Buku The Let Them Theory karya Mel Robbins belakangan menjadi salah satu bacaan self-help yang ramai diperbincangkan, terutama di kalangan dewasa muda dan Gen Z. Di Indonesia, buku ini bahkan telah terjual lebih dari 1.000 eksemplar dan menjadi salah satu judul yang sering muncul dalam rekomendasi buku self-help di media sosial.
Banyak pembaca penasaran dengan let them theory karena konsepnya terdengar sederhana, tetapi dianggap mampu membantu seseorang menghadapi hubungan yang melelahkan, ekspektasi berlebihan, hingga kebiasaan overthinking.
Meski terdengar seperti sekadar membiarkan orang lain bertindak sesuka hati, teori ini sebenarnya mengajarkan batasan yang sehat agar energi emosional tidak habis untuk mengendalikan sesuatu yang memang bukan menjadi tanggung jawab kita.
Melansir dari Verywell Mind, berikut penjelasan lengkap mengenai let them theory, mulai dari pengertiannya, manfaat, kelemahan, dampaknya terhadap hubungan dan kesejahteraan mental, hingga cara menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pengertian Let Them Theory
|
Pengertian let them theory/Foto: Magnific.com/pikisuperstar |
Let them theory dipopulerkan oleh penulis dan motivator Mel Robbins melalui bukunya The Let Them Theory. Inti dari teori ini dapat diringkas dalam dua langkah sederhana, yaitu Let Them dan Let Me.
Ketika seseorang memilih pergi, berbeda pendapat, tidak menyukai kita, atau mengambil keputusan yang tidak sesuai harapan, respons pertama adalah membiarkan hal tersebut terjadi (let them). Setelah itu, langkah berikutnya adalah menentukan tindakan terbaik untuk diri sendiri (let me), misalnya menjaga batasan, menerima kenyataan, atau melanjutkan hidup tanpa terus memikirkan pendapat orang lain.
Pendekatan ini juga sering dikaitkan dengan praktik mindfulness karena sama-sama mengajarkan penerimaan terhadap hal-hal yang berada di luar kendali. Dengan menerima kenyataan tanpa terus melawan keadaan, kita dapat mengurangi beban emosional dan lebih fokus pada langkah yang benar-benar memberikan dampak positif bagi kehidupan kita.