sign up SIGN UP

Beauty Standard Alias Standar Kecantikan Sia-Sia untuk Diikuti, Ini Alasannya!

Camellia Ramadhani | Beautynesia
Jumat, 29 Apr 2022 13:00 WIB
Beauty Standard Alias Standar Kecantikan Sia-Sia untuk Diikuti, Ini Alasannya!
Jakarta -

Media sosial telah mengubah pandangan perempuan tentang standar kecantikan atau beauty standard. Akibatnya, banyak orang merasa tidak percaya diri dengan penampilannya sendiri.

Padahal, minder karena beauty standard itu sia-sia, lho! Jika kamu memaksakan diri untuk mengikutinya, pengorbanan yang kamu keluarkan tidak sebanding dengan manfaat yang akan kamu dapatkan. Kamu belum tentu mendapat pengakuan sesuai ekspektasi meski sudah mati-matian mengubah diri.

Berikut ini adalah 4 alasan kenapa beauty standard sia-sia untuk diikuti. Yuk, catat dan ingat!

Beauty Standard Itu Bias Budaya

Ilustrasi Kecantikan Beragam/Foto: Canva/Delmain Donson
Ilustrasi Kecantikan Beragam/Foto: Canva/Delmain Donson

Banyak orang percaya bahwa kecantikan seseorang bergantung pada penilaian budaya. Sebagian besar orang Asia mungkin setuju bahwa perempuan yang cantik harus berkulit putih. Namun, sebuah jurnal di Pubmed yang berjudul Indoor Tanning Knowledge, Attitudes, and Behavior Among Young Adults From 1988-2007 mengatakan bahwa sebagian besar orang Amerika Serikat setuju bahwa kulit gelap justru lebih menarik dibanding kulit pucat.

Penelitian yang dilakukan oleh June K Robinson, Julie Kim, Sara Rosebaum dan Sara Ortiz ini menunjukkan bahwa 81 persen perempuan merasa mereka lebih seksi ketika melakukan tanning atau prosedur menggelapkan kulit.

Dilansir dari laman Psychology Today, Judy Scheel Ph.D., L.C.S.W., CEDS mengatakan bahwa masyarakat cenderung mengikuti bagaimana penampilan dari figur kecantikan yang sering muncul di media. Di Asia, figur-figur yang tampil di televisi memiliki kulit putih, karena kulit putih sejak dahulu menyiratkan kesejahteraan dan kulit gelap menyiratkan ketidakmampuan diri membeli produk perawatan. Sebaliknya, figur-figur yang tampil di media barat sangat banyak menghadirkan sosok Kaukasia yang menggelapkan kulitnya karena orang yang berkulit gelap di Amerika Serikat dianggap tampak lebih sehat.

Kalau cantik itu tidak tetap di masing-masing budaya, lebih baik pertahankan keunikanmu sendiri saja!

Beauty Standard Selalu Berubah Menyesuaikan Zaman

Ilustrasi Baju Victoria/Foto: Canva/pixelshot
Ilustrasi Baju Victoria/Foto: Canva/pixelshot

Beauty standard selalu berubah dari masa ke masa. Dilansir dari laman CNN, perempuan yang berbadan gemuk dianggap cantik di abad ke 17-an karena dianggap dapat menghasilkan banyak keturunan. Di era Victoria tahun 1800-1900, perempuan cantik adalah mereka yang berkulit pucat dan punya pinggang sangat kecil. Jika tahun 1970 media dipenuhi selebriti berbadan kurus, tahun 1990-an para model berbadan atletis adalah panutan setiap perempuan.

Jika dilihat saat ini, setiap orang memiliki referensi tubuh idealnya sendiri-sendiri, tapi bukan berarti mereka tidak punya keinginan mengubah fisik alaminya. Padahal, perubahan ekstra yang kamu upayakan hari ini untuk mencapai tubuh ideal idamanmu belum pasti menjadi tipe ideal di masa yang akan datang.

Ini menjadi salah satu alasan mengapa beauty standard sia-sia untuk diikuti. Yakin fisikmu kuat selalu diubah mengikuti pergantian tren?

(naq/naq)

Our Sister Site

mommyasia.id