Ingin melihat anak tumbuh jadi sosok yang percaya diri tentu bukan hal yang instan. Kepribadian anak yang berani dan percaya diri dengan potensi yang mereka miliki perlu diimbangi dengan pola asuh yang tepat.
Namun, ketika orang tua lebih mendominasi dengan pola asuhan strict parenting yang terkesan kaku, hanya mengandalkan komunikasi satu arah, dan memiliki segudang aturan akan menghambat perkembangan psikologis anak. Pola asuh ini juga dikenal dengan istilah pola asuh otoriter.
Dikutip dari penelitian pola asuh dan psikologi dari Diana Baumrind, berikut ciri-ciri dari strict parenting yang harus kamu cermati, Beauties!
1.Tidak Ada Penjelasan tentang Aturan dan Hukuman yang Dibuat
Ketika orang tua membuat sebuah aturan dan memberikan hukuman pada anak, tentu perlu dilengkapi dengan penjelasan di balik alasan hukuman dan aturan itu perlu dijalankan. Dalam pola asuh yang strict, orang tua hanya memberikan perintah dan meminta anak mengikuti apa yang menurut pikiran dan pendapat orang tuanya sebagai suatu hal yang baik dan benar.
Alhasil, anak akan merasa mereka berada dalam suatu tekanan karena berada dalam paksaan, di mana ia harus mengikuti apa kata orang tua dan tidak memiliki kebebasan untuk bertanya, berpendapat, atau didengarkan tentang alasannya melakukan kesalahan tertentu.
Saat anak berada di posisi yang terus ditekan tanpa pilihan dan penjelasan, maka anak jadi takut untuk mencoba hal yang baru. Mungkin anak ingin punya inisiatif untuk memulai suatu hal, tapi memilih untuk diam, karena takut dimarahi atau mendapat hukuman hanya karena pendapatnya bertentangan dengan orang tua.