6 Kebiasaan Media Sosial yang Diam-diam Menunjukkan Generasi Seseorang, Kamu yang Mana?

Retno Anggraini | Beautynesia
Selasa, 01 Sep 2026 11:30 WIB
6 Kebiasaan Media Sosial yang Diam-diam Menunjukkan Generasi Seseorang, Kamu yang Mana?
Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Membocorkan Generasi Seseorang/Foto: Magnific.com/magnific

Cara seseorang menggunakan media sosial ternyata bisa menjadi petunjuk tentang generasi tempat seseorang tumbuh. Bahkan, kebiasaan tertentu dalam menggunakan media sosial dianggap cukup khas pada kelompok usia tertentu karena setiap generasi memiliki cara berbeda dalam berinteraksi di dunia digital.

Meski begitu, kebiasaan-kebiasaan ini tentu tidak bisa dijadikan patokan mutlak untuk menentukan usia seseorang. Penasaran kebiasaan digital apa saja yang disebut bisa membocorkan generasi seseorang? Yuk, cek satu per satu dan lihat apakah ada yang terasa familiar buat kamu!

1. Menggunakan TikTok sebagai Mesin Pencari

Menggunakan TikTok sebagai mesin pencari banyak dikaitkan dengan Gen Z karena video singkat dari kreator dianggap lebih praktis dan mudah dipahami.
Kebiasaan media sosial Gen Z, menggunakan TikTok sebagai mesin pencari/Foto: Pexels.com/Artem Podrez

Melansir The Queen Zone, salah satu kebiasaan menggunakan media sosial yang disebut cukup identik dengan Gen Z adalah menjadikan TikTok sebagai mesin pencari. Ketika ingin mencari sesuatu, sebagian Gen Z memilih langsung mencari video di TikTok dibandingkan menggunakan mesin pencari tradisional.

Perilaku ini berkaitan dengan cara Gen Z mencari dan menerima informasi. Alih-alih membaca artikel panjang, Gen Z cenderung menyukai jawaban dalam format video yang singkat dan langsung memperlihatkan praktiknya.

Kebiasaan ini juga menunjukkan adanya kepercayaan yang lebih besar terhadap pengalaman dan penjelasan kreator secara langsung dibandingkan situs yang terasa lebih impersonal.

2. Mengandalkan Emoji Joy

Kebiasaan media sosial Millenial, menggunakan emoji joy/Foto: Magnific.com/rawpixel.com

Penggunaan emoji joy atau haha emoji (😂) ternyata juga bisa menjadi salah satu kebiasaan media sosial yang dianggap memperlihatkan perbedaan generasi. Emoji ini sangat lekat dengan Millennial sebagai cara untuk menunjukkan sesuatu yang lucu, sementara Gen Z menganggap emoji ini sudah ketinggalan zaman.

Sebagai gantinya, Gen Z disebut lebih sering menggunakan simbol lain, termasuk emoji tengkorak, untuk menunjukkan bahwa sesuatu sangat lucu. Namun, tetap saja bukan berarti setiap orang yang memakai haha emoji otomatis seorang Millennial.

3. Mengunggah Photo Dump Tanpa Banyak Filter

Mengunggah kumpulan foto random tanpa banyak filter menjadi salah satu kebiasaan media sosial yang populer di kalangan Gen Z karena menonjolkan kesan autentik dan santai.
Kebiasaan media sosial Gen Z dengan tren photo dump tanpa filter/Foto: Magnific.com/magnific

Kalau isi galeri ponsel kamu sering berakhir menjadi carousel berisi foto blur, makanan, pemandangan, selfie seadanya, atau momen random, bisa jadi kamu mengikuti gaya yang populer di kalangan Gen Z. Gaya ini berbeda dengan kebiasaan membuat satu foto yang sangat terkurasi.

Gen Z disebut lebih mengutamakan kesan autentik dan tidak terlalu berusaha membuat setiap unggahan terlihat sempurna. Survei Kadence menunjukkan bahwa 90 persen Gen Z menghargai autentisitas dalam unggahan media sosial. Karena itu, foto yang sedikit berantakan atau tidak terlalu diedit justru dianggap lebih natural.

4. Merekam Video dari Sudut Tinggi

Sudut pengambilan gambar juga termasuk kebiasaan media sosial yang dapat mencerminkan tren antargenerasi. Gaya merekam dari sudut tinggi disebut lebih identik dengan Millennial.
Kebiasaan media sosial Millenial, memakai angle atas saat merekam video/Foto: Pexels.com/Diana

Sudut kamera ternyata bisa menjadi bagian dari kebiasaan dalam menggunakan media sosial yang menunjukkan perbedaan generasi, lho. Mengangkat ponsel lebih tinggi dari kepala saat mengambil foto atau video disebut sebagai gaya yang populer di kalangan Millennial. Dulunya, sudut ini banyak digunakan untuk mendapatkan pencahayaan dan tampilan wajah yang dianggap lebih menarik.

Sementara itu, Gen Z disebut lebih nyaman menggunakan sudut kamera yang lebih rendah dan terlihat santai. Ponsel bahkan bisa diletakkan di atas meja, disandarkan ke dinding, atau diposisikan untuk mengambil gambar dari pinggang ke atas.

5. Menjadikan LinkedIn sebagai Buku Harian

Kebiasaan media sosial Generasi X, menjadikan LinkedIn sebagai ruang cerita/Foto: Pexels.com/Tobias Dziuba

LinkedIn pada awalnya dikenal sebagai platform untuk membangun jaringan profesional, membagikan pengalaman kerja, dan mencari peluang karier. Namun, Gen X menjadikan LinkedIn sebagai tempat berbagi refleksi pribadi dan perjalanan karier.

Pengguna dalam kelompok ini disebut lebih sering membagikan cerita panjang mengenai kepemimpinan, perkembangan diri, atau pengalaman dalam perjalanan profesional. Sebaliknya, pekerja yang lebih muda cenderung menjaga profil profesional mereka tetap ringkas dan berfokus pada informasi yang berkaitan dengan pekerjaan.

Data Hootsuite 2025 menyebut 27,2 persen pengguna LinkedIn berada pada rentang usia 40-59 tahun. Meski demikian, berbagi cerita personal di LinkedIn tidak otomatis menunjukkan usia tertentu. Banyak profesional dari berbagai generasi yang menggunakan LinkedIn untuk membangun personal branding melalui storytelling.

6. Membagikan Disclaimer Privasi Palsu

Membagikan disclaimer privasi yang meminta orang lain melakukan copy-paste menjadi salah satu kebiasaan di media sosial yang disebut lebih banyak ditemukan pada Baby Boomers.
Kebiasaan media sosial Baby Boomers, membagikan disclaimer privasi yang viral/Foto: Pexels.com/Teona Swift

Kamu mungkin pernah melihat unggahan yang berisi pernyataan panjang soal hak atas foto dan data pribadi. Biasanya, pesan tersebut meminta pengguna menyalin dan menempelkannya ke timeline dengan klaim bahwa cara tersebut dapat mencegah platform menggunakan atau mengambil foto pribadi.

Kebiasaan media sosial seperti ini banyak menyebar di kalangan Baby Boomers dan berkaitan dengan kekhawatiran terhadap privasi digital. Pesan semacam ini sebenarnya tidak serta-merta mengubah ketentuan layanan sebuah platform.

Generasi yang lebih muda cenderung lebih memahami bahwa aturan penggunaan platform sudah disetujui ketika seseorang membuat akun. Di sisi lain, laporan Promoguy menyebut 65 persen Baby Boomers menggunakan platform digital seperti YouTube secara rutin, meski masih memiliki kekhawatiran besar mengenai kepemilikan data.

Gen Z, Millennial, Gen X, hingga Baby Boomers tumbuh dalam kondisi teknologi yang berbeda sehingga cara setiap generasi beradaptasi dengan media sosial pun tidak selalu sama. Dari enam kebiasaan media sosial di atas, kamu paling relate dengan yang mana, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(naq/naq)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.