7 Ciri Kepribadian Orang yang Workaholic, Hobi Jadikan Pekerjaan sebagai Pelarian!

Justina Nur | Beautynesia
Kamis, 14 May 2026 18:00 WIB
7 Ciri Kepribadian Orang yang Workaholic, Hobi Jadikan Pekerjaan sebagai Pelarian!
7 Ciri-ciri Kepribadian Orang yang Workaholic, Hobi Jadikan Pekerjaan Sebagai Pelarian!/ Foto: Freepik.com/DC Studio

Mungkin dari kecil kita selalu diajarkan bahwa kerja keras selalu memberikan hasil yang besar. Hal itu merupakan pemahaman yang baik, terutama saat kita berusaha memberikan usaha yang maksimal di setiap pekerjaan yang kita lakukan.

Akan tetapi, sebetulnya ada batas tipis antara pekerja keras dan workaholic. Banyak orang yang workaholic, terus menerus mengejar ‘kesuksesan’ dengan terus bekerja tanpa henti, yang akhirnya justru mengorbankan kesehatan dan kesejahteraan diri sendiri.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui ciri-ciri kepribadian seseorang yang workaholic seperti berikut ini untuk mencegahnya agar tidak berdampak buruk untuk performa kerja dan kesehatan mental.

Menjadikan Pekerjaan Sebagai Suatu Pelarian

Workaholic sering menjadikan pekerjaan sebagai pelarian dari perasaan negatif seperti rendah diri, cemas, atau impostor syndrome. Foto: Freepik.com/Jcomp

Seperti yang dilansir dari Forbes, seseorang yang workaholic sering menggunakan pekerjaan sebagai cara untuk menghindari perasaan negatif yang membayangi diri sendiri, seperti rendah diri, impostor syndrome, atau kecemasan.

Workaholic berbeda dengan seorang yang high performer, yang justru bekerja karena termotivasi mencapai tujuan tapi tetap bisa menghadapi tantangan dengan sehat.

Kerja Berlebihan tapi Sering Hilang Fokus

Workaholic senang terlihat bekerja secara terus menerus meski sebetulnya sudah hilang fokus./Foto: Freepik.com

Seseorang yang workaholic cenderung menyukai terlihat bekerja secara terus menerus, meski mereka justru bekerja tanpa arah yang jelas sampai akhirnya kelelahan. Berbeda dengan seorang high performer, high performer justru mampu bekerja secara fokus dan efisien sambil tetap menjaga keseimbangan hidup.

Tidak Mampu Membuat Batasan Kerja yang Sehat

Seseorang workaholic tidak tahu kapan harus berhenti bekerja dan memisahkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi./ Foto: Freepik.com/prostooleh

Seseorang yang cerdas tentu tahu kapan harus berhenti dan menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, mereka yang workaholic justru sering tidak bisa membuat batasan tersebut dan terus mencoba memaksakan diri sampai burnout. Selain itu, workaholic juga kerap mengabaikan stres dan kelelahan yang tentu sangat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh dan kesehatan mental.

Lebih Fokus pada Aktivitas, Bukan Hasil Akhir

Workaholic lebih fokus pada aktivitasnya yang penuh dengan kesibukan./ Foto: freepik.com/Jcomp

Penting bagi kamu untuk mengetahui tujuan akhir sebelum memulai suatu aktivitas. Hal ini akan membuatmu fokus pada hasil kerja, memiliki strategi, dan mencoba beraktivitas yang memiliki dampak jangka panjang.

Sedangkan seseorang yang workaholic justru lebih fokus pada aktivitas. Mereka senang terlihat sibuk dan menghargai kesibukannya. Namun, hal ini bisa jadi sebagai akibat dari budaya kerja yang hanya menghargai kesibukan, yang akhirnya justru menciptakan banyak orang yang workaholic.

 

Sangat Bergantung pada To-Do-List

Workaholic cenderung memilih mengikuti permintaan orang-orang di kantor begitu saja. Foto: Freepik.com/wayhomestudio

Mereka yang workaholic sering membiarkan to-do-list dan orang-orang yang ada di kantor untuk memintanya mengerjakan sesuatu. Hal ini tentu bisa berdampak buruk jika dilakukan terus-menerus, karena jadi kurang bisa mengatur prioritas secara jelas dan menerapkan batasan.

Berbeda dengan seorang yang high performer, mereka tidak takut untuk berhenti dan mengatakan ‘tidak’ baik secara langsung atau langsung untuk menjaga kinerjanya sekaligus keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan.

Lebih Memprioritaskan Kuantitas daripada Kualitas

Seorang yang 'gila kerja' berpikir semakin sering bekerja, maka hasilnya akan semakin baik./ Foto: Freepik.com/benzoix

Seseorang yang 'gila kerja' cenderung berpikir bahwa semakin sering bekerja atau semakin banyak jam kerja yang dimiliki, maka hasilnya akan semakin baik. Padahal, keseimbangan hidup justru dimulai dari refleksi diri dan memahami motivasi pribadi.

Selain itu, bekerja lebih lama juga belum tentu menentukan kesuksesan dan efektifnya suatu pekerjaan yang sedang dilakukan.

Suka Micromanaging dan Sulit Melihat Tujuan Besarnya 

Workaholic suka mengontrol semua hal sendirian bahkan sampai menghalanginya melihat gambaran besarnya./ Foto: Freepik.com/prostooleh

Workaholic kerap melakukan micromanaging sehingga menghambat kemampuan mereka untuk melihat dan memengaruhi ‘bigger picture’ sesungguhnya. Mereka ingin selalu mengontrol semua hal sendirian sampai kehilangan gambaran besarnya. Hal ini berbeda dengan seorang yang high performer, karena paham bagaimana cara mempercayai tim dan mendelegasikan tugas kepada anggota tim.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE