mereka. Ketika hal buruk terjadi, pasti akan ada hal yang bisa dipelajari dan bermanfaat untuk mereka. Sambil mempertimbangkan berbagai hal, mereka juga mencoba beradaptasi dengan situasi, membentuknya, atau mencari situasi baru.

“Ayo bernapas dulu”

“Ayo bernapas dulu”. Bernapas membantu menarik fokus ke masa kini dan menyegarkan pikiran.

“Ayo bernapas dulu”. Bernapas membantu menarik fokus ke masa kini dan menyegarkan pikiran./ Foto: Pexels.com/Alena Darmel

Memfokuskan diri pada napas ketika menghadapi tantangan mungkin adalah cara terbaik untuk melepaskan hal negatif yang bisa menghambat kita. Mereferensi Blinkist Magazine, banyak orang bijak yang mengingatkan dirinya untuk bernapas sehingga mereka memusatkan perhatian ke masa kini dengan perspektif baru. Misalnya sebuah ungkapan dari Thich Nhat Hanh, seorang biksu Buddha dalam bukunya Peace Is Every Step: The Path of Mindfulness in Everyday Life (1990), yang menulis, “Breathing in, I calm my body. Breathing out, I smile. Dwelling in the present moment, I know this is a wonderful moment.”

“Aku butuh bantuan”

“Aku butuh bantuan”. Meminta pertolongan membuktikan seseorang menerima apa yang dia tidak tahu atau tidak bisa.

“Aku butuh bantuan”. Meminta pertolongan membuktikan seseorang menerima apa yang dia tidak tahu atau tidak bisa./ Foto: pexels.com/MikhailNilov

Meminta pertolongan bukanlah kelemahan, Beauties. Berdasarkan studi yang dipublikasi Management Science, meminta bantuan mendorong orang lain untuk memandangmu sebagai sosok lebih kompeten, cerdas, dan percaya diri. Minta bantuan juga bergantung pada rasa kompetensi dan kebijaksanaan karena melibatkan pengakuan dan penerimaan bahwa kamu tidak bisa melakukan semuanya sendiri.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE