sign up SIGN UP

BOLD MY LIPS

Arlin Ayin: Nggak Ada yang Bisa Membenarkan Kekerasan dalam Suatu Hubungan

Sierra Muktisari | Sabtu, 13 Nov 2021 14:30 WIB
Arlin Ayin: Nggak Ada yang Bisa Membenarkan Kekerasan dalam Suatu Hubungan
caption
Jakarta -

Beauties, kasus kekerasan di mana korbannya adalah perempuan masih banyak terjadi pada kehidupan sehari-hari. Mulai dari kekerasan fisik hingga kekerasan psikis, perempuan yang menjadi korban kerap merasa takut untuk mengungkap kebenaran.

Padahal, kekerasan merupakan sesuatu yang tak sepatutnya terjadi, khususnya pada perempuan. Terlebih, berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan akan berdampak buruk, mulai dari rasa tak berdaya hingga trauma yang mendalam.

Menanggapi hal tersebut, Beautynesia melalui #BoldMyLips mengajak seluruh perempuan untuk lebih berani menyuarakan pandangan untuk melindungi perempuan dari berbagai tindak kekerasan.

Content creator sekaligus Mental Health Enthusiast Arlin Aulia Andayu, S.Psi atau Arlin Ayin menyampaikan pandangannya terkait kekerasan dalam perempuan, khususnya mereka yang ada dalam hubungan pernikahan atau pacaran yang tergolong toxic atau abusive.

Melalui platform YouTube, Instagram, serta TikTok, ia juga aktif berbagi pengetahuan tentang kesehatan mental, termasuk hal-hal yang relate dengan toxic relationship.

Penyebab Perempuan Menjadi Korban Kekerasan dalam Hubungan

Menurut Arlin Ayin, penyebab perempuan menjadi korban kekerasan dalam hubungan khususnya pacaran adalah adanya ketidaksetaraan gender. "Masih banyak yang menganggap kalau perempuan itu lebih rendah kedudukannya dari laki-laki.

Perempuan dianggap makhluk lemah dan laki-laki dianggap lebih berkuasa daripada perempuan. Padahal, perempuan dan laki-laki itu sama dan setara. Nggak hanya itu, perempuan kerap kali disalahkan juga karena pakaian yang digunakan. Akhirnya, terjadi victim blaming," jelasnya.

[Gambas:Instagram]



Bisa dilihat pada contoh beberapa kasus pelecehan seksual, di mana poin berupa pakaian perempuan dijadikan 'alasan' mengapa tindakan pelecehan terjadi. Padahal, hal tersebut tak menjadi konteks yang tepat untuk dijadikan alasan perbuatan tersebut.

Mengapa Perempuan Sulit Keluar dari Abusive atau Toxic Relationship?

Meski beberapa hubungan pacaran menunjukkan adanya tindak kekerasan di mana korbannya adalah perempuan, masih banyak perempuan yang nggak berani untuk lepas dari hubungan tersebut.

"Memang nggak mudah untuk bisa lepas dari hubungan berkekerasan. Apalagi biasanya si pacar akan memberikan ancaman pada korban. Misalnya, akan menyebarkan foto-foto, menjelekkan ke orang-orang lain, bahkan mengancam bunuh diri jika diputuskan.

Hal ini membuat korban merasa takut untuk keluar dari hubungan toxic dan abusive. Kadang, bentuk kekerasan yang nggak terlihat juga membuat korban nggak menyadari bahwa sebenarnya hubungannya berkekerasan.

Misalnya kekerasan psikologis dalam pacaran yang bentuknya seperti mengontrol penuh pasangan, mengancam, menjelekkan pasangan, dan berbagai jenis manipulasi lain," tuturnya.

[Gambas:Instagram]



Hal tersebut pernah dialami Arlin sendiri. Ia pernah berada di posisi dalam suatu hubungan, di mana ia selalu 'dikontrol' oleh pacar, mendapat larangan untuk bertemu teman-teman lain terutama lawan jenis, hingga ancaman jika ingin mengakhiri hubungan tersebut.

Perlu diketahui, tindakan kekerasan memang tak melulu soal fisik, Beauties. Kekerasan yang tak terlihat atau kekerasan psikologis kerap kali terjadi, meski beberapa korban mungkin tak menyadari karena dirasa hal tersebut tak berkaitan dengan fisik.

Korban yang Takut Melapor

Kasus kekerasan pada perempuan di Indonesia sendiri sudah banyak yang terjadi. Menurut hasil Catatan Tahunan Komnas Perempuan Tahun 2020, terdapat kasus kekerasan dalam pacaran.

"Sangat memprihatinkan ya, apalagi sepertinya belum ada payung hukum untuk kekerasan dalam pacaran, nggak seperti kasus-kasus KDRT. Data yang diperoleh dari lembaga mitra sebanyak 1.815 kasus.

Dan yang melakukan laporan secara langsung kepada komnas perempuan ada 193 kasus dari 944 kasus dan menjadi kasus kekerasan terbanyak kedua setelah KDRT. Mungkin juga banyak dari korban lain yang nggak berani melapor karena alasan tertentu," ungkap Arlin.

Alasan lain yang membuat korban sulit untuk lepas dari hubungan berkekerasan adalah adanya ketakutan akan rasa kesepian. "Takut jika tidak punya pasangan lagi, takut akan kesendirian. Apalagi jika selama ini sudah sangat bergantung dengan pasangan, baik secara emosional maupun finansial.

Berharap pasangan akan berubah juga membuat korban sulit untuk lepas karena masih berharap bahwa pasangan akan berubah. Biasanya, korban juga tetap stay di hubungan karena merasa sudah tidak berharga dan tidak ada lagi yang mau menerima," jelasnya.

Jangan Ragu untuk Mengakhiri Hubungan yang Diwarnai Kekerasan

Arlin pun mengingatkan untuk semua perempuan yang masih merasa ragu atau terjebak di hubungan yang diwarnai kekerasan. "Siapapun kamu, apapun masa lalumu, kamu berharga dan berhak bahagia dalam diperlakukan dengan baik dalam hubungan yang sehat.

[Gambas:Instagram]



Untuk yang mungkin masih terjebak dalam hubungan berkekerasan, jangan ragu untuk mengakhiri hubungan ini. Sebab, nggak ada yang dapat membenarkan adanya kekerasan dalam suatu hubungan," pesannya.

Jika kamu saat ini tengah mengalami kondisi di mana kamu terjebak dalam hubungan yang menunjukkan tindak kekerasan jangan ragu untuk meminta bantuan ataupun pergi dari hubungan tersebut ya, Beauties!

------------

Ingin jadi salah satu pembaca yang bisa ikutan beragam event seru di Beautynesia? Yuk gabung ke komunitas pembaca Beautynesia B-Nation. Caranya DAFTAR DI SINI!

(sim/sim)

Our Sister Site

mommyasia.id