Saat seseorang bekerja, baik melakukan suatu usaha secara mandiri maupun menjadi pegawai di suatu perusahaan, tentunya akan ada kontra prestasi yang akan diterima sebagai hasil dari pekerjaan yang dilakukan. Yap, kontra prestasi tersebut adalah gaji yang diterima dan biasanya diberikan setiap bulan. Hari gajian pun bermacam-macam, tergantung kebijakan dari perusahaan tempat orang tersebut bekerja. Bisa di awal, tengah, bahkan akhir bulan.
Seringkali, saat melihat saldo ATM yang besar, kita jadi tergoda untuk mengeluarkannya. Mulai dari hangout ke mall bersama teman-teman dan mencoba cafe baru yang hits di instagram, membeli gadget atau fashion items yang sudah lama jadi incaran, sampai akhirnya membeli hal-hal kecil yang sebenarnya tidak kamu butuhkan. Alhasil, belum sampai sebulan, gajimu sudah ludes dan akhirnya “penyakit tanggal tua” pun muncul, dimana kamu harus ekstra ngirit dan sampai berjuang untuk meminimalisir penggunaan uang sampai nanti tiba hari gajian. Waduh, nyiksa banget nggak sih?
Nah, supaya kamu bisa hidup sejahtera sampai waktunya gajian tiba, kamu perlu kiat-kiat untuk menata keuangan setelah gajian, nih. Berikut caranya:
1. Pisahkan Antara Keinginan dan Kebutuhan
Saat gajian, biasanya kamu akan kalap dan sulit menahan hasrat untuk menghambur-hamburkan uangmu. Saat uangmu sudah tiris, baru deh kamu sadar kalau sebenarnya kamu nggak butuh-butuh banget sama apa yang sudah kamu beli. Sebelum kamu menyesal, sebaiknya sebelum kamu mengeluarkan uangmu, kamu susun dulu skala prioritasmu.
Caranya gampang, kok. Kamu bisa menulis di notes atau membuat list di handphone, kira-kira apa saja yang kamu butuhkan dan yang kamu inginkan. Kebutuhanmu itu contohnya saja ongkos dalam sebulan kerja, uang makanmu selama sebulan, dan tagihan-tagihan jika kamu sedang menyicil sesuatu, seperti cicilan rumah, kendaraan, atau gadget.
Jangan lupa juga untuk menabung, ya! Lalu, jika gajimu masih memiliki sisa setelah dikurangi dengan kebutuhanmu, baru deh, kamu bisa membeli apa yang menjadi keinginanmu, misalnya untuk pergi ke salon, mencoba kuliner di tempat yang sudah kamu incar, atau membeli novel kesukaan.
2. Buat Catatan Pemasukan dan Pengeluaran
Biasanya, faktor seseorang akhirnya menjadi boros adalah karena orang tersebut tidak memiliki catatan keuangan, sehingga ia tidak sadar, berapa banyak uang yang sudah ia keluarkan. Untuk itu, kamu perlu untuk membuat catatan pemasukan dan pengeluaran. Catatan tersebut penting untuk membantumu melihat sirkulasi keuanganmu sehari-hari, menjadi bahan evaluasimu, dan nantinya kamu bisa lebih bijak dalam menggunakan uangmu.
Tidak perlu format yang baku atau terlalu rumit seperti buku besar akuntansi. Kamu bisa kok, membuat rekap per hari, per minggu, atau per bulan. Semakin detail dan rutin kamu mencatat pemasukan dan pengeluaranmu, semakin baik. Kamu bisa membuatnya secara manual, atau manfaatkan teknologi seperti aplikasi pengelola keuangan di handphone yang bisa kamu install.
3. Gunakan Metode 50/20/30
Bagi kamu yang asing dengan metode ini, ini merupakan metode dalam pengelolaan keuangan yang dipopulerkan oleh Elizabeth Warren. Metode ini menjabarkan pengalokasian uangmu, dimana 50% untuk kebutuhan primer, 20% untuk investasi, dan 30% untuk kebutuhan sekunder dan tersier, seperti lifestyle. Jika kamu sudah membagi gajimu dalam 3 pos seperti metode ini, biasanya kamu akan lebih mudah menggunakan uangmu dan tidak akan berfoya-foya sampai uangmu habis, karena alokasi uangmu sudah lebih jelas.
4. Perbaiki Mindset
Terakhir, yang harus kamu lakukan adalah: atur dan perbaiki selalu mindset atau pola pikirmu. Kunci dari keberhasilanmu menata keuangan adalah jika pola pikirmu sudah baik dan tidak terfokus pada “bagaimana cara mengeluarkan uang”, tapi “bagaimana cara menata keuangan dan menjadi lebih baik setiap harinya”. Percuma saja kamu memiliki banyak tips untuk mengelola keuangan, kalau kamu tidak memiliki tekad yang kuat serta komitmen untuk menjalani niatanmu. Konsisten juga merupakan rahasia keberhasilanmu.