7 Tanda Pasangan yang Tidak Dewasa dalam Menjalani Pernikahan

Nazwa Yuliana | Beautynesia
Jumat, 31 Jul 2026 22:00 WIB
3. Menghindari Tanggung Jawab
Menghindari tanggung jawab/ Foto: Pexels.com/ RDNE Stock project

Beauties, setiap pasangan tentu menginginkan pernikahan yang harmonis dan langgeng. Namun, membangun rumah tangga bukan hanya membutuhkan cinta, melainkan juga kedewasaan emosional, komunikasi yang sehat, serta kemampuan menyelesaikan masalah bersama.

Dalam kenyataannya, tidak semua orang memasuki pernikahan dengan tingkat kedewasaan emosional yang sama. Ada pasangan yang masih kesulitan mengendalikan emosi, menghindari tanggung jawab, atau sulit memahami sudut pandang pasangannya. Kondisi seperti ini dapat memicu konflik yang terus berulang jika tidak disadari sejak dini.

Dilansir dari Marriage.com dan YourTango, pasangan yang belum matang secara emosional sering menunjukkan pola perilaku tertentu dalam hubungan. Meski demikian, memiliki satu atau dua perilaku berikut tidak serta-merta berarti seseorang pasti tidak dewasa. Kedewasaan emosional berada pada sebuah spektrum dan masih dapat berkembang seiring waktu apabila seseorang mau belajar serta memperbaiki diri.

Lantas, apa saja tanda pasangan tidak dewasa yang perlu dikenali? Simak penjelasannya berikut ini, Beauties.

1. Sulit Mengakui Kesalahan

Sulit mengakui kesalahan/ Foto: Pexels.com/ Yan Krukau

Salah satu tanda pasangan tidak dewasa di pernikahan adalah enggan mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Ketika terjadi konflik, mereka lebih sering mencari pembenaran atau menyalahkan keadaan dibandingkan melakukan introspeksi.

Bahkan, permintaan maaf yang sederhana pun terasa sangat sulit diucapkan karena mereka menganggap mengakui kesalahan sebagai bentuk kelemahan.

Padahal, dalam pernikahan, kemampuan meminta maaf dan memperbaiki kesalahan merupakan bagian penting dari hubungan yang sehat. Pasangan yang dewasa memahami bahwa mengakui kekeliruan bukan berarti kalah, melainkan menunjukkan rasa tanggung jawab terhadap hubungan.

2. Selalu Ingin Menang dalam Setiap Perdebatan

Selalu ingin menang dalam setiap perdebatan/ Foto: Pexels.com/ Vera Arsic

Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam rumah tangga. Namun, pasangan yang belum matang secara emosional sering memandang setiap diskusi sebagai kompetisi yang harus dimenangkan.

Mereka lebih fokus membuktikan dirinya benar daripada mencari solusi bersama. Akibatnya, konflik menjadi sulit selesai karena masing-masing pihak tidak benar-benar merasa didengarkan. Dalam hubungan yang sehat, tujuan berdiskusi bukan untuk menentukan siapa yang menang, melainkan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi kedua belah pihak.

3. Menghindari Tanggung Jawab

Menghindari tanggung jawab/ Foto: Pexels.com/ RDNE Stock project

Salah satu tanda pasangan yang kurang dewasa adalah sering menghindari tanggung jawab. Misalnya, enggan ikut menyelesaikan urusan rumah tangga, tidak menepati janji, atau menyerahkan seluruh beban kepada pasangan.

Ketika muncul masalah, mereka juga cenderung mencari kambing hitam daripada ikut mencari solusi. Padahal, pernikahan merupakan kerja sama yang membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak. Kemampuan memikul tanggung jawab menjadi salah satu tanda penting kedewasaan emosional dalam sebuah hubungan.

4. Sulit Mengendalikan Emosi

Sulit mengendalikan emosi/ Foto: Pexels.com/ Keira Burton

Semua orang dapat merasa marah, kecewa, atau sedih. Namun, pasangan yang kurang matang secara emosional sering menunjukkan reaksi yang berlebihan terhadap masalah kecil. Mereka mungkin mudah membentak, mendiamkan pasangan dalam waktu lama, meledak-ledak, atau mengatakan hal-hal yang menyakitkan ketika sedang emosi.

Kesulitan mengelola emosi seperti ini dapat membuat pasangan merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat atau perasaannya. Karena itu, kemampuan mengatur emosi menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.

5. Kurang Memiliki Empati

Kurang memiliki empati/ Foto: Pexels.com/ Afif Ramdhasuma

Empati merupakan kemampuan memahami dan menghargai apa yang dirasakan orang lain. Sayangnya, salah satu tanda pasangan tidak dewasa adalah sulit melihat suatu situasi dari sudut pandang pasangannya.

Ketika pasangan sedang sedih atau mengalami tekanan, mereka justru meremehkan perasaan tersebut atau menganggapnya berlebihan. Akibatnya, pasangan merasa kurang didengar dan tidak mendapatkan dukungan emosional yang dibutuhkan. Sebaliknya, hubungan yang sehat dibangun melalui kemampuan untuk saling mendengarkan, memahami, dan memberikan dukungan ketika pasangan sedang menghadapi masa sulit.

6. Bergantung pada Pasangan untuk Mengatur Emosinya

Bergantung pada pasangan untuk mengatur emosinya/ Foto: Pexels.com/ Timur Weber

Dalam hubungan yang sehat, pasangan memang saling mendukung secara emosional. Namun, pasangan yang belum dewasa sering menggantungkan seluruh kebahagiaan, rasa percaya diri, atau kestabilan emosinya kepada pasangannya.

Mereka berharap pasangan selalu memenuhi semua kebutuhan emosional tanpa berusaha mengelola perasaannya sendiri. Akibatnya, pasangan dapat merasa terbebani karena harus terus-menerus menjadi penenang dalam setiap situasi. Hubungan yang sehat tetap membutuhkan kemandirian emosional dari masing-masing individu.

7. Sulit Menerima Masukan atau Kritik

Sulit menerima masukan atau kritik/ Foto: Pexels.com/ Timur Weber

Setiap hubungan membutuhkan komunikasi yang jujur. Namun, tanda pasangan tidak dewasa di pernikahan yang terakhir adalah mudah tersinggung ketika menerima kritik atau masukan. Alih-alih mendengarkan dan mengevaluasi diri, mereka langsung bersikap defensif, marah, atau bahkan menyerang balik pasangannya.

Padahal, kritik yang disampaikan dengan baik seharusnya dapat menjadi kesempatan untuk bertumbuh bersama. Kemampuan menerima masukan menunjukkan bahwa seseorang bersedia memperbaiki diri demi menjaga kualitas hubungan.

Beauties, pernikahan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar rasa cinta. Kedewasaan emosional juga menjadi fondasi penting agar pasangan mampu menghadapi berbagai tantangan bersama. 

Meski demikian, tanda pasangan tidak dewasa di pernikahan bukanlah vonis bahwa hubungan tidak dapat diperbaiki. Dengan komunikasi yang terbuka, kemauan untuk berubah, dan komitmen dari kedua belah pihak, kedewasaan emosional dapat terus berkembang sehingga hubungan menjadi lebih sehat, harmonis, dan saling mendukung.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE