5 Ucapan yang Niatnya Mendukung, tapi Bikin Orang Lain Merasa Nggak Didengar

Dewi Maharani Astutik | Beautynesia
Selasa, 27 Jan 2026 21:30 WIB
“Kamu Lebih Kuat Dari yang Kamu Kira”
Membuat orang merasa diabaikan bisa terjadi ketika kita mengucapkan kalimat motivasi pada momen yang kurang tepat/Foto: Freepik/prostooleh

Beauties, dalam interaksi sehari-hari, dukungan verbal memegang peran penting karena kata-kata yang kita ucapkan bisa membuat seseorang merasa dihargai dan didengar oleh orang lain. Namun, niat baik saja tidak selalu cukup karena ucapan yang dimaksudkan untuk menolong atau menyemangati terkadang justru membuat orang merasa diabaikan atau didengar.

Memahami jarak antara niat dan dampak yang bisa ditimbulkan sangat penting agar tidak timbul salah paham dalam komunikasi. Dengan mengenali ucapan yang tampak mendukung tetapi sebenarnya kurang tepat sasaran seperti yang dilansir dari The Vessel ini, kita bisa memperbaiki cara berinteraksi agar lebih mengena dan membangun hubungan yang sehat. Stop ucapkan kata-kata yang menyakiti tanpa sadar ini dan bikin orang lain merasa tak didengar, ya!

“Yang Lebih Buruk Bisa Saja Terjadi”

Kata-kata yang menyakiti tanpa sadar kadang terucap saat mencoba menenangkan orang lain. Misalnya, mengatakan “Yang lebih buruk bisa saja terjadi” dapat menimbulkan kesan perasaan mereka tidak penting.
Membuat orang merasa diabaikan bisa muncul tanpa sengaja saat kita membandingkan pengalaman mereka dengan orang lain/Foto: Freepik

Kita sering mengatakan ini untuk mencoba membuat orang lain merasa bersyukur. Meskipun niatnya positif, ungkapan ini secara halus memberi kesan bahwa rasa sakit seseorang tidak valid karena orang lain mungkin mengalami hal yang lebih buruk.

Padahal rasa sakit bukanlah sebuah kompetisi. Saat seseorang membuka diri, yang mereka butuhkan adalah pengertian, bukan perbandingan. Rasa syukur bisa muncul bersamaan dengan rasa sakit, tetapi itu tidak bisa menggantikan atau meniadakan perasaan negatif yang ada.

Respons yang lebih tepat adalah kalimat seperti, “Kedengarannya memang berat. Apakah kamu ingin menceritakannya lebih lanjut?”. Kalimat ini tetap menjaga fokus pada lawan bicara dan menghormati perasaan yang sedang mereka alami.

“Segala Sesuatu Terjadi Karena Suatu Alasan”

Kata-kata yang menyakiti tanpa sadar bisa muncul meskipun niatnya hanya ingin memberi dukungan/Foto: Freepik

Ungkapan ini sering digunakan sebagai cara menenangkan seseorang yang berada di situasi kacau. Namun, ketika seseorang sedang menderita, kata-kata itu bisa terasa tidak tepat atau bahkan seperti mencoba menyingkirkan rasa sakit mereka secara spiritual, tanpa memperhatikan emosi yang sebenarnya mereka rasakan.

Padahal, tidak selalu ada pelajaran yang jelas di balik rasa sakit itu, dan memaksakan makna terlalu cepat justru bisa mengganggu proses alami berduka atau penyembuhan. Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai spiritual bypassing, yaitu penggunaan sikap positif atau keyakinan untuk menghindari emosi yang tidak nyaman.

Daripada memaksa memberi makna pada rasa sakit yang sedang dirasakan oleh seseorang, lebih penting untuk menghormatinya dengan kehadiran nyata. Kehadiran semacam ini lebih dibutuhkan daripada penjelasan.

“Kamu Lebih Kuat Dari yang Kamu Kira”

Membuat orang merasa diabaikan bisa terjadi ketika kita mengucapkan kalimat motivasi pada momen yang kurang tepat/Foto: Freepik/prostooleh

Kalimat ini memang bisa memberi inspirasi, tetapi waktu pengucapannya sangat penting untuk diperhatikan. Jika diucapkan pada momen yang salah, kalimat ini bisa terasa seperti tekanan untuk tetap tegar. Kalimat ini juga menyiratkan asumsi bahwa yang dibutuhkan seseorang adalah kekuatan, padahal yang sebenarnya diperlukan mungkin adalah izin untuk merasa rapuh.

Dalam praktik mindfulness, kuat bukan berarti bersikap kaku atau menahan diri. Kekuatan yang sebenarnya adalah kemampuan untuk tetap sadar dan penuh kasih terhadap perasaan yang muncul, termasuk rasa lelah, sedih, atau takut. Emosi yang tidak nyaman bergerak melalui seperti gelombang, bukan untuk dihentikan, tetapi untuk dilewati.

“Jangan Menangis, Semuanya akan Baik-Baik Saja”

Kata-kata yang menyakiti tanpa sadar kadang muncul dari niat baik/Foto: Freepik

Ucapan ini sering kita lontarkan karena rasa sayang. Melihat orang yang kita pedulikan menderita memang sulit. Namun, ketika kita berkata demikian, sebenarnya kita sedang mengungkapkan bahwa perasaan mereka membuat kita tidak nyaman.

Padahal, air mata bukan tanda kelemahan. Mereka adalah pelepasan alami yang membantu tubuh dan pikiran. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada tahun 2014 tentang regulasi emosi menunjukkan bahwa menangis menurunkan kortisol, mendukung kemampuan menenangkan diri, dan membantu mengembalikan keseimbangan emosional.

“Aku Tahu Persis Bagaimana Perasaanmu”

Membuat orang merasa diabaikan sering terjadi tanpa kita sadari saat mencoba menunjukkan empati/Foto: Freepik/wirestock

Ungkapan ini memang terdengar empatik, tetapi sering kali tidak tepat. Meskipun pengalaman serupa pernah dialami, tidak ada yang benar-benar bisa mengetahui apa yang dirasakan orang lain. Setiap individu memiliki sejarah, trauma, dan pola emosionalnya sendiri.

Ungkapan tersebut terkadang membuat rasa sakit orang lain terasa diabaikan atau disatukan dengan pengalaman orang lain. Oleh karena itu, sebagai alternatif, lebih baik menyampaikan pemahaman tanpa menganggap bahwa pengalaman itu serupa dengan yang pernah dialami, misalnya dengan mengatakan, “Aku pernah mengalami hal yang mirip, tapi aku ingin tahu lebih banyak tentang bagaimana rasanya bagimu.”.

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.