5 Pola Pikir Orang yang Tanpa Sadar Menjadikan Kekayaan sebagai Ukuran Harga Diri

Hanny A | Beautynesia
Minggu, 24 May 2026 15:30 WIB
2. Selalu Merasa Kurang, Lalu Menambalnya dengan Simbol Kemampuan
Merenung / Foto: pexels.com/Mikhail Nilov

Beauties, pernah nggak melihat seseorang yang tiap ngobrol selalu nyisipin soal barang mewahnya, liburannya ke luar negeri, atau berapa yang dia hasilkan bulan ini? Atau mungkin kamu sendiri pernah merasa lebih worth it sebagai manusia setelah gaji naik, beli barang mahal, atau jadi ‘kaya’ mendadak?

Sebenarnya, ada fenomena psikologis yang cukup umum tapi jarang disadari, yaitu kondisi di mana sebagian orang menaruh harga dirinya di balik kemampuan finansial mereka. Terlepas dari salah atau tidaknya, faktanya memang tidak sedikit dari kita yang pernah diperlakukan berbeda ketika saldo rekening masih tipis, entah dianggap kurang capable, kurang penting, atau kurang layak dihormati. Rasanya cukup wajar kalau akhirnya otak jadi belajar bahwa “kalau punya uang akan lebih dihargai”.

Tapi di sisi lain, ada juga orang kaya yang justru menutupi kekayaannya, bahkan canggung untuk membahasnya. Inilah yang membuat topik ini menarik karena reaksi terhadap uang ternyata sangat personal dan penuh lapisan psikologis. Mari kita gali bagaimana pola pikir seseorang yang menjadikan kekayaan sebagai tolok ukur keberhargaan dirinya.

1. Ingin Dilihat dan Diakui

Mengangkat kedua tangan ke udara dengan bangga / Foto: pexels.com/ChurchArt Online

Di balik banyak perilaku pamer, ada satu kebutuhan dasar yang sebenarnya sangat manusiawi, yakni ingin diakui. 

Kondisi ini adalah bentuk ketergantungan pada validasi eksternal, di mana seseorang membutuhkan konfirmasi dari luar untuk merasa lebih baik menggunakan berbagai macam pembuktian. Dalam hal ini, kekayaan adalah bentuk bukti yang ingin diakui.

Mengutip dari laman Harbor Psychiatry & Mental Health, kebutuhan akan pengakuan ini sebenarnya normal-normal saja. Namun, yang jadi masalah adalah ketika validasi eksternal jadi satu-satunya cara seseorang merasa berharga.

2. Selalu Merasa Kurang, Lalu Menambalnya dengan Simbol Kemampuan

Merenung / Foto: pexels.com/Mikhail Nilov

Bisa dikenal dengan istilah conditional self-worth atau merasa berharga hanya jika kondisi tertentu sudah terpenuhi. Kalau syaratnya adalah kekayaan, maka ketika finansial sedang terpuruk, harga dirinya ikut ambruk.

Ketika syarat-syarat tersebut akhirnya berhasil dicapai, yang terjadi kemudian adalah upaya untuk menambal rasa tidak cukup tersebut melalui penggunaan berbagai simbol kekayaan, seperti menggunakan atau menunjukkan barang branded, gadget termutakhir, atau traveling berkali-kali.

Fenomena ini bisa disebut sebagai compensatory defenses, yang menurut seorang psikoanalis Dr. Stacey Rubin adalah strategi psikologis yang dilakukan untuk mengimbangi perasaan rendah diri atau rasa tidak mampu yang terpendam di dalam diri.

3. Takut Terlihat Struggling

Mengangkat jempol / Foto: pexels.com/ROCKETMANN TEAM

Bagi individu yang menambatkan harga diri pada angka di rekening, menunjukkan kesulitan finansial dianggap sebagai kegagalan personal yang memalukan. Akibatnya, muncul dorongan obsesif untuk memproyeksikan citra yang berkebalikan, dalam hal ini yaitu kemapanan, kemandirian, dan keberhasilan finansial.

Upaya menutupi kerentanan ini diperkuat oleh temuan dalam Journal of Consumer Research, yang menyebutkan bahwa konsumsi barang-barang penanda status justru meningkat pada orang yang merasa posisi sosial mereka terancam.

4. Terjebak Standar

Ilustrasi posting kemewahan media sosial / Foto: pexels.com/Andrea Piacquadio

Media sosial secara sistematis memperlihatkan kehidupan yang sudah dikurasi. Kita sebenarnya tahu akan fakta ini, tapi perasaan kita sering lupa.

Terpapar terus-menerus dengan konten aspirasional (konten yang menunjukkan gaya hidup impian atau tujuan yang ingin dicapai) yang ramai di media sosial bisa menggeser persepsi seseorang mengenai definisi kenormalan. Ketika standar "normal" terus naik, seseorang merasa harus terus mengejar agar tidak tertinggal.

Ambisi semacam ini secara umum bersifat positif. Akan jadi negatif ketika seseorang mulai mengukur keberhargaan dirinya dari seberapa dekat hidupnya dengan standar yang dia lihat di layar.

5. Kerap Membandingkan Diri dengan Orang Lain

Melihat ke atas / Foto: pexels.com/Joshua Bull

"Teman SMA-ku udah punya rumah, aku masih ngontrak." 

"Usia segini orang lain udah jalan-jalan ke Eropa, aku masih nabung."

Kalimat-kalimat seperti ini adalah ekspresi dari upward social comparison atau membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih superior di dimensi tertentu, dalam hal ini dimensinya adalah finansial.

Membandingkan diri sebenarnya mekanisme alamiah manusia untuk menilai posisi sosialnya. Tapi ketika perbandingan itu selalu mengarah ke atas dan selalu soal uang, dampaknya bisa merusak. Harga diri ikut naik-turun mengikuti posisi seseorang dalam hierarki finansial yang dia buat sendiri di kepalanya.

Intinya, membuktikan diri lewat kekayaan demi validasi ibarat meminum air laut saat haus. Terlihat seperti memuaskan, tapi makin diminum justru akan semakin haus. Dirimu tetap berharga terlepas dari siapapun kamu dan berapapun angka di rekeningmu.

____

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE