9 Buku Bertema Feminisme yang Insightful dan Wajib Kamu Baca!

Justina Nur | Beautynesia
Minggu, 08 Mar 2026 07:00 WIB
Invisible Women by Caroline Criado Perez
Invisible Women by Caroline Criado Perez menjelaskan bahwa ada banyak ketidakadilan yang dialami perempuan akibat data yang lebih berpihak pada standar pria. /Foto: Amazon.com

Setiap 8 Maret, kita memperingati Hari Perempuan Internasional atau International Women’s Day. Di momen ini, kita bisa mulai melakukan refleksi dan aktivitas positif untuk meningkatkan kesadaran memperjuangkan hak-hak perempuan, salah satunya dengan membaca buku tentang feminisme.

Mungkin selama ini kamu mengira bahwa buku bertema feminisme itu berat dan penuh dengan teori yang memusingkan. Padahal, bisa jadi kamu hanya belum menemukan bacaan yang tepat, Beauties!

Buku-buku ini bukan hanya mengajari pentingnya menjadi perempuan yang berdaya dan mewujudkan kesetaraan, tapi juga mengenali batasan, membangun kepercayaan diri, membantu mewujudkan ruang aman, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

Nah, buat kamu yang lagi cari buku bacaan yang bisa membuka perspektif sekaligus insightful, yuk simak rekomendasi buku feminis berikut ini, biar jadi makin paham!

Invisible Women by Caroline Criado Perez

Invisible Women by Caroline Criado Perez menjelaskan data penelitian yang ada sekarang lebih berpihak pada pria sehingga seolah mengabaikan kepentingan perempuan. /Foto: Amazon

Invisible Women by Caroline Criado Perez menjelaskan bahwa ada banyak ketidakadilan yang dialami perempuan akibat data yang lebih berpihak pada standar pria. /Foto: Amazon.com

Buku ini mencoba menjelaskan sesuatu yang mungkin sebelumnya terasa biasa untuk kita, padahal itu adalah sebuah ketimpangan atau ketidakadilan. Ketidakadilan ini terwujud secara sistematis dengan mengabaikan apa yang dialami oleh perempuan karena data yang dikumpulkan dan dianalisis hanyalah data yang berpihak pada standar pria.

Buku Invisible Women akan menunjukkan bahwa sebetulnya dunia sebagian besar hanya dibangun untuk dan oleh laki-laki, dan mengabaikan kepentingan perempuan. Contohnya, ponsel yang dijual saat ini berukuran terlalu besar, apalagi untuk ukuran tangan perempuan yang biasanya lebih kecil.

Caroline Criado Perez melalui buku ini mencoba mengungkap adanya kesenjangan data pada gender yang merupakan akar dari diskriminasi secara sistemik terus menerus terhadap perempuan yang akhirnya menciptakan dampak yang mendalam pada kehidupan perempuan tapi tidak terlihat oleh ‘kacamata’ banyak orang.

We Should All Be Feminists by Chimamanda Ngozi Adichie

Buku We Should All Be Feminists adalah buku berdasarkan esai pribadi Chimamanda Ngozi Adichie yang diadaptasi dari ceramah TEDx berjudul sama./ Foto: Amazon.com

Buku We Should All Be Feminists adalah buku berdasarkan esai pribadi Chimamanda Ngozi Adichie yang diadaptasi dari ceramah TEDx berjudul sama./ Foto: Amazon.com

Buku ini adalah sebuah esai pribadi yang diadaptasi dari speech TEDx berjudul sama yang ramai ditonton banyak orang oleh penulis pemenang penghargaan Chimamanda Ngozi Adichie, yang juga menulis novel berjudul  Americanah dan Half of a Yellow Sun.

Jangan khawatir mengantuk, tegang, atau ngeri saat membahas soal feminisme, karena di buku ini Chimamanda Ngozi Adichie mampu menjelaskan topik feminisme dengan cara yang menyenangkan dan penuh humor.

Chimamanda Ngozi Adichie mengajak kita untuk belajar kembali tentang definisi unik feminisme untuk abad ke-21 yang lebih berakar pada inklusi dan kesadaran. Ia juga mengajak kita untuk sadar bahwa selama ini ‘pandangan laki-laki’ atau male gaze telah menjadi pembentuk pilihan hidup perempuan, yang tentu adalah hal yang tidak baik karena perempuan dan laki-laki adalah individu yang berbeda.

Dalam buku ini, ia juga menyoroti adanya diskriminasi terang-terangan bahkan licik untuk meminggirkan perempuan di seluruh dunia, berdasarkan pengalamannya sendiri baik di Amerika Serikat, di negara asalnya yaitu Nigeria, dan di luar negeri.

Fix the System, Not the Women by Laura Bates

Buku Fix the System, Not the Women by Laura Bates menjelaskan perempuan selalu jadi korban diskriminasi bukan karena ada yang salah dari perilaku perempuan itu sendiri, tapi karena kesalahan sistemik./ Foto: Amazon.com

Buku Fix the System, Not the Women by Laura Bates menjelaskan perempuan selalu jadi korban diskriminasi bukan karena ada yang salah dari perilaku perempuan itu sendiri, tapi karena kesalahan sistemik./ Foto: Amazon.com

Kamu pasti sudah tidak asing dengan komentar yang menyalahkan perilaku perempuan yang jadi korban, seperti berjalan pulang sendirian di malam hari, atau tidak menyerang balik orang yang menyerang mereka. 

Jika isu ini lagi jadi concern yang kamu bahas, kamu cocok banget buat baca buku yang ditulis oleh Laura Bates, karena di sini Laura Bates mengkritik adanya ketimpangan sistemik yang menyebabkan perempuan terus menerus jadi korban diskriminasi dan kekerasan.

Perempuan selalu jadi korban diskriminasi ini ternyata bukan karena ada yang salah dari perilaku perempuan itu sendiri, tapi karena kesalahan sistemik di lima lembaga utama, yaitu pendidikan, politik, media, penegakan hukum, hingga sistem peradilan. 

Di buku ini, Laura Bates akan menyajikan berbagai cerita nyata dan data statistik dan mengungkap akar masalah terhadap hal ini yaitu sistem, dan bukan karena kesalahan perempuan.

The Authority Gap: Why Women Are Still Taken Less Seriously Than Men, and What We Can Do About It by Mary Ann Sieghart

The Authority Gap by Mary Ann Sieghart menjelaskan bias gender, penolakan otoritas dan kekuasaan perempuan di setiap lini kehidupan. / Foto: Amazon.com

The Authority Gap by Mary Ann Sieghart menjelaskan bias gender, penolakan otoritas dan kekuasaan perempuan di setiap lini kehidupan. / Foto: Amazon.com

Melalui buku ini, Mary Ann Sieghart akan mengajak kita untuk memahami adanya bias gender, penolakan otoritas dan kekuasaan perempuan di setiap lini kehidupan, baik dalam budaya pop, media, ruang kelas sekolah, hingga politik.

Contohnya, ketika perempuan mencoba berbicara dalam rapat, ia akan disela oleh rekan kerjanya yang laki-laki, atau seorang klien yang memilih berdiskusi kepada bawahannya yang seorang laki-laki dan bukan kepadanya.

Kisah-kisah ini bukan rekaan melainkan benar-benar terjadi, bahkan Mary Ann Sieghart juga membeberkan bahwa di Mahkamah Agung AS, seorang perempuan yang menjabat sebagai hakim disela empat kali lebih sering daripada rekan kerja laki-laki mereka. 

Luka-Luka Linimasa by Kalis Mardiasih

Buku Luka-Luka Linimasa dari Kalis Mardiasih menjelaskan soal KBGO yang terjadi setiap hari di media sosial dan panduan untuk membangun hubungan sehat. / Foto: Goodreads.com

Buku Luka-Luka Linimasa dari Kalis Mardiasih menjelaskan soal KBGO yang terjadi setiap hari di media sosial dan panduan untuk membangun hubungan sehat. / Foto: Goodreads.com

Buku karya Kalis Mardiasih ini mengungkapkan bahwa setiap hari, linimasa di media sosial seolah menjadi saksi bisu adanya tindakan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). 

Lewat buku ini, kita juga diajak untuk mengidentifikasi apa saja KBGO itu, mulai dari komentar yang melecehkan, penyebaran konten tidak pantas tanpa persetujuan, hingga ancaman yang akhirnya berujung pada kekerasan seksual di dunia nyata.

Selain itu, lewat buku ini kita juga bisa belajar tentang cara membangun hubungan yang sehat dan mewujudkan ruang aman di mana saja, termasuk di media sosial.

Perempuan di Titik Nol by Nawal el Saadawi

Perempuan di Titik Nol by Nawal el Saadawi memberikan gambaran soal kebobrokan masyarakat yang hidup di lingkungan yang didominasi laki-laki./ Foto: Goodreads.com

Perempuan di Titik Nol by Nawal el Saadawi memberikan gambaran soal kebobrokan masyarakat yang hidup di lingkungan yang didominasi laki-laki./ Foto: Goodreads.com

Nawal el Saadawi melalui novel klasik ini mengajak kita untuk mengintip kehidupan Firdaus, seorang perempuan yang divonis hukuman gantung karena membunuh pelaku kekerasan dalam hidupnya.

Dari kehidupan Firdaus, kita bisa mendapat gambaran soal kebobrokan masyarakat yang hidup di lingkungan penuh kekerasan, eksploitasi, dan ketidakadilan terutama dalam masyarakat patriarkal Mesir.

Kisah Firdaus ini seolah jadi sebuah kritik atas ketidakadilan gender dan bagaimana masyarakat yang didominasi laki-laki dapat menghancurkan potensi perempuan dan mencegah perempuan bisa berdaya.

Korpus Uterus by Sasti Gotama

Korpus Uterus adalah novel yang menceritakan tentang Luh yang lahir dari ibu yang tidak menginginkannya, karena ibunya adalah korban pemerkosaan, yang akhirnya membuat Luh memutuskan menjadi seorang ahli aborsi untuk membantu perempuan dengan kehamilan tak diinginkan./ Foto: Goodreads.com

Korpus Uterus adalah novel yang menceritakan tentang Luh yang lahir dari ibu yang tidak menginginkannya, karena ibunya adalah korban pemerkosaan, yang akhirnya membuat Luh memutuskan menjadi seorang ahli aborsi untuk membantu perempuan dengan kehamilan tak diinginkan./ Foto: Goodreads.com

Korpus Uterus adalah novel fiksi karya Sasti Gotama yang menceritakan soal dampak dari pemerkosaan. Novel ini menceritakan kehidupan Luh, perempuan yang kelahirannya tidak pernah diinginkan.

Ibunya adalah korban pemerkosaan, dan sebelum Luh lahir, ibunya berulang-ulang berusaha menggugurkannya namun tidak berhasil.

Hidup diabaikan, tidak mendapat kasih sayang dari ibunya, dan tidak diinginkan membuat Luh lari dari rumah. Pada akhirnya, Luh berubah menjadi ahli aborsi yang lihai usai bertemu perempuan dengan kehamilan tak diinginkan.

Novel ini seolah membawa pesan dan kritik tentang perempuan yang selama ini di kehidupan bermasyarakat sulit meraih kemerdekaannya sendiri. Bahkan, perempuan korban kekerasan tak hanya masih trauma tapi juga kesulitan mendapatkan bantuan dan keadilan bahkan justru mendapat stigma.

Sihir Perempuan by Intan Paramaditha

Sihir Perempuan adalah buku kumpulan 11 cerita pendek penceritaan ulang bernuansa kelam dan horor dengan perspektif feminis. / Foto: Goodreads.com

Sihir Perempuan adalah buku kumpulan 11 cerita pendek penceritaan ulang bernuansa kelam dan horor dengan perspektif feminis. / Foto: Goodreads.com

Di buku yang cukup tipis ini, kita diajak untuk mengintip kehidupan perempuan di tengah kekuasaan dan kesewenang-wenangan aturan yang mengekang kebebasan. 

Uniknya, tokoh-tokoh perempuan di buku ini tidak diceritakan sebagai sosok yang lemah dan hanya bisa berharap untuk ditolong, tapi mereka justru tangguh dan berani memperjuangkan hak mereka dan melawan ketidakadilan yang mereka dapatkan.

Diary of A Void by Emi Yagi

Diary of A Void by Emi Yagi adalah novel yang menceritakan Shibata, karyawan di kantor yang disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan job desc-nya hanya karena ia perempuan, seperti mencuci cangkir dan membagikan camilan./ Foto: Goodreads.com

Diary of A Void by Emi Yagi adalah novel yang menceritakan Shibata, karyawan di kantor yang disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan job desc-nya hanya karena ia perempuan, seperti mencuci cangkir dan membagikan camilan./ Foto: Goodreads.com

Diary of A Void adalah novel pertama karya penulis asal Jepang, Emi Yagi yang merupakan pemenang Dazai Osamu Prize. Novel ini menceritakan seorang karyawan bernama Shibata yang memahami adanya ketidakadilan yang dialami perempuan di ruang profesional seperti di kantor.

Meski bukan job desc-nya, karyawan perempuan yang harus mengurus pekerjaan seperti mencuci cangkir, membuang tumpukan sampah, atau membagikan camilan.

Shibata akhirnya memiliki ide untuk menjadi seorang ibu hamil agar mendapatkan perlakuan yang layak. Ia tak lagi melakukan pekerjaan tambahan seperti sebelumnya hingga menikmati momen seperti mengikuti kelas aerobik yang diikuti para ibu hamil.

Itu tadi Beauties, deretan buku soal feminisme yang bisa kamu baca untuk menambah insight baru sekaligus membuat perayaan International Women’s Day (IWD) jadi semakin bermakna. Selamat membaca!

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE