6 Cara Tubuh Beri Sinyal saat Kamu Sedang Menjalani Hubungan yang Salah
Hubungan yang sehat seharusnya memberi rasa aman, nyaman, dan dukungan emosional. Namun, ketika berada dalam hubungan yang salah, tubuh sering kali menjadi pihak pertama yang memberi sinyal. Cara tubuh merespons hubungan yang tidak sehat ini kerap dianggap sepele karena terlihat seperti keluhan sehari-hari.
Padahal, kelelahan berkepanjangan, gangguan pencernaan, hingga sulit fokus bisa menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang tidak seimbang dalam hubungan yang sedang kamu jalani. Melansir Your Tango, berikut 6 cara tubuh memberi sinyal ketika kamu menjalin hubungan yang salah.Â
1. Lelah dan Kehabisan Energi saat Bersama Pasangan
![]() Cara tubuh menandakan hubungan yang salah melalui rasa lelah berkepanjangan/Foto: Freepik.com/Freepik |
Merasa lelah setelah beraktivitas memang wajar, tapi jika kelelahan muncul setiap kali kamu bersama pasangan, hal ini patut dicurigai. Cara tubuh merespons hubungan yang salah sering ditunjukkan melalui energi yang terkuras, bahkan tanpa aktivitas fisik berat.
Kondisi ini biasanya berkaitan dengan tekanan emosional yang terus-menerus. Ketika interaksi dengan pasangan lebih banyak memicu stres daripada rasa aman, tubuh bekerja ekstra keras untuk bertahan, sehingga rasa lelah menjadi keluhan yang terus berulang.
2. Mengalami Kembung dan Peradangan
Cara tubuh bereaksi terhadap hubungan yang salah melalui gangguan pencernaan/Foto: Freepik.com/diana.grytsku
Salah satu cara paling jelas tubuh mengungkapkan bahwa kamu berada dalam hubungan yang salah adalah munculnya kembung dan peradangan. Kondisi ini menandakan pencernaan yang terganggu dan kerap dimaknai sebagai sinyal yang lebih dalam dari tubuh.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Frontiers in Neuroscience juga menemukan bahwa kembung dan peradangan pada lambung dapat dipicu oleh stres kronis. Akibatnya, tubuh memberi sinyal melalui gangguan pencernaan sebagai tanda bahwa kondisi emosional kamu sedang tidak baik-baik saja.
3. Kulit Berjerawat
![]() Cara tubuh memperlihatkan dampak hubungan yang salah melalui masalah kulit/Foto: Freepik.com/Freepik |
Kulit sering menjadi cermin kondisi internal tubuh. Saat berada dalam hubungan yang salah, cara tubuh menyalurkan stres bisa muncul dalam bentuk jerawat yang sulit dikendalikan, meski rutinitas perawatan kulit tidak berubah.
Stres emosional memicu peningkatan hormon kortisol yang berperan dalam produksi minyak berlebih. Kombinasi ini membuat kulit lebih rentan berjerawat, terutama jika tekanan emosional berlangsung dalam jangka waktu lama.
4. Mengalami Pola Makan yang Tidak Teratur
Cara tubuh menandai hubungan yang salah melalui perubahan pola makan/Foto: Freepik.com/Freepik
Perubahan nafsu makan sering kali menjadi sinyal emosional. Dalam hubungan yang salah, cara tubuh merespons stres bisa berupa kehilangan selera makan atau justru makan berlebihan sebagai pelarian.
Ketidakteraturan pola makan ini menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha menyeimbangkan emosi yang terganggu. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya memengaruhi berat badan, tapi juga kesehatan secara keseluruhan.
5. Pola Tidur Memburuk
![]() Cara tubuh memberi sinyal hubungan yang salah melalui gangguan tidur/Foto: Freepik.com/Freepik |
Tidur yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional. Dalam hubungan yang salah, cara tubuh merespons stres bisa terlihat dari sulit tidur, sering terbangun, atau merasa tidak segar meski tidur cukup lama.
Pikiran yang terus bekerja memproses konflik membuat tubuh sulit masuk ke fase istirahat optimal. Jika pola tidur memburuk secara konsisten, hal ini menjadi tanda bahwa hubungan tersebut memberi dampak negatif pada keseimbangan tubuh.
6. Mengalami Brain Fog
Cara tubuh memperlihatkan hubungan yang salah melalui brain fog/Foto: Freepik.com/benzoix
Brain fog ditandai dengan sulit fokus, mudah lupa, dan merasa seperti tidak sepenuhnya hadir. Cara tubuh menunjukkan hubungan yang salah sering kali muncul melalui kondisi ini, terutama ketika pikiran terus dipenuhi konflik emosional.
Psikoterapis Carol A. Lambert menjelaskan bahwa sistem saraf sangat dipengaruhi oleh pengalaman dalam hubungan. Ketika kamu mengalami kontrol berlebihan atau kekerasan emosional dari pasangan, tubuh akan merespons dengan rasa takut atau teror.
Jika rasa takut ini berlangsung lama dan menjadi kronis, risiko trauma pun meningkat. Reaksi trauma umumnya muncul dalam bentuk melawan, melarikan diri, atau diam. Akibatnya, tubuh memberi sinyal bahwa ada beban psikologis yang belumterselesaikan.
Tubuh memiliki caranya sendiri untuk berkomunikasi ketika sesuatu tidak berjalan semestinya. Jika kamu mulai mengenali tanda-tanda di atas dalam keseharian, mungkin sudah saatnya berhenti sejenak dan mendengarkan tubuh kamu, Beauties.
***
Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!


