9 Tradisi Menyambut Tahun Baru Islam di Indonesia

Natasha Riyandani | Beautynesia
Selasa, 16 Jun 2026 09:00 WIB
1. Pawai Obor
Foto: Rini Apriliani/Beautynesia

Sebagai negara dengan keberagaman budaya dan agama, Indonesia memiliki banyak tradisi dan ritual unik dalam menyambut hari besar keagamaan, termasuk Tahun Baru Islam. Bukan hanya kegembiraan, tradisi ini juga mencerminkan nilai-nilai spiritual dan kekayaan budaya lokal.

Mulai dari ritual doa bersama, pawai obor, hingga kirab budaya menjadi bentuk syukur atas datangnya tahun yang baru.

Berikut adalah 9 tradisi menyambut Tahun Baru Islam di Indonesia, yang masih dilestarikan sampai saat ini seperti dilansir dari detikHikmah. Simak!

1. Pawai Obor

Isra Miraj diperingati dengan beragam tradisi penuh makna di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa tradisi unik peringatan Isra Miraj, seperti rejeban peksi buraq, Nyadran, hingga kenduri.

Foto: Rini Apriliani/Beautynesia

Di sebagian besar daerah di Indonesia, pawai obor telah menjadi acara tahunan yang tak terpisahkan dalam rangka memeriahkan perayaan Tahun Baru Islam. Masyarakat dari berbagai kelompok usia dengan kompak mengenakan pakaian Muslim sambil berpawai memegang obor.

Tak hanya berkumpul di satu titik, masyarakat biasanya akan jalan-jalan mengelilingi kampung atau desa untuk merayakan Tahun Baru Islam. Pawai obor kerap diiringi lantunan selawat atau pujian kepada Rasulullah saw.

Selain itu, di beberapa daerah juga dimeriahkan dengan pertunjukan budaya, tarian tradisional, dan kembang api.

2. Mabit di Masjid

Ilustrasi mabit di masjid/ Foto: Pexels.com/Alena Darmel

Selain pawai obor, salah satu tradisi menyambut 1 Muharram yang populer di Indonesia adalah kegiatan mabit di masjid. Mabit merupakan singkatan dari ‘Malam Bina Iman dan Takwa’. Kegiatan ini berupa menginap atau bermalam dengan agenda utamanya memperbanyak ibadah, muhasabah, kajian keislaman, serta zikir dan berdoa.

Selama berdiam diri di masjid, masyarakat juga bisa berpuasa, mendirikan salat sunnah, serta salat fardu berjamaah. Tujuannya untuk membersihkan jiwa dan membiasakan diri untuk disiplin beribadah.

3. Berziarah di Gunung Tidar

Ilustrasi berziarah/ Foto: Pexels.com/Arbiansyah Sulud

Masyarakat di sekitar lokasi wisata Kebun Raya Gunung Tidar, Magelang, Jawa Tengah, juga memiliki tradisi unik dalam menyambut Tahun Baru Islam. Mereka biasanya mengadakan ziarah yang digelar setiap malam 1 Suro atau 1 Muharram dalam kalender Hijriah.

Dalam pelaksanaan tradisi ziarah di Gunung Tidar ini, masyarakat akan beramai-ramai menyambangi makam para leluhur untuk memanjatkan doa, membaca Al-Qur’an, hingga membersihkan makam.

Adapun makam yang biasanya disambangi untuk berziarah seperti makam Syekh Subakir, Kyai Sepanjang, dan Kiai Semar, yang dulunya ikut menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa.

4. Kirab Budaya 1 Suro di Jawa

Kirab budaya 1 Suro/ Foto: detikJateng/Tara Wahyu NV

Malam 1 Suro merupakan malam sakral bagi masyarakat Jawa, menandai pergantian tahun baru dalam kalender Jawa. Momen ini pun bertepatan dengan 1 Muharram atau Tahun Baru Islam, di mana perayaan keduanya sering dikaitkan bersama.

Perayaan ini diisi dengan serangkaian kegiatan utama, di antaranya kirab pusaka, laku prihatin dan tirakatan, tapa bisu, serta kenduri dan larungan. Tradisi ini pun menjadi simbol akulturasi antara ajaran Islam dan budaya Jawa. Perayaannya tidak hanya meriah, tetapi juga kental dengan nilai spiritual, doa, dan refleksi diri.

Diketahui, tradisi kirab budaya 1 Suro pertama kali dicetuskan pada abad ke-17 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram Islam, yang menyatukan kalender Hijriah dengan penanggalan Saka Jawa.

5. Mubeng Beteng, Yogyakarta

Mubeng Beteng/ Foto: detikCom/Masaul

Kegiatan tahunan dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram, masyarakat Yogyakarta merayakannya dengan menggelar tradisi sakral Mubeng Beteng atau Lampah Ratri.

Mubeng beteng merupakan tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta dalam suasana hening (topo bisu), tertib, dan khidmat. Keheningan ini dimaknai sebagai sarana introspeksi diri atas perjalanan hidup selama setahun terakhir sertaa munajat kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memohon kesalamatan, kedamaian, dan keberkahan pada yang akan datang.

Tradisi ini bukan merupakan Hajad Dalem atau hajatan Keraton, melainkan Hajad Kawula Dalem, yaitu hajatan yang diadakan dan dilaksanan oleh para abdi dalem sehingga bisa diikuti oleh masyarakat umum.

Mubeng Beteng biasanya dimulai pada malam hari, tepat menjelang pergantian tahun baru Islam. Dimulai dan diakhiri di Kagungan Dalem Kemagangan (Keraton Yogyakarta) dan rutenya mengitari benteng keraton searah atau berlawanan jarum jam.

6. Suroan, Klaten

Ilustrasi tradisi suroan di Klaten/ Foto: Pexels.com/Farrukhjon Tojidinov

Pada bulan Muharram, masyarakat Klaten di Jawa Tengah biasa menggelar tradisi suroan. Tradisi turun-temurun ini biasanya diadakan pada hari ketujuh bulan Muharram.

Menariknya, pada malam suroan ini, sebagian besar warga tidak tidur selama 24 jam. Mereka sengaja terjaga semalam suntuk agar dapat melakukan laku prihatin, yaitu perenungan mendalam tentang berbagai hal yang berkaitan dengan perasaan diri atau muhasabah.

7. Ledug Suro, Magetan

Ledug Suro/ Foto: detikcom/Sugeng Harianto

Selanjutnya di Magetan, Jawa Timur, masyarakat biasanya merayakan Tahun Baru Islam dengan Ledug Suro. Nama “Ledug” sendiri merupakan singkatan dari perpaduan seni perkusi Lesung dan Bedug.

Tradisi warisan leluhur ini sangat dinanti warganya karena terdiri dari serangkaian acara yang seru dan meriah, seperti atraksi musik, tarian tradisional, dan kirab budaya. Puncak acaranya adalah pembagian ribuan kue bolu kepada masyarakat yang dipercaya membawa berkah, yang dikenal dengan tradisi Bolu Ledug.

8. Barikan, Pati

Barikan/ Foto: detikcom/Ardian Fanani

Masyarakat Pati di Jawa Tengah menggelar tradisi barikan untuk menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram. Tradisi ini dilakukan dengan warga berkumpul bersama di jalanan desa atau tempat terbuka lainnya pada malam hari, biasanya setelah Maghrib atau Isya, dengan beralaskan tikar.

Setiap keluarga membawa nasi dan lauk pauk dari rumah. Makanan tersebut nantinya dikumpulkan, lalu didoakan oleh pemuka agama setempat, dan dimakan bersama-sama.

Tradisi ini bukan sekedar makan bersama, tetapi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan memperkuat kebersamaan antarwarga.

9. Ritual Malam 1 Suro di Gunung Lawu

Ilustrasi berziarah di Gunung Lawu/ Foto: Pexels.com/Tom Fisk

Pada malam 1 Suro, masyarakat sekitar Gunung Lawu memiliki tradisi mendaki Gunung Lawu lewat berbagai jalur yang tersedia.

Ritual malam yang dilakukan biasanya berupa pembacaan doa, menyalakan dupa di sekitar puncak, dan berziarah untuk menghormati Prabu Brawijaya V atau Sunan Gunung Lawu.

Tradisi ini tak hanya diikuti masyarakat sekitar saja, tetapi juga pendaki yang datang khusus ke Gunung Lawu pada 1 Muharram.

Nah, itulah beberapa tradisi menyambut Tahun Baru Islam dari berbagai daerah di Indonesia. Kalau tradisi di daerahmu seperti apa, Beauties?

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana kamu bisa ikutan berbagai online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki komunitas khusus untuk kamu yang masih berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)
Komentar
0 Komentar TULIS KOMENTAR
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.

RELATED ARTICLE