7 Alasan Sulit Meninggalkan Pasangan yang Buruk Menurut Ilmu Psikologi

Nazwa Yuliana | Beautynesia
Kamis, 27 Aug 2026 22:00 WIB
6. Terikat dengan Lingkungan Sosial dan Keluarga
Terikat dengan lingkungan sosial dan keluarga/ Foto: Pexels.com/ Mizuno K

Beauties, pernahkah kamu bertanya-tanya mengapa seseorang bisa tetap bertahan dalam hubungan yang sebenarnya sudah membuatnya tidak bahagia? Padahal, dari luar mungkin terlihat jelas bahwa hubungan tersebut tidak lagi memberikan kenyamanan.

Meninggalkan pasangan yang tidak baik memang tidak selalu semudah mengatakan "aku ingin putus". Ada berbagai pertimbangan emosional, kebiasaan, pengalaman, hingga ketakutan mengenai kehidupan setelah hubungan berakhir.

Dilansir dari Psychology Today dan Health Shots, terdapat sejumlah faktor psikologis yang dapat membuat seseorang sulit meninggalkan hubungan yang tidak sehat. Beberapa di antaranya berkaitan dengan rasa takut kehilangan, investasi yang sudah diberikan dalam hubungan, harapan bahwa pasangan akan berubah, hingga rendahnya rasa percaya diri.

Lantas, apa saja alasan sulit meninggalkan pasangan meskipun hubungan tersebut sudah tidak baik? Simak penjelasannya berikut ini, Beauties.

1. Merasa Hubungan Belum Cukup Buruk untuk Ditinggalkan

Merasa hubungan belum cukup buruk untuk ditinggalkan/ Foto: Pexels.com/ MART PRODUCTION

Salah satu alasan seseorang tetap bertahan dengan pasangan yang tidak baik adalah karena merasa hubungan tersebut "tidak seburuk itu". Meskipun sering merasa kecewa, tidak dihargai, atau tidak mendapatkan kontribusi yang seimbang dari pasangan, seseorang bisa terus meyakinkan dirinya bahwa masih ada hal-hal yang dapat dipertahankan.

Kondisi ini berkaitan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan manusia untuk merasa kehilangan sesuatu lebih menyakitkan dibandingkan mendapatkan sesuatu yang baru. Dalam hubungan, meninggalkan pasangan berarti menghadapi berbagai kehilangan, mulai dari rutinitas, waktu yang sudah dihabiskan bersama, kehidupan sosial, hingga harapan bahwa hubungan tersebut suatu hari akan menjadi lebih baik.

Akibatnya, seseorang bisa lebih fokus pada apa yang akan hilang jika pergi daripada mempertimbangkan apa yang mungkin didapatkan setelah meninggalkan hubungan tersebut.

2. Merasa Sudah Terlalu Banyak Berinvestasi dalam Hubungan

Merasa sudah terlalu banyak berinvestasi dalam hubungan/ Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Pernah berpikir, "Aku sudah bertahun-tahun bersama dia, masa harus berakhir begitu saja?" Pikiran seperti ini cukup umum terjadi dalam hubungan yang sudah berlangsung lama. Seseorang mungkin merasa telah memberikan terlalu banyak waktu, perhatian, tenaga, uang, dan pengorbanan sehingga sulit untuk memilih pergi.

Kondisi tersebut berkaitan dengan sunk cost fallacy. Konsep ini menggambarkan kecenderungan seseorang untuk terus mempertahankan sesuatu karena sudah banyak berinvestasi di dalamnya, meskipun keputusan tersebut belum tentu memberikan manfaat di masa depan. Akibatnya, seseorang tidak lagi bertanya, "Apakah hubungan ini masih baik untukku sekarang?" tetapi justru berpikir, "Kalau aku pergi, bukankah semua yang sudah aku lakukan menjadi sia-sia?"

Padahal, waktu dan usaha yang telah diberikan merupakan bagian dari masa lalu. Keputusan mengenai hubungan sebaiknya juga mempertimbangkan kondisi dan kesejahteraan diri saat ini.

3. Takut Menyesal Setelah Putus

Takut menyesal setelah putus/ Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Selain takut kehilangan, seseorang juga bisa sulit pergi karena membayangkan kemungkinan menyesal setelah hubungan berakhir. Misalnya, muncul pikiran seperti, "Bagaimana kalau setelah putus aku tidak menemukan orang yang lebih baik?" atau "Bagaimana kalau ternyata dia berubah setelah aku pergi?"

Rasa takut terhadap penyesalan yang mungkin terjadi di masa depan dapat membuat seseorang lebih memilih bertahan dalam hubungan yang tidak ideal. Pikiran juga dapat membayangkan berbagai skenario buruk, seperti berakhir sendirian atau melihat mantan pasangan berubah menjadi lebih baik bersama orang lain.

Masalahnya, skenario tersebut belum tentu benar-benar terjadi. Namun, karena ketidakpastian terasa menakutkan, seseorang akhirnya memilih sesuatu yang sudah dikenalnya meskipun tidak membuatnya bahagia.

4. Masih Berharap Pasangan Akan Berubah

Masih berharap pasangan akan berubah/ Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Beauties, harapan memang bisa menjadi sesuatu yang membuat seseorang bertahan. Ketika pasangan memiliki perilaku yang tidak menyenangkan, seseorang mungkin berpikir bahwa keadaan akan berubah suatu hari nanti. Terlebih jika pasangan pernah menunjukkan sisi baik atau sesekali memberikan perhatian setelah melakukan kesalahan.

Harapan tersebut dapat membuat seseorang terus memberikan kesempatan. Orang dapat bertahan dalam hubungan tidak sehat karena berharap keadaan akan menjadi lebih baik di kemudian hari, terutama setelah merasa sudah memberikan banyak waktu dan energi dalam hubungan tersebut. 

Tidak ada yang salah dengan berharap seseorang berubah. Namun, penting untuk melihat apakah perubahan tersebut benar-benar terjadi melalui tindakan nyata atau hanya berupa janji yang terus berulang. Jika pola yang sama terus terjadi tanpa perubahan berarti, harapan justru dapat membuat seseorang semakin lama bertahan dalam hubungan yang tidak sehat.

5. Merasa Tidak Memiliki Kendali untuk Pergi

Merasa tidak memiliki kendali untuk pergi/ Foto: Pexels.com/ Alireza Heidarpour

Tidak semua orang yang ingin mengakhiri hubungan merasa mampu melakukannya. Seseorang mungkin sudah menyadari bahwa hubungannya tidak sehat, tetapi tetap merasa tidak memiliki kekuatan untuk mengambil keputusan. Ia bisa merasa tidak berdaya, takut menghadapi kehidupan setelah putus, atau berpikir bahwa dirinya tidak akan mampu menjalani kehidupan tanpa pasangan.

Rendahnya kepercayaan diri dan perasaan tidak memiliki kendali sebagai salah satu faktor yang dapat membuat seseorang tetap bertahan. Kondisi tersebut juga dapat berkaitan dengan learned helplessness, ketika seseorang merasa tidak ada solusi atau jalan keluar dari keadaan yang sedang dihadapi. Dalam kondisi seperti ini, seseorang mungkin membutuhkan dukungan dari orang-orang yang dipercaya agar dapat melihat bahwa dirinya sebenarnya memiliki pilihan.

6. Terikat dengan Lingkungan Sosial dan Keluarga

Terikat dengan lingkungan sosial dan keluarga/ Foto: Pexels.com/ Mizuno K

Putus dari pasangan bukan hanya berarti kehilangan satu orang. Dalam hubungan yang sudah berlangsung lama, seseorang mungkin juga sudah memiliki lingkaran pertemanan, keluarga, bahkan kehidupan sosial yang terhubung dengan pasangan.

Karena itu, keputusan untuk berpisah dapat terasa jauh lebih rumit. Seseorang mungkin khawatir bagaimana keluarga akan bereaksi, takut kehilangan teman-teman yang selama ini dikenal bersama, atau merasa tidak nyaman membayangkan harus menjelaskan alasan perpisahan kepada orang lain.

Hubungan dengan teman dan keluarga bersama, norma sosial, hingga keberadaan anak dapat menjadi faktor yang membuat seseorang lebih sulit mengakhiri hubungan. Akibatnya, seseorang terkadang memilih bertahan bukan karena hubungan tersebut masih membuatnya bahagia, tetapi karena merasa terlalu banyak hal yang harus ditinggalkan jika hubungan berakhir.

7. Takut Mengalami Sakit Hati Lagi

Takut mengalami sakit hati lagi/ Foto: Pexels.com/ https://kaboompics.com/

Putus cinta memang bisa terasa menyakitkan. Bagi seseorang yang pernah mengalami patah hati berat, kemungkinan mengalami rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya dapat menjadi sesuatu yang menakutkan.

Karena itu, meskipun menyadari bahwa dirinya tidak bahagia bersama pasangan yang tidak baik, seseorang mungkin tetap memilih bertahan karena menganggap rasa sakit akibat putus akan lebih sulit dihadapi.

Pengalaman patah hati sebelumnya dapat membuat seseorang enggan menghadapi perpisahan lagi. Dalam beberapa kasus, seseorang juga dapat menjadi sangat bergantung pada pasangan dan merasa tidak mampu menjalani kehidupan tanpa dirinya. Padahal, rasa takut terhadap sakit hati tidak selalu berarti hubungan tersebut harus dipertahankan. Terkadang, seseorang justru perlu memberikan kesempatan kepada dirinya untuk pulih dan membangun kembali kehidupan di luar hubungan tersebut.

Beauties, ada banyak alasan sulit meninggalkan pasangan, bahkan ketika seseorang sudah menyadari bahwa hubungan yang dijalani tidak lagi sehat. Memiliki perasaan sulit untuk pergi bukan berarti kamu lemah. Keputusan untuk mengakhiri hubungan memang dapat melibatkan banyak aspek emosional dan kehidupan yang sudah terbangun selama bertahun-tahun.

Namun, penting untuk tidak hanya melihat apa yang sudah kamu berikan di masa lalu. Pertimbangkan juga bagaimana hubungan tersebut memengaruhi kehidupan dan kesejahteraanmu saat ini. Sebab, bertahan hanya karena takut kehilangan sesuatu yang sudah lama dimiliki tidak selalu berarti hubungan tersebut masih layak dipertahankan. Terkadang, menyadari bahwa suatu hubungan tidak lagi baik untuk diri sendiri justru menjadi langkah pertama untuk mulai memilih kehidupan yang lebih sehat, Beauties.

___

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!  

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE