5 Pola Masa Kecil yang Memicu Rasa Bersalah saat Beristirahat di Akhir Pekan
Banyak orang menyambut akhir pekan dengan bahagia karena akan menjadi waktunya untuk beristirahat sejenak dari segala kesibukan sehari-hari. Namun, sebagian orang ada yang justru menganggap akhir pekan bukan waktu untuk bersantai.
Yap, mereka tetap menyiapkan segala hal untuk dikerjakan. Orang yang tidak bisa beristirahat di akhir pekan tersebut merasa bersalah jika tidak mengerjakan apa pun, meski itu hari libur.
Melansir YourTango, orang yang merasa bersalah saat beristirahat di akhir pekan bisa terjadi karena tumbuh dari keluarga yang keras. Mereka mendengar pesan-pesan tentang kerja keras dan tanggung jawab sejak kecil, yang akhirnya bisa terbawa hingga dewasa.
Berikut adalah pola masa kecil yang memicu rasa bersalah saat beristirahat di akhir pekan. Simak!
1. Sibuk Berarti Produktif
Ilustrasi belajar/Foto: Magnific.com/stoccking
Sebagian besar orang dibesarkan dengan keyakinan bahwa kesibukan adalah tanda bahwa mereka sukses dalam hidup.
Sejak kecil, mereka sering dipuji-puji karena suka membantu dan bekerja keras, sedangkan saat bersantai mereka akan ditegur karena disebut membuang-buang waktu. Mereka pun mulai menghitung seberapa banyak pencapaiannya dalam sehari, bukan tentang bagaimana perasaan mereka.
Pola asuh seperti ini bisa terbawa hingga dewasa, yang mana mereka bisa memandang bahwa saat waktu kosong, bahkan saat sedang sakit bukan menjadi waktunya mengisi ulang energi melainkan bentuk kegagalan. Alhasil, mereka tidak nyaman dalam kekosongan tersebut.
2. Bisa Bersantai Jika Semuanya Telah Selesai
Ilustrasi belajar/Foto: Magnific.com
Seseorang yang tumbuh di keluarga yang boleh beristirahat saat semua hal telah selesai pun cenderung jadi orang dewasa yang merasa bersalah untuk istirahat di akhir pekan. Bagi mereka, istirahat adalah sesuatu yang harus didapatkan setelah produktivitas.
Masalahnya, berbicara soal pekerjaan pasti tidak akan ada habisnya. Misalnya, tumpukan cucian akan selalu ada setiap harinya. Hal sama pun pekerjaan pasti akan terus hadir.
Alhasil, akhir pekannya terus digunakan untuk mengerjakan banyak hal. Mereka merasa tidak berhak bersantai jika masih ada pekerjaan yang belum tuntas.
3. Kerja Keras Lebih Penting daripada Bersenang-senang
Ilustrasi belajar/Foto: Magnific.com/stoccking
Sebagian orang tumbuh dalam pola masa kecil yang mengajarkan bahwa kerja keras lebih penting daripada bersenang-senang. Mereka pun mengamati orang dewasa atau orang tuanya lebih banyak bekerja daripada menikmati hidup.
Hal tersebut membentuk mereka terus-menerus bekerja keras. Mereka menjadi tidak nyaman dengan kekosongan. Hari-harinya berpikir apa saja hal yang bisa mereka lakukan, bukan apa yang ingin mereka lakukan.
Bahkan, saat sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan, ada suara kecil yang memicu rasa bersalah dan mengatakan bahwa ada cara yang lebih baik untuk menghabiskan waktunya.
4. Orang Malas Tidak Mencapai Apa pun
Ilustrasi menonton/Foto: Magnific.com
Orang yang tidak bisa beristirahat di masa kecil juga memiliki keyakinan bahwa istirahat sebagai bentuk kemalasan. Secara logis, mereka memang tahu bahwa mereka pantas mendapatkan istirahat tersebut. Sayangnya, secara emosional mereka bisa merasa gagal jika beristirahat.
5. Harus Selalu Melakukan Hal Bermanfaat
Ilustrasi belajar/Foto: Magnific.com
Sebagian besar anak pun belajar bahwa waktu luang hanya dapat diterima jika digunakan dengan cara yang benar dan bermanfaat. Alhasil, mereka memaksa dirinya sendiri untuk terus ‘bekerja’ tanpa henti bahkan di hari libur.
Begitu mereka menyelesaikan satu tugas, mereka akan dengan cepat menyelesaikan tugas lainnya. Beristirahat sangat sulit untuk mereka, sebab mereka merasa harus selalu melakukan hal yang bermanfaat.
Beauties, itu dia beberapa pola masa kecil yang memicu rasa bersalah saat beristirahat di akhir pekan. Bagaimana menurutmu?
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
|
Pilihan Redaksi
|