6 Kebiasaan Orang Pura-Pura Kaya yang Bikin Susah Sukses

Nindya Putri Hermansyah | Beautynesia
Kamis, 29 Jan 2026 10:00 WIB
3. Tidak Memiliki Dana Darurat atau Investasi
Ilustrasi menabung/Freepik

Di era media sosial seperti sekarang, tampilan hidup mewah sering kali dianggap sebagai tanda kesuksesan. Barang bermerek, liburan mahal, hingga gaya hidup glamor seolah menjadi standar baru untuk dinilai berhasil.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang memaksakan diri tampil “kaya” demi pengakuan sosial, meski kondisi keuangan sebenarnya jauh dari kata aman. Kebiasaan ini kerap dilakukan tanpa disadari dan perlahan membentuk pola hidup yang justru menjauhkan seseorang dari kesuksesan nyata.

Beauties, di balik citra glamor tersebut, ada banyak kebiasaan tersembunyi yang bisa membuat hidup penuh tekanan, utang, dan rasa tidak aman. Jika dibiarkan, pola ini bukan hanya merusak keuangan, tetapi juga mental dan masa depan.

Yuk, simak kebiasaan orang yang pura-pura kaya agar kamu bisa terhindar dari masalah keuangan di masa depan. Simak!

1. Membeli Barang Konsumtif dengan Berhutang/Kredit

Ilustrasi membeli barang konsumtif/Freepik: senivpetro

Orang yang mengejar status sosial cenderung membeli barang mewah seperti gadget terbaru, pakaian branded, tas desainer, atau mobil dengan skema kredit dan cicilan. Mereka melihat batas kredit sebagai uang tunai yang tersedia.

CEOWORLD menyebutkan, banyak individu yang memakai batas kredit layaknya kas di saku, tanpa perencanaan pembayaran yang realistis. Padahal, bunga cicilan dan kredit membuat nilai total pembelian jauh lebih besar daripada harga aslinya. Ketika utang menumpuk, arus kas yang seharusnya bisa dipakai untuk investasi atau dana darurat justru tersedot untuk cicilan konsumtif.

Kebiasaan ini bukan hanya membuat finansial ruwet, tetapi juga melemahkan peluang untuk membangun aset jangka panjang seperti properti, saham, atau pendidikan yang sesungguhnya adalah pondasi kesuksesan finansial.

2. Mencari Validasi Orang melalui Media Sosial

Ilustras berfoto untuk media sosial/Freepik: lookstudio

Fokus utama mereka bukan pada kestabilan finansial, tetapi pada validasi sosial. Mendapat likes atau komentar positif di media sosial sering menjadi “bukti” bahwa mereka termasuk golongan yang sukses.

CEOWORLD mencatat bahwa 61% responden dalam survei mereka mengakui memperindah gaya hidup mereka secara online, dan 28% bahkan berutang untuk mempertahankan tampilan tersebut. Media sosial menjadi alat untuk pencitraan bagi mereka.

Psikolog menyebut perilaku ini sebagai bentuk affiliation signaling yakni upaya untuk merasa termasuk dalam kelas sosial tertentu melalui penampilan, bukan pencapaian yang sebenarnya. 

3. Tidak Memiliki Dana Darurat atau Investasi

Ilustrasi menabung/Freepik

Orang yang terlalu fokus pada gaya hidup konsumtif biasanya menghabiskan sebagian besar pendapatan untuk pengeluaran tampak, sehingga tidak menyisakan cukup uang untuk tabungan atau investasi yang menghasilkan pendapatan pasif.

Banyak orang yang tampil “seolah kaya” ternyata memiliki sedikit atau bahkan tidak ada dana darurat.  Sementara orang sukses secara finansial biasanya menunjukkan kebiasaan menabung, investasi saham, atau properti, sesuatu yang jarang dilakukan oleh mereka yang hanya mengejar pencitraan.

4. Mengandalkan

Ilustrasi berhutang/Freepik: tirachardz

Demi mempertahankan standar hidup yang tinggi, mereka sering menutup utang lama dengan utang baru, baik dari kartu kredit, pinjaman bank, atau bahkan pada teman dan keluarga. Ini menciptakan lingkaran setan utang yang semakin dalam.

New Trader U melaporkan, orang yang mengejar penampilan sering kali hanya membayar minimum pada cicilan mereka dan mengambil utang lain untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan finansial. Akibatnya, mereka hidup di lingkaran utang tanpa akhir. Kemudian karena banyak waktu dan energi terbuang untuk urusan utang, kemampuan untuk fokus pada karier atau usaha produktif berkurang drastis.

5. Sering Memamerkan Kekayaan (Flexing)

Ilustrasi flexing/Freepik: drodotbean

Berbeda dengan orang kaya sejati yang sering memilih gaya hidup sederhana, orang yang pura-pura kaya cenderung memamerkan barang atau pengalaman mewah secara vokal di media sosial.

Perilaku ini sebenarnya mencerminkan kebutuhan untuk menutupi rasa tidak aman secara finansial. Seseorang memamerkan kekayaan sebagai cara menutupi rasa tidak puas, tidak aman, atau merasa belum benar-benar berhasil dalam hidupnya.

6. Membandingkan Diri dan Insecure Berlebihan

Ilustrasi insecure/Freepik: freepik

Perbandingan sosial berlebihan seperti membandingkan gaji, barang, atau gaya hidup dengan orang lain menjadi pemicu utama ketidakpuasan diri dan perilaku konsumtif.

Pola pikir ini membuat seseorang lebih terobsesi pada penampilan daripada pencapaian pribadi. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai tekanan sosial untuk “masuk kelompok” atau merasa diterima. Namun, mengejar standard eksternal sering kali membuat seseorang kehilangan arah tujuannya dengan jelas dan pada ujungnya membuat kesuksesan sejati makin jauh.

Beauties, menjadi sukses sejati bukan tentang barang apa yang kamu punya atau berapa banyak likes yang kamu dapat di media sosial. Kesuksesan merupakan keseimbangan antara kestabilan finansial, kesehatan mental, dan tujuan hidup yang bermakna. Fokuslah pada pengelolaan keuangan yang bijak, investasi terhadap dirimu sendiri, serta hubungan yang sehat secara sosial dan emosional.

Alih-alih memburu status, bangunlah fondasi kehidupan yang kuat: simpan dana darurat, atur utang dengan cerdas, dan investasikan waktu serta uangmu untuk hal-hal yang benar-benar penting. Jika kamu mulai melihat keberhasilan melalui lensa ini, kamu tak hanya akan tampil sukses,  tetapi sungguh-sungguh merasakan sukses itu dalam hidupmu. 

***

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk, gabung ke komunitas pembaca Beautynesia, B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

 

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.