5 Kepribadian Orang yang Suka Mencari Kesalahan Orang Lain

Gayuh Tri Pinjungwati | Beautynesia
Selasa, 03 Feb 2026 15:00 WIB
5. Sulit Berdamai dengan Ketidaksempurnaan
Sulit Berdamai dengan Ketidaksempurnaan/Foto: Pexels.com/ Min An

Pernah bertemu seseorang yang hampir selalu fokus pada kesalahan orang lain? Entah itu di lingkungan kerja, pertemanan, atau bahkan keluarga, rasanya apa pun yang dilakukan orang lain selalu kurang benar di matanya.

Orang yang suka mencari kesalahan orang lain biasanya tidak sepenuhnya sadar dengan kebiasaannya. Bagi mereka, mengkritik terasa wajar, bahkan dianggap sebagai bentuk kejujuran. Padahal, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini bisa menciptakan jarak dan ketegangan dalam hubungan apa pun.

Sikap ini sering membuat suasana jadi tidak nyaman, apalagi bagi perempuan yang terbiasa menjaga perasaan dan keharmonisan. Tapi, di balik kebiasaan mencari kesalahan orang lain, sebenarnya ada kepribadian yang bisa kamu pelajari.

1. Munculnya Rasa Insecurity

Munculnya Rasa Insecurity/Foto: Pexels.com/ Jeys Tubianosa

Menurut by Greg Kushnick, Psy.D., seorang psikolog di Manhattan, menulis melalui akun Mediumnya, orang yang sering menunjuk kesalahan orang lain sebenarnya mungkin sedang berjuang dengan ketidakamanan dalam dirinya sendiri. Kadang mereka membesar-besarkan kesalahan orang lain karena itu memberi mereka rasa kontrol atau rasa lebih unggul, setidaknya untuk sementara. Ironisnya, ini justru memperkuat rasa tidak aman dan membatasi kebahagiaan mereka.

Tanpa disadari, kebiasaan mencari kesalahan orang lain juga memberi ilusi kontrol. Saat hidup terasa tidak stabil atau penuh ketidakpastian, menunjuk kesalahan orang lain bisa membuat mereka merasa lebih berkuasa. Sayangnya, kontrol semu ini justru memperkuat siklus insecurity, bukan menyembuhkannya.

2. Terlalu Kritis

Terlalu Kritis/Foto: Pexels.com/ Agung Pratama

Suka menunjukkan kesalahan orang lain tadi bisa berdampak jauh lebih dalam daripada sekadar suasana hati orang yang dikritik. Kebiasaan ini dapat membuat orang merasa terasing dari hubungan penting mereka, menciptakan energi negatif di sekitarnya, bahkan memperburuk suasana hati sendiri.

Kebiasaan mencari kesalahan orang lain juga menciptakan jarak emosional. Orang-orang di sekitarnya mungkin tetap tersenyum, tapi secara perlahan memilih menjaga jarak. Bukan karena benci, melainkan lelah. Lelah harus selalu siap dikomentari, dinilai, atau dijadikan bahan candaan.

Orang yang gemar menunjuk kesalahan orang lain sering merasa apa yang mereka lakukan itu wajar. Bahkan ada yang menganggap dirinya jujur, kritis, atau peduli. Padahal, kebiasaan ini bisa meninggalkan luka emosional yang tidak selalu terlihat. Kata-kata yang dianggap sepele oleh satu orang, bisa menjadi beban panjang bagi orang lain.

3. Megembangkan Kebiasaan dari Pengalaman Masa Lalu

Megembangkan Kebiasaan dari Pengalaman Masa Lalu/Foto: Pexels.com/ Asep Saeful Bahri

Sering kali, kecenderungan mencari-cari salah orang lain berasal dari pengalaman masa kecil, misalnya tumbuh dengan figur yang kritis atau terlalu menuntut, sehingga ketika dewasa, seseorang mengambil pola itu sebagai kebiasaan tanpa sadar. Ini bukan berarti orangnya buruk, tapi bisa jadi merupakan cara lama yang kurang sehat untuk menghadapi situasi sosial.

Dampaknya terasa dalam hubungan dewasa. Orang-orang di sekitarnya bisa merasa tidak cukup baik, mudah tersinggung, atau enggan terbuka. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat aman justru terasa seperti ruang ujian. Ironisnya, orang yang suka mencari kesalahan orang lain sering merasa tidak dimengerti dan kesepian, tanpa menyadari pola yang sedang ia ulangi.

4. Kurang Sadar Diri

Kurang Sadar Diri/Foto: Pexels.com/ Philip Justin Mamelic

Pernah bertemu orang yang rasanya selalu sibuk mengomentari kesalahan orang lain? Sedikit-sedikit dikritik, hal kecil dibesar-besarkan, dan hampir tidak ada ruang untuk salah. Menariknya, kebiasaan ini sering kali bukan karena mereka paling benar, melainkan karena kurangnya kesadaran diri.

Orang yang kurang sadar diri cenderung lebih fokus melihat ke luar daripada ke dalam. Mereka cepat menunjuk apa yang salah dari orang lain. Kepribadian seperti ini juga sering ditandai dengan minimnya empati.

Karena terlalu sibuk menilai, mereka lupa bahwa setiap orang punya latar belakang, proses, dan perjuangan yang berbeda. Mereka melihat hasil akhir tanpa memahami cerita di baliknya. Tanpa empati, kritik mudah terdengar tajam dan menyakitkan, meski niat awalnya mungkin tidak selalu buruk.

5. Sulit Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

Sulit Berdamai dengan Ketidaksempurnaan/Foto: Pexels.com/ Min An

Pernah bertemu orang yang tampaknya selalu punya komentar tentang apa yang salah dari orang lain? Mulai dari hal kecil sampai keputusan besar, semuanya terasa kurang tepat di matanya. Sikap seperti ini sering disalahartikan sebagai perfeksionis atau terlalu jujur. Padahal, jika dilihat lebih dalam, kebiasaan mencari kesalahan orang lain sering berakar dari satu hal: sulit berdamai dengan ketidaksempurnaan.

Orang dengan kepribadian seperti ini biasanya memiliki standar yang sangat tinggi. Bukan hanya untuk orang lain, tapi juga untuk dirinya sendiri. Mereka terbiasa berpikir bahwa segala sesuatu seharusnya berjalan rapi, benar, dan sesuai ekspektasi. Ketika realita tidak sejalan dengan bayangan idealnya, rasa tidak nyaman pun muncul. Sayangnya, alih-alih menerima, mereka memilih mengkritik.

Jika kamu sering berhadapan dengan orang seperti ini, ingatlah untuk tetap menjaga batasan emosional. Jika tanpa sadar kamu pernah berada di posisi tersebut, tidak apa-apa. Kesadaran adalah langkah awal untuk berubah.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.