Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) maupun kekerasan dalam pacaran merupakan situasi yang sering terjadi di kalangan masyarakat hingga saat ini. Bentuk kekerasan ini mencakup kekerasan fisik, ancaman, pelecehan emosional, hingga pelecehan seksual.
Adapun salah satu penyebabnya adalah salah satu pasangan merasa memiliki kekuasaan atas pasangannya sehingga bertindak melebihi batas. Umumnya, perempuan kerap menjadi korban kekerasan pasangan.
Sayangnya, tidak semua orang memahami bentuk-bentuk kekerasan ini. Lebih lanjut, inilah beberapa kesalahpahaman yang paling umum tentang kekerasan dalam rumah tangga, dilansir dari Everyday Health.
KDRT adalah Kesalahan Korban
ilustrasi korban KDRT/Foto: Pexels/Karolina Grabowska |
Banyak korban kekerasan dalam rumah tangga percaya bahwa mereka juga berperan dalam pelecehan yang terjadi. Jika mereka dapat melakukan sesuatu yang berbeda, mungkin tidak akan terjadi KDRT.
Kesalahpahaman ini semakin buruk ketika memberitahu orang lain dan mendapat komentar yang tidak percaya korban seperti, “tapi dia ayah yang baik" atau “dia orang yang baik di tempat kerja.”
Kenyataannya, tidak peduli seperti apa perilaku pelaku, korban benar-benar mendapatkan tindakan kekerasan. Perilaku positif dari pelaku sebenarnya hanya bertujuan untuk mendapatkan kekuatan dalam hubungan.
Korban “Menarik” Pelecehan
Beberapa orang melihat riwayat trauma korban sebagai bukti bahwa mereka memiliki banyak pengalaman traumatis. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sekitar 60,5 persen perempuan pernah mengalami trauma seumur hidup, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.
Peristiwa traumatis dari masa lalu ini ternyata dianggap bisa “menarik” pelecehan terjadi. Padahal, dalam skenario apapun, riwayat trauma tidak boleh digunakan untuk melawan seseorang yang mengalami KDRT.