Psikolog Sarankan Orang Tua Ucapkan Kalimat Ini saat tahu Anak Sedang Berbohong
Reaksi sebagian orang tua ketika tahu anaknya berbohong mungkin akan marah dan kecewa. Terbawa emosi, akibatnya orang tua akan mengucapkan kalimat yang mungkin bisa menyakiti hati anak. Kalimat seperti "Apa kamu melakukan ini?" bisa membuat anak menjauh.
Semua orang pasti pernah berbohong, dan sebagian anak tergoda untuk bersikeras mempertahankan kebohongan mereka saat merasa dipojokkan. Oleh karena itu, orang tua perlu strategi yang tepat agar anak mau terbuka dan bersikap jujur.
Menurut psikolog, ada kalimat yang bisa digunakan orang tua ketika tahu anak sedang berbohong. Yuk, simak penjelasannya dirangkum dari Parade.
Psikolog Sarankan Orang Tua Ucapkan Kalimat Ini saat tahu Anak Sedang Berbohong
Psikolog Sarankan Orang Tua Ucapkan Kalimat Ini saat tahu Anak Sedang Berbohong/Foto: Pexels.com
Ada kalanya orang tua terkadang bingung apakah anak sedang berkata jujur atau berbohong. Ketika menghadapi situasi seperti itu, psikiater klinis bersertifikat Dr. Tamir Aldad menyarankan penggunaan kalimat berikut: "Ayah/Ibu sudah tahu apa yang terjadi. Ayah/Ibu hanya ingin mendengarnya langsung darimu."
"Cara ini efektif karena menghilangkan kesan menjebak dalam situasi tersebut," ujar Dr. Aldad, CEO klinik kesehatan mental Mindful Care.
Kalimat ini tidak terdengar seperti sedang menuji anak, melainkan mengajak anak untuk bersikap terbuka dan jujur.
"Perubahan pendekatan ini jauh lebih penting daripada yang disadari banyak orang karena mengubah apa yang sebenarnya diminta dari anak. Mereka tidak lagi dihadapkan pada pilihan antara mengakui atau menyangkal. Mereka justru diberi kesempatan untuk berkata jujur ​​kepada seseorang yang sudah mengetahui fakta sebenarnya," tambahnya.
Hindari Mengucapkan Kalimat Ini
Psikolog Sarankan Orang Tua Ucapkan Kalimat Ini saat tahu Anak Sedang Berbohong/Foto: Pexels.com
Ketika mengetahui anak berbohong, orang tua mungkin sangat ingin langsung bertanya, "Apakah kamu yang melakukan ini?". Tapi, psikolog klinis bersertifikat Dr. Jenny Yip mengatakan bahwa pertanyaan semacam itu bisa menjadi jebakan.
"Anak dengan cepat menyadari bahwa ini bukan sekadar rasa ingin tahu yang tulus, melainkan sebuah ujian. Begitu anak merasa sedang diuji, mereka berhenti memikirkan kejujuran dan mulai memikirkan cara untuk lolos dari situasi tersebut," ujar Dr. Yip, penulis buku Hello Baby, Goodbye Intrusive Thoughts.
Seiring perkembangan otak anak, mereka belajar mengendalikan impuls, mengatur emosi, dan berpikir tentang masa depan. Ancaman bahaya, baik berupa hukuman, kekecewaan, maupun hilangnya kedekatan hubungan, dapat memicu perubahan perilaku anak.
"Bagian otak yang berfungsi untuk bertahan hidup sering kali mengambil alih kendali sebelum bagian otak yang berfungsi untuk menalar sempat bekerja," catatnya. "Alih-alih mengajukan pertanyaan yang jawabannya sudah Anda ketahui, sampaikanlah apa yang Anda amati. Contohnya: 'Ibu/Ayah melihat lampunya pecah. Bantu Ibu/Ayah memahami apa yang terjadi.' Cara ini mendorong mereka untuk memberikan penjelasan, bukan justru memancing penyangkalan."
Dr. Aldad menambahkan bahwa anak-anak secara alami cenderung menghindari ancaman jangka pendek ketimbang memikirkan konsekuensi jangka panjang. Sebagian besar anak akan berbohong saat dihadapkan pada pertanyaan yang menjebak seperti itu.
"Dan hal ini memiliki dampak yang kian memburuk seiring waktu. Lambat laun, anak mulai merasa seolah-olah mereka sedang dijebak, bukan diajak untuk bersikap jujur; hal ini mengikis kepercayaan dalam hubungan yang sebenarnya ingin Anda jaga," ungkapnya.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!