7 Kebiasaan Orang yang Tampak Baik-Baik Saja, Padahal Sedang Dilanda Masalah!

Nazwa Yuliana | Beautynesia
Selasa, 14 Jul 2026 22:00 WIB
5. Berusaha Menghindari Konflik
Berusaha menghindari konflik/ Foto: Pexels.com/ Vera Arsic

Beauties, tidak semua orang yang terlihat tenang dan bahagia benar-benar sedang baik-baik saja. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu orang-orang yang tampak kuat, produktif, dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa. Mereka tetap bekerja, bercanda, bahkan masih bisa menghibur orang lain di sekitarnya.

Namun, di balik senyuman tersebut, tidak sedikit dari mereka yang sebenarnya sedang dilanda masalah. Perasaan lelah, cemas, bahkan tertekan sering kali disembunyikan rapat-rapat. Banyak orang yang dilanda masalah memilih untuk tetap terlihat “baik-baik saja” karena tidak ingin merepotkan orang lain atau takut dianggap lemah.

Fenomena ini bukan hal yang jarang terjadi. Justru, semakin seseorang terlihat kuat dari luar, belum tentu ia benar-benar kuat di dalam. Ada berbagai kebiasaan yang tanpa disadari menjadi “sinyal” bahwa seseorang sedang memendam banyak hal. 

Dilansir dari My Inner Creative dan Organically Human, berikut ini adalah deretan kebiasaan orang yang tampak baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berjuang menghadapi tekanan emosional. Simak!

1. Terlihat Sangat Sibuk, Tapi Tidak Selalu Produktif

Terlihat sangat sibuk, tapi tidak selalu produktif/ Foto: Pexels.com/ www.kaboompics.com

Kebiasaan orang yang dilanda masalah adalah kecenderungan untuk selalu menyibukkan diri. Mereka mengisi hari dengan berbagai aktivitas, mulai dari pekerjaan, kegiatan sosial, hingga hal-hal kecil yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Sekilas, ini terlihat seperti produktivitas. Namun jika diperhatikan lebih dalam, kesibukan tersebut sering kali menjadi cara untuk menghindari perasaan yang tidak nyaman. Saat seseorang berhenti sejenak, pikiran tentang masalah yang sedang dihadapi bisa muncul kembali.

Karena itulah, banyak orang memilih untuk terus bergerak. Mereka merasa lebih “aman” saat sibuk, karena tidak perlu berhadapan langsung dengan emosi yang sedang mereka rasakan. Dalam kondisi dilanda masalah, kesibukan menjadi semacam pelarian yang terasa efektif, meskipun hanya sementara.

2. Sering Memberi Nasihat yang Tidak Mereka Terapkan

Sering memberi nasihat yang tidak mereka terapkan/ Foto: Pexels.com/ Alexander Suhorucov

Orang yang dilanda masalah biasanya memiliki kemampuan untuk memahami orang lain dengan sangat baik. Mereka bisa menjadi pendengar yang sabar, memberikan solusi yang bijak, bahkan mampu menenangkan orang lain yang sedang kesulitan.

Namun, ada satu hal yang cukup ironis. Nasihat yang mereka berikan sering kali adalah hal yang sebenarnya juga mereka butuhkan untuk diri sendiri.

Saat seseorang sedang dilanda masalah, mereka sering lebih mudah melihat solusi dari sudut pandang orang lain. Sebaliknya, ketika harus menghadapi masalah pribadi, semuanya terasa jauh lebih rumit dan emosional. Membantu orang lain bisa memberikan rasa “bermakna” dan sementara waktu mengalihkan perhatian dari masalah pribadinya.

3. Perfeksionis, Tapi Sering Menunda

Perfeksionis, tapi sering menunda/ Foto: Pexels.com/ Juan Pablo Serrano

Kebiasaan orang yang dilanda masalah adalah perfeksionis. Mereka ingin segala sesuatu berjalan dengan sempurna dan sesuai harapan.

Namun, standar yang terlalu tinggi ini justru bisa menjadi beban. Ketika seseorang merasa harus selalu sempurna, muncul rasa takut untuk gagal atau melakukan kesalahan.

Akibatnya, mereka justru menunda pekerjaan. Mereka merasa belum siap, belum cukup baik, atau belum menemukan waktu yang “tepat” untuk memulai.

Dalam kondisi dilanda masalah, perfeksionisme sering kali bukan lagi tentang kualitas, tetapi tentang tekanan. Mereka ingin mengontrol sesuatu di tengah kondisi emosional yang tidak stabil, tetapi justru berakhir merasa semakin tertekan.

4. Sangat Peka terhadap Emosi Orang Lain

Sangat peka terhadap emosi orang lain/ Foto: Pexels.com/ RDNE Stock project

Mereka cenderung memiliki empati yang tinggi. Mereka sangat peka terhadap perubahan emosi orang lain, bahkan hal-hal kecil sekalipun.

Pengalaman emosional yang berat membuat mereka lebih mudah memahami perasaan orang lain. Mereka tahu rasanya terluka, kecewa, atau merasa tidak didengar, sehingga mereka berusaha untuk tidak membuat orang lain merasakan hal yang sama.

Namun, di balik empati tersebut, ada sisi lain yang sering terabaikan. Mereka justru jarang memberikan perhatian yang sama kepada diri sendiri. Saat sedang dilanda masalah, mereka lebih fokus memastikan orang lain baik-baik saja, tanpa menyadari bahwa mereka juga membutuhkan perhatian dan dukungan.

5. Berusaha Menghindari Konflik

Berusaha menghindari konflik/ Foto: Pexels.com/ Vera Arsic

Orang yang dilanda masalah berusaha menghindari konflik. Mereka lebih memilih diam, mengalah, atau bahkan menarik diri dari situasi yang berpotensi menimbulkan perdebatan.

Bukan berarti mereka tidak memiliki pendapat. Justru sebaliknya, mereka sering kali memahami situasi dengan baik. Namun, mereka merasa bahwa konflik hanya akan menambah beban emosional yang sudah mereka rasakan.

Dalam kondisi dilanda masalah, energi emosional seseorang sudah terkuras. Menghadapi konflik bisa terasa sangat melelahkan, sehingga mereka memilih jalan yang paling “aman”, yaitu menghindarinya.

6. Memiliki Rutinitas yang Sangat Kaku

Memiliki rutinitas yang sangat kaku/ Foto: Pexels.com/ Yan Krukau

Mereka juga memiliki rutinitas yang sangat terstruktur. Mereka melakukan aktivitas yang sama setiap hari dengan pola yang hampir tidak berubah.

Rutinitas ini bukan tanpa alasan. Ketika emosi terasa tidak stabil, memiliki sesuatu yang pasti dan bisa diprediksi memberikan rasa aman.

Rutinitas membantu mereka merasa tetap memiliki kendali, meskipun sebenarnya sedang dilanda masalah. Dengan menjalani pola yang sama, mereka bisa mengurangi rasa cemas terhadap hal-hal yang tidak pasti.

7. Meremehkan atau Menganggap Masalahnya Tidak Penting

Meremehkan atau menganggap masalahnya tidak penting/ Foto: Pexels.com/ cottonbro studio

Terakhir, kebiasaan orang yang dilanda masalah adalah meremehkan masalah mereka sendiri. Mereka sering berkata, “Ini nggak seberapa,” atau “Masih banyak orang yang lebih susah.”

Padahal, apa yang mereka rasakan tetap valid. Kebiasaan ini muncul karena mereka terbiasa membandingkan diri dengan orang lain, atau merasa tidak berhak untuk merasa sedih.

Saat seseorang terus menerus mengabaikan perasaannya, beban emosional justru bisa semakin menumpuk. Dalam kondisi dilanda masalah, penting untuk menyadari bahwa setiap perasaan layak untuk didengar dan dipahami.

Beauties, memahami tanda orang yang dilanda masalah bisa membantu kita menjadi lebih peka terhadap orang-orang di sekitar kita. Tidak semua orang yang terlihat kuat benar-benar sedang baik-baik saja.

Terkadang, orang yang dilanda masalah justru adalah mereka yang paling sering tersenyum, paling bisa diandalkan, dan paling jarang mengeluh. Mereka terlihat baik-baik saja, tetapi sebenarnya sedang berjuang dalam diam.

Karena itu, penting untuk menghadirkan empati dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah perhatian kecil, pertanyaan sederhana, atau waktu untuk mendengarkan bisa sangat berarti bagi seseorang yang sedang dilanda masalah. Jika kamu sendiri sedang berada di posisi tersebut, ingatlah bahwa kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Berbagi cerita bukan tanda kelemahan, melainkan langkah berani untuk mulai merasa lebih baik. Kamu berhak untuk didengar, dipahami, dan merasa lega. 

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE